Angkatan Perang Ratu Adil Hancur di Cianjur

Senin, 24 Januari 2022 06:06 Reporter : Merdeka
Angkatan Perang Ratu Adil Hancur di Cianjur Westerling. resources21.kb.nl

Merdeka.com - Usai mengacaukan Bandung, anak buah Westerling bergerak ke Jakarta. Tak sempat sampai, karena diadang para prajurit Siliwangi.

Penulis: Hendi Jo

Bandung, 23 Januari 1950. Gerakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) sukses menuai teror di kota kembang. Selain menewaskan belasan warga sipil, para serdadu yang merupakan anak buah Kapten R.P.P. Westerling itu juga telah membunuh 79 prajurit Divisi Siliwangi, termasuk Letnan Kolonel Adolf Gustaaf Lembong.

"Namun kami berhasil menggagalkan mereka menguasai Bandung," ungkap O. Soedarja, eks anggota Seksi I (intelijen) Divisi Siliwangi.

Usai kegagalan itu, pasukan APRA cepat berkoordinasi. Mereka lantas bergerak menuju Jakarta dengan memakai rute Padalarang-Cianjur. Itu terjadi karena isu yang beredar di jalur Padalarang-Purwakarta pasukan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) sudah siap mengadang sekaligus menghabisi mereka.

Iring-iringan konvoi pasukan APRA di bawah pimpinan Komisaris Polisi J.H. Van der Meulen itu kabur dari Bandung dengan menggunakan 10 truk dan satu kendaraan pikap. Kekuatan mereka terdiri dari anggota KNIL, KST (Korps Pasukan Khusus: Baret Hijau dan Baret Merah serta dan Polisi Negara Pasundan.

"Orang-orang APRA itu bersenjata cukup lumayan: 3 brengun, 4 senapan mesin 12,7 dan puluhan karaben," ungkap Soedarja.

Tidak ingin kehilangan buruan, Markas Staf Kwartier Divisi Siliwangi yang baru saja dibebaskan langsung mengontak Batalyon H pimpinan Mayor Sutoyo. Sebagai pasukan organik APRIS yang ditempatkan di wilayah Cianjur, Yon H pun bersiap dengan menempatkan Peleton-3 pimpinan Letnan Dua Furqon di jalan besar sekitar Stasiun Cipeuyeum. Sementara untuk menutup jalur alternatif menuju Jakarta via Cikalong-Mande ditempatkan Peleton-1 di bawah pimpinan langsung komandan kompi Letnan Satu Siradz dan Danton-1 Letnan Dua Barnas.

"Jika di Cipeuyeum lolos, pasukan APRA itu akan dihajar oleh Peleton-2 pimpinan Letnan Dua Yusuf," ujar Soedarja.

Menjelang tengah malam, konvoi APRA masuk dalam killing ground. Begitu menaiki jalan yang agak menanjak sebelum pintu kereta api dekat Stasiun Cipeuyeum, hujan peluru dari Peleton-3 langsung menyambut kedatangan mereka. Tak ada jalan lain, para prajurit APRA harus bertahan di dalam kendaraan masing-masing. Dengan membalas secara membabibuta, akhirnya mereka lolos juga.

Tiba di Ciranjang, siraman peluru lagi-lagi menerjang posisi mereka. Kali ini 'tembakan selamat datang' dilakukan oleh Peleton-2 yang dipimpin Letnan Dua Yusuf. Mungkin karena lebih awas, perlawanan APRA di Ciranjang ternyata berlangsung alot.

"Akhirnya Ciranjang juga bobol diterobos APRA dengan perlawanan yang hebat lalu mereka terus menerobos ke jurusan Cianjur," demikian menurut Kolonel (Purn) Mohamad Rivai dalam biografinya, Tanpa Pamrih Kupertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

2 dari 2 halaman

APRA Menyerah

Sadar akan menghadapi berbagai killing ground, sebelum masuk Cianjur, konvoi pasukan APRA itu membelok ke kanan jalan menuju arah Mande. Namun baru beberapa kilometer dari jalan besar, di pintu gerbang Perkebunan Karet VADA konvoi APRA diadang oleh pasukan Letnan Satu Siradz.

Dengan sikap tenang, Van der Meulen yang duduk di bagian depan mobil pikap memberi tangan kepada Letnan Siraz. Begitu ditanya tujuan, inspektur polisi Negara Pasundan itu mengatakan bahwa mereka diperintahkan oleh Panglima Divisi Siliwangi untuk mengejar 'buronan APRA' yang disinyalir bertahan di Perkebunan Kiara Payung.

"Baik tapi kalau tuan-tuan mau selamat, saya akan periksa dulu seluruh kendaraan dan lebih dahulu menelepon Tuan Klassen (Adminisratur Perkebunan Kiara Payung) untuk memberitahukan kedatangan tuan-tuan," ujar Siradz.

Van der Meulen setuju. Dalam sorotan cahaya bulan, tampak oleh Siradz genangan darah dan orang-orang terluka parah ada di hampir semua truk. Sementara di samping mereka prajurit-prajurit yang kelelahan dan bermuka sangar, menatap tajam Siradz dengan senjata siap ditembakan.

Naluri Siradz menyatakan bahwa dia harus memberikan komando kepada anak buahnya yang sudah siap bertempur di sekeliling tempat itu. Namun begitu mengeluarkan teriakan 'gempur', tiba-tiba Van der Meulen mengeluarkan brengun-nya dan menembakkan senjata berat itu ke arah Siraz. Untung-lah dia sigap dan cepat tiarap, hingga peluru-peluru yang ditembakan sekira 7 meter dari dirinya itu hanya berdesing di atas kepalanya.

Pertempuran jarak dekat pun terjadi dengan hebat. Karena kalah persenjataan dan faktor kelelahan, pasukan APRA pun kabur menuju perkebunan. Pergerakan mereka lantas diburu oleh Peleton-3 dari Kompi III pimpinan Letnan Dua Bustaman.

"Kami mensinyalir bahwa dari Perkebunan VADA, APRA menuju Hutan Bakong sebelah timur Cipanas dan sebelah barat Perkebunan VADA," ujar Bustaman.

Anggapan Bustaman ternyata salah. Mereka justru bergerak ke arah Maleber dan Pasir Sarongge dengan menyeberangi jalan utama Cianjur-Cipanas. Tanpa ampun, para prajurit APRA itu pun terus diburu.

"Di Pasir Sarongge mereka terjebak medan yang berat dan salah satu dari truknya malah masuk ke jurang," ungkap Soedarja.

Merasa tak memiliki harapan, para prajurit APRA itu pun menyerah kepada para pemburunya. Mereka lantas dibawa kembali ke Bandung untuk diserahkan kepada pihak militer Belanda, kecuali Van der Meulen. Tangan kanan Westerling itu dibawa ke Sukanagara dan dihabisi nyawanya di wilayah yang terletak di selatan Cianjur itu.

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini