Menurut Pakar, Perceraian Orangtua Tak Harus Bikin Anak Tak Percaya Pernikahan

Kamis, 28 Maret 2019 15:00 Reporter : Tantri Setyorini
Menurut Pakar, Perceraian Orangtua Tak Harus Bikin Anak Tak Percaya Pernikahan Ilustrasi perceraian. ©Shutterstock.com/ejwhite

Merdeka.com - Perceraian merupakan sebuah keputusan yang berat, namun terkadang perlu diambil oleh pasangan dengan hubungan disfungsional. Tindakan ini tentunya menghadirkan kesedihan bagi kedua belah pihak yang melakukannya. Jika ada anak, perpisahan tersebut bahkan bisa mengakibatkan trauma.

Tammy Nelson, PhD, penulis buku The New Monogamy: Redefining Your Relationship After Infedility menjelaskan bahwa perceraian orangtua bisa menimbulkan trauma ke anak. Perceraian juga bisa membuat anak tidak percaya adanya cinta hingga takut menikah saat ia dewasa.

Para ahli menemukan jika beberapa korban perceraian mengalami penurunan rasa percaya terhadap pernikahan. Beberapa bahkan menilai jika pernikahan yang diselimuti cinta, rasa percaya, dan kejujuran di dalamnya tak pernah ada. Beberapa korban perceraian akan mengalami krisis kepercayaan terhadap cinta yang indah, mengesankan dan sejati.

Saat orangtua yang bercerai saling bermusuhan dan menyimpan dendam antara satu dengan yang lain, ini bisa menyebabkan trauma tersendiri di hati anak. Namun, jika orangtua yang bercerai tetap bisa rukun, saling menghargai, menguatkan dan menghormati satu sama lain, ini masih akan membuat anak memiliki kepercayaan penuh terhadap pernikahan.

Cinta dan pernikahan adalah perkara yang tak bisa ditebak begitu saja bagaimana jalan ceritanya. Ada banyak orang yang bisa menciptakan cinta dan pernikahan terindahnya. Meski tak sedikit orang yang mengalami kegagalan, sakit hati dan kecewa mendalam karenanya.

Mengenai pernikahan dan jatuh cinta, kita tak perlu cemas serta khawatir berlebihan karenanya. Kita juga tak perlu merasa trauma dan takut menikah apalagi jatuh cinta karena mendapati orangtua pernah bercerai di masa lalu. Dalam menjalin hubungan asmara dan pernikahan, adanya masalah adalah hal yang wajar. Tugas kita yakni menyelesaikan masalah tersebut dengan baik dan tetap tenang. Jangan sampai karena kita yang emosi dan egois, masalah yang semula hanya sepele menjadi masalah besar hingga meningkatkan risiko perpisahan atau perceraian.

Saat memutuskan menikah atau pun jatuh cinta, jangan hanya belajar dari pengalaman kisah cinta orangtua yang pernah gagal. Belajarlah juga dari kisah cinta pasangan lain yang lebih bahagia, mengesankan dan langgeng selamanya.

Reporter: Mimi Rohmitriasih
Sumber: Fimela.com [tsr]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini