3 Oktober 1965: Penemuan 7 Jenazah Korban G30SPKI di Lubang Buaya

Senin, 3 Oktober 2022 05:05 Reporter : Edelweis Lararenjana
3 Oktober 1965: Penemuan 7 Jenazah Korban G30SPKI di Lubang Buaya lubang buaya. istimewa

Merdeka.com - Pada 3 Oktober 1956 adalah hari di mana 7 korban kekejaman Gerakan 30 September PKI (G30SPKI) ditemukan di Lubang Buaya, Jakarta Timur. G30SPKI tak diragukan lagi adalah salah satu sejarah kelam bangsa Indonesia yang akan selalu dikenang dengan perasaan pahit. Dalam gerakan ini, sebanyak 6 Jenderal dan 1 Perwira TNI AD tewas mengenaskan.

Tujuh anggota TNI AD tersebut adalahJenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal Raden Soeprapto, Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono, Mayor Jenderal Siswondo Parman, Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan, Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo, dan Lettu Pierre Andreas Tendean yang diculik dari kediaman masing-masing.

Ketujuhnya kemudian dinobatkan sebagai Pahlawan Revolusi oleh Pemerintah Indonesiasesuai Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 111/KOTI/1965 tanggal 5 Oktober 1965 oleh Presiden Sukarno. Lantas, bagaimana kronologi penemuan mayat para anggota TNI AD yang menjadi korban pemberontakan G30SPKI itu? Ini laporan selengkapnya.

2 dari 4 halaman

Peran Penting Agen Polisi Dua Soekitman

Soekitman adalah seorang Agen Polisi Dua yang berperan penting dalam penemuan jasad para anggota TNI AD, lokasi persis tempat dikuburkannya para korban berhasil diketemukan.

Soekitman sendiri sempat ikut diculik oleh Pasukan Pasopati ke Lubang Buaya kala berpatroli di sekitar kediaman DI Pandjaitan di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan tanggal 1 Oktober 1956 subuh hari.

Soekitman pada akhirnya berhasil kabur dari aksi penculikan tersebut dan melarikan diri. Soekitman ditemukan oleh Patroli Resimen Tjakrabirawa. Hal ini tertulis dalam buku Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa: Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66 oleh Maulwi Saelan. 

Setelah ditemukan oleh patroli Resimen Tjakrabirawa, Soekitman lalu dibawa ke markas Resimen Tjakrabirawa yang berada di sebelah Istana Negara (sekarang gedung Bina Graha). Di sana, Soekitman diperiksa dan diinterogasi.

pada tanggal 2 Oktober 1965, Sukitman bersama hasil pemeriksaannya diserahkan kepada Kodam V Jaya (Pangdamnya waktu itu, Mayjen TNI Umar Wirahadikusuma). Selanjutnya Sukitman diserahkan kepada Kostrad, di mana waktu itu Pangkostrad dijabat oleh Mayjen TNI Soeharto.

Setelah mempelajari keterangan Sukitman, Maulwi Saelan bersama Letna Kolonel AH Ebram dan Sersan Udara PGT Poniran berangkat menuju Halim Perdanakusuma.

3 dari 4 halaman

Kisah Pencarian di Lubang Buaya

Ketujuh jenazah anggota TNI AD yang menjadi korban kekejaman PKI ditemukan di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timurpada 3 Oktober 1965. Tak seperti saat ini, kala itu Lubang Buaya adalah daerah sepi yang didominasi oleh kebun dan hutan.

Di desa Lubang Buaya pun hanya terdapat 13 rumah yang posisinya terpencar dan saling berjauhan. Hal inilah yang menjadikan kawasan Lubang Buaya sebagai tempat ideal bagi para simpatisan PKI untuk berkumpul.

Tentu tak mudah bagi tim pencari untuk menemukan letak persis para jenderal dan perwira yang menjadi korban penculikan, penyiksaan dan pembunuhan itu. Soekitman juga tak tahu persis di mana tempatnya. Namun, dibantu oleh warga, regu pencari akhirnya menemukan titik terang.

Adalah sebuah gundukan yang nampak baru di dekat sebuah pondok kecil dengan pohon besar di depannya. Di sekitarnya, terdapat sebidang tanah kosong dengan tanda mencurigakan seperti baru digunakan. Setelah dikorek-korek, pada tanah kosong yang dipenuhi tumpukan daun-daunan itu ditemukan permukaan lubang sebuah sumur tua. 

4 dari 4 halaman

Jasad di Dalam Sumur Tua

Para personel Peleton 1 Kompi Tanjung terus menggali lubang secara bergantian dengan warga. Lubang tersebut diyakini sebagai titik yang tepat lantaran adanya temuan berupa potongan kain yang biasa digunakan sebagai tanda oleh pasukan Batalion Infanteri 454/Banteng Raider dari Jawa Tengah dan Batalion Infanteri 530/Raiders dari Jawa Timur.

Sumur Lubang Buaya memiliki kedalaman sekitar 12 meter, dengan diameter 0,75 meter saja. Setelah penggalian dilakukan hingga kedalaman 8 meter, bau busuk mulai tercium. Penggalian kala itu sulit dilakukan karena diameter lubang sumur yang hanya pas untuk satu orang, ditambah dengan masalah keterbatasan alat. Penggalian pun memakan waktu lama.

Posisi jasad para Pahlawan Revolusi saat ditemukan di Lubang Buaya dilaporkan dalam posisi bertumpuk, dengan kaki di atas. Pada 4 Oktober 1965, Soeharto meminta bantuan kepada Komandan Korps Komando Angkatan Laut (KKO) Brigjen Hartono untuk meminjam peralatan dan tim penyelam dari Kompi Intai Para Amfibi (Kipam) ke Lubang Buaya.

Tim terdiri atas sembilan penyelam, di antaranya Letnan Satu (Lettu) Mispam Sutanto, Pembantu Letnan Satu (Peltu) Kandouw, Peltu Sugimin, serta dua dokter dr Kho Tjio Ling dan drg Sumarno. Satu per satu, jenazah para jenderal TNI AD diangkat oleh Kopral Anang (RPKAD), Praka Subekti (KKO), dan Serma Suparimin (KKO).

Pada pukul 13.30 WIB, akhirnya ketujuh jenazah jenderal telah terangkat semuanya ke permukaan sumur. Jenazah kemudian dibawa untuk diautopsi ke RS  Gatot Subroto menggunakan Panser. Jenazah lantas dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan.

[edl]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini