Mengenal Perikanan Berkelanjutan dari Hulu ke Hilir Bersama YKAN

Selasa, 29 November 2022 14:27 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Mengenal Perikanan Berkelanjutan dari Hulu ke Hilir Bersama YKAN Ilustrasi Ikan. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Sejumlah influencer dan jurnalis berkumpul di pasar Kedonganan pada Jumat, 25 November 2022. Kegiatan hari ini merupakan bagian dari rangkaian acara menjelang Misi Lestari 2022 yang digagas oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).

Di pasar Kedonganan, para influencer dan wartawan ini melihat bagaimana beragama jenis ikan dijual dan dijajakan. Sembari berkeliling, diberikan penjelasan juga terkait jenis-jenis ikan dan ukurannya.

Setelah berkeliling di pasar Kedonganan, selanjutnya dilakukan diskusi bersama mengenai program yang dilakukan YKAN di sektor perikanan.

"Kenapa Kedonganan? Karena industri perikanan yang hidup dan kita ingin menunjukkan story-nya. Kedonganan terbesar di bali dan semua perikanan bisa tercover," terang Laksmi Larastiti, Fisheries Program Manager YKAN.

Lebih lanjut, wanita yang akrab disapa Laras ini juga mengatakan bahwa Pasar Ikan kedonganan sebagai tempat penjualan ikan yang diambil secara ramah lingkungan.

"Tadi kita lihat ya, tidak ada ikan yang diambil secara tidak enviromental friendly. Hal ini bisa dilihat dari mata ikan dan badan yang masih utuh," terangnya.

Salah satu hal yang bisa kita saksikan secara langsung di Pasar Ikan Kedonganan adalah betapa melimpahnya jenis ikan yang ada di Indonesia. Bahkan jenis ikan yang tampak sama ternyata merupakan ikan yang berbeda. Oleh karena itu, dalam membedakan satu jenis ikan dengan yang lain kita membutuhkan pendataan yang memadai. Hal inilah yang dilakukan oleh YKAN dengan membuat buku yang memuat beragam jenis ikan terutama kakap, kerapu, dan tuna yang ada di Indonesia

"Indonesia megadiversity, sebenarnya pasar ini merepresentasikan itu," terang Glaudy Perdanahardja, Sustainable Fisheries Senior Manager YKAN.

Lebih lanjut pendataan perikanan yang dilakukan YKAN ini dianggap Glaudy sebagai sebuah hal yang penting. Bahkan pendataan yang mereka buat ini tergolong cukup lengkap dan bisa menjadi rujukan terutama bagi jenis ikan kakap dan kerapu.

"Pendataan perikanan terutama kakap, kerapu, dan tuna serta bisa membantu bagaimana pengelolaan perikanan seharusnya. Semakin besar kita tahu, maka semakin tahu kita bagaimana cara untuk mengelolanya," terang Glaudy.

Hasil pendataan yang dibuat oleh YKAN ini memang terbukti mampu membantu influencer dan wartawan lebih memahami berbagai jenis ikan yang ada di pasar Kedonganan ini. Pasar ini merupakan salah satu titik penting dari perikanan berkelanjutan di mana ikan yang telah ditangkap oleh nelayan diteruskan untuk dijual langsung ke konsumen rumah tangga dan juga restoran.

Setelah dari Pasar Ikan Kedonganan, kemudian YKAN mengajak wartawan untuk mengetahui ujung tombak pendataan ikan yang mereka lakukan. Di sini kemudian kita beranjak 108 kilometer ke sebelah utara Pulau Bali tepatnya di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng.

2 dari 3 halaman
mengenal perikanan berkelanjutan dari hulu ke hilir bersama ykan

Nelayan di Desa Les merupakan mitra dari YKAN dalam mendukung perikanan berkelanjutan ini. Tak hanya itu, nelayan tradisional ini juga merupakan mitra dari YKAN dalam melakukan pendataan berbagai jenis ikan tangkapan mereka. Untuk mendata ini, nelayan tersebut dilengkapi dengan kamera dan juga GPS tracking untuk membantu mendata jenis temuan ikan apa saja yang mereka peroleh.

Sebagai sebuah wilayah, Desa Les cukup menarik, terlebih karena mereka merupakan sedikit dari masyarakat Bali yang masih menganut kepercayaan tradisional sebelum masa masuknya masyarakat Pelarian dari Majapahit. Hal ini menyebabkan mereka cukup berbeda dari masyarakat Bali pada umumnya.

Di Desa Les ini kita bisa melihat bagaimana masyarakat nelayan mampu membantu perikanan yang berkelanjutan namun tetap mampu menopang secara ekonomi. Dalam program yang dilakukan oleh YKAN pendataan oleh nelayan ini dikenal sebagai Crew-Operated Data Recording System (CODRS).

Nandana Godjali, Small Scale Fisheries Manager YKAN menjelaskan bahwa program pendataan yang dilakukan melalui nelayan ini juga memiliki manfaat bagi mereka.

"Keuntungan yang bisa diperoleh dari pendataan ini adalah nelayan jadi bagian usaha pelestarian ikan di Indonesia. Data yang diperoleh dari nelayan ini kemudian diolah untuk melakukan kajian terkait perikanan," terang Nandana yang akrab disapa Nanda ini.

Dari data yang sudah diperoleh ini, Nanda mengatakan bahwa nelayan dan analis bisa saling belajar mengenai jenis-jenis ikan yang ada di Indonesia. Selain kamera, nelayan juga dibekali papan ukur untuk menjadi data mengenai berapa panjang ikan yang ditangkap untuk selanjutnya dihitung berapa kira-kira beratnya dari panjang ikan ini.

Dari program ini, terdapat setidaknya 800 nelayan yang bergabung mengikuti pendataan. Setiap bulan, nelayan yang menjadi pengumpul data mendapat kompensasi dari pengumpulan data yang mereka lakukan.

Hasil data yang diperoleh dari nelayan ini tergolong lengkap terutama pada ikan kakap dan kerapu. Berdasar temuan dari YKAN, CODRS juga mendata tangkapan sampingan (bycatch) hiu dan pari. Hasil pendataan tahun 2019 berhasil mengidentifikasi 1.742 individu, 59 persen di antaranya menurut IUCN Red List berstatus hampir terancam, 9 persen terancam, 8 persen rentan, dan 3 persen kritis.

Pada nelayan, sejumlah program dan sosialisasi yang dilakukan oleh YKAN ini telah mengubah berbagai hal dalam kehidupan mereka sebagai nelayan. Gede Sumawas, Ketua kelompok nelayan Segara Gunung, Desa Les mengatakan bahwa saat ini mereka menjadi sadar dengan sistem penangkapan yang ramah dengan lingkungan.

"Sekarang kita sudah memikirkan bagaimana kita ke depan untuk anak cucu kita, bagaimana hasil laut bisa dinikmati oleh anak cucu kita," terang pria yang akrab disapa dengan Wawas ini.

3 dari 3 halaman
ilustrasi ikan
©2022 Merdeka.com

Selain di nelayan dan pasar, salah satu simpul penting dalam perikanan berkelanjutan ini adalah pada konsumen. Pada kesempatan ini, kami juga menemui Hema Sitorus dari Bali Sustainable Seafood selaku penyuplai dari sejumlah restoran dan hotel di Bali.

Hema mengaku bahwa dia mulai menyuplai sejumlah restoran dengan ikan yang ditangkap dengan cara tepat dan juga ukuran yang tepat. Hal ini terutama semakin penting karena stok perikanan dunia yang secara stabil mulai mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

Seiring waktu, saat ini Hema mengaku bahwa customer sudah mulai menyadari mengenai pentingnya konsumsi ikan yang ramah lingkungan ini.

"Saat ini customer di Bali mulai menyadari bahwa kita perlu mengonsumsi ikan-ikan yang ramah lingkungan. Customer juga mulai paham dan bahkan ikut campaign untuk penggunaan ikan yang tepat," terang Hema.

Program media trip yang dilakukan oleh YKAN terhadap sejumlah wartawan ini adalah bagian dari program Misi Lestari. Misi Lestari merupakan kegiatan kolaboratif dalam upaya melestarikan bumi, dengan mengajak seluruh komponen masyarakat untuk peduli pada alam melalui aktivitas keseharian yang edukatif.

Tema dari Misi Lestari 2022 ini adalah “Mission of The Ocean” yang digagas PBB pada Januari 2021 dan menjadi misi kolektif untuk menata kembali koneksi antara manusia dan laut, demi mewujudkan laut yang sehat. Kegiatan Misi Lestari, yang mengusung konsep 4 pilar, yaitu Environment, Educate, Engage, dan Entertain, merupakan salah satu cara bagi YKAN mengajak masyarakat luas terlibat dalam upaya konservasi ekosistem laut.

Dalam menjaga perikanan yang berkelanjutan ini, dibutuhkan peran yang sangat menyeluruh baik dari pemerintah, industri, nelayan, serta masyarakat dalam memilah ikan dan menjaga pasokannya. Hal ini sangat penting agar rasa ikan yang kita konsumsi pada saat ini tetap sama hingga anak cucu kita mendatang.

[RWP]
Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Perikanan
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini