Remaja putri Mauritania dipaksa jadi obesitas agar dapat jodoh

Senin, 19 Mei 2014 11:31 Reporter : Tantri Setyorini
Praktek leblouh, penggemukan paksa para gadis di Mauritania. ©2014 Merdeka.com/Eagle Watch

Merdeka.com - Apakah Anda pernah mendengar foie gras? Benar, foie gras adalah makanan khas Prancis yang dibuat dari hati angsa. Makanan ini banyak menuai protes dari para aktivis pecinta binatang karena cara pembuatannya yang dianggap tidak berperikemanusiaan. Angsa yang hatinya akan dijadikan bahan foie gras dipaksa menelan makanan melalui corong dalam jumlah berlebih hingga hatinya membengkak dan tewas. Terdengar kejam, ya?

Tetapi ternyata praktik pemberian makan secara paksa yang dikenal dengan istilah leblouh ini juga diterapkan kepada manusia. Di Mauritania, sebuah negara yang terletak di benua Afrika, para gadis 'dipaksa' menjalani tradisi leblouh begitu memasuki usia kawin. Pasalnya, di negara itu seorang wanita harus memiliki tubuh yang benar-benar gemuk agar menarik perhatian lawan jenis. Standar kecantikan bagi wanita Mauritania adalah tubuh yang gemuk dengan lemak menggelambir di mana-mana.

Dilaporkan Safe World For Women, dalam budaya tradisional Mauritania wanita-wanita yang bertubuh gemuk merupakan simbol dari kecantikan, kesejahteraan, dan status sosial yang tinggi. Sementara perempuan yang bertubuh langsing, apalagi kurus, dianggap lemah dan mempermalukan keluarga.

Photo by Mediafritiq

Gadis-gadis di Mauritania banyak yang harus menjalani penderitaan karena tradisi leblouh. Mereka dipaksa untuk makan bertumpuk-tumpuk makanan dan minum semangkuk besar susu unta atau susu kambing. Gadis yang tidak menghabiskan makanan di depannya akan dihukum. Kadang gadis-gadis itu jari kakinya diikat dan jika mereka tidak mau makan jarinya akan dipelintir agar dia merasa kesakitan dan selanjutnya mau meneruskan makan.

Photo by Oddity Central

"Ibuku mulai membuatku gemuk dengan paksaan ketika usiaku menginjak 13 tahun. Dia sering memukulku agar aku makan lebih banyak couscous berminyak dan daging domba berlemak. Setiap kali perutku rasanya mau meledak," kenang Selekeha Mint Sidi. Perempuan ini menikah tahun lalu dan baru mendapat seorang putri. Rupanya Mint Sidi termasuk orang tua yang berpikiran modern. Walaupun ia pernah menjalani tradisi leblouh, dia sendiri tidak ingin memaksa putrinya kelak untuk menjalani penderitaan yang sama, apapun alasannya.

Photo by Wikimedia Commons / Khonsali

Tradisi leblouh ini memang sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat Mauritania. Standar kecantikan di negara itu sudah mulai bergeser ke arah barat, seiring dengan masuknya berbagai hiburan dari Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Tetapi jika di kota-kota besar leblouh sudah tidak terlalu populer, lain halnya dengan kota-kota kecil dan pedesaan di mana penduduknya masih kukuh memelihara tradisi. Menjadikan para gadis bertubuh gemuk masih dianggap hal penting dalam komunitas masyarakat di sana, terutama jika gadis-gadis muda tersebut ingin mendapatkan suami yang pantas.

Achetou Mint Taleb yang berusia 55 tahun menuturkan kalau ia 'menggemukkan' kedua putrinya saat mereka berusia 10 tahun. Berkat hal itu mereka jadi bisa cepat menikah dan punya anak sebelum mencapai usia 17 tahun. "Aku sangat bangga dengan apa yang telah kulakukan," katanya.

Dengan beredarnya obat-obatan berbasis bahan kimia secara bebas, praktik leblouh bergeser ke arah yang berbahaya. Tak hanya menggunakan makanan biasa, para gadis mulai mengonsumsi pil yang biasa digunakan untuk menggemukkan hewan ternak. Seperti dilaporkan NBC News, pil-pil ini sebenarnya berisi sejenis hormon yang digunakan untuk menggemukkan unta. Efeknya memang bisa meningkatkan nafsu makan secara signifikan. Selain lebih praktis, pil ini juga lebih murah dibandingkan makanan standar. Tetapi tidak disarankan untuk konsumsi manusia.

Fatematou, seorang wanita berusia 60 tahunan dengan tubuh subur yang mengelola 'panti penggemukan' di Atar selama bertahun-tahun menuturkan kepada BBC UK, "Aku membuat mereka memakan banyak kurma, couscous, dan makanan-makanan lain yang menggemukkan." Menurutnya dengan cara itu gadis-gadis yang dititipkan kepadanya bisa mencapai berat 60-100 kilogram, dengan timbunan lemak yang sangat padat.

Dalam proses penggemukan ini tak jarang gadis-gadis tersebut sampai muntah karena kekenyangan dan takut. Tetapi hal ini dianggap hal yang wajar. Fatematou menolak jika ia dikatakan menyiksa para gadis yang dititipkan kepadanya agar bersedia makan. Menurutnya kebanyakan gadis-gadis itu mematuhi prosedur yang ia jalankan tanpa paksaan. Kalaupun ada yang menolak makan, biasanya orang tua si gadis sendiri yang turun tangan dan menghukumnya sampai ia bersedia makan. Sementara Fatematou sendiri lebih suka memakai bujukan untuk membuat 'pasien-pasiennya' makan.

Photo by Suhad4328

Ada kalanya gadis yang ia tangani menangis, bahkan menjerit-jerit karena tidak mau makan. Jika sudah begitu Fatematou akan membiarkannya selama sehari atau dua hari, kemudian kembali lagi untuk membujuknya makan lagi.

"Pada akhirnya mereka selalu menurut," ujarnya. Pada akhirnya mereka bahkan bersyukur. "Ketika masih kecil mereka belum mengerti, tetapi begitu dewasa mereka jadi gemuk dan cantik. Mereka bangga dan mempertunjukkan bentuk tubuh mereka yang bagus untuk membuat kaum pria meneteskan air liur. Bukankah itu bagus?"

“Ketika masih kecil, ibu memukulku agar mau makan karena waktu itu aku tidak ingin menjadi gemuk. Sekarang aku ingin punya tubuh besar karena para pria menyukainya," ungkap Bilkhere yang masih ingin menambah berat badan 10 kilogram lagi.

Dalam era kemajuan seperti ini memang masih banyak pria Mauritania yang lebih memilih wanita-wanita dengan tubuh berisi tanpa memikirkan risiko kesehatan yang mengintai. Di Mauritania, istri yang gemuk juga dianggap mengangkat kebanggaan suami. Menurut pandangan tradisional masyarakat Mauritania, jika istri memiliki tubuh yang gemuk berarti hidupnya sejahtera karena si suami sudah mengurusnya dengan baik. Isselmou Ould Mohamed mengatakan kalau ia menyukai tubuh istrinya yang seberat 100 kilogram. Ia mengaku senang ketika istrinya bertambah gemuk selama kehamilan. Ia bahkan marah ketika mendapati istrinya berjalan kaki di stadion untuk menurunkan berat badannya sedikit.

"Aku tidak suka wanita kurus," kata pria 32 tahun itu. "Aku mengatakan pada istriku, kalau dia sampai kehilangan bentuk tubuhnya, aku akan menceraikannya."

Berkat tradisi ini, 40 persen wanita di Mauritania mengalami obesitas. Meskipun jumlahnya masih lebih rendah jika dibandingkan dengan tingkat obesitas pada wanita di Amerika Serikat, tetapi jumlah ini termasuk membahayakan untuk sebuah negara yang tidak terpengaruh budaya konsumsi makanan cepat saji.

Untuk menghentikan praktik yang membahayakan dan cenderung kejam ini, pemerintah telah menggencarkan kampanye untuk membangkitkan kesadaran warga mengenai bahaya obesitas melalui berbagai media massa. Dr. Vadel Lemine dari Rumah Sakit Nasional menyampaikan kalau rumah sakit tempatnya bekerja telah menangani banyak pasien yang menjadi korban dari praktik leblouh ini. Dan ia menyayangkan tidak diindahkannya peringatan dari pemerintah mengenai bahayanya leblouh bagi kesehatan. [tsr]

Topik berita Terkait:
  1. Wanita Merdeka
  2. Jodoh
  3. Tradisi Unik
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.