Kisah muram dari bisnis daging limbah di Filipina, dari tong sampah ke warung-warung

Selasa, 13 Maret 2018 16:06 Reporter : Tantri Setyorini
Kisah muram dari bisnis daging limbah di Filipina, dari tong sampah ke warung-warung Pagpag, daging limbah di Filipina. © NOLISOLI

Merdeka.com - Pernah mendengar tentang pagpag? Ini adalah makanan yang biasa disantap oleh warga dengan ekonomi kelas bawah di Filipina. Terutama bagi mereka yang tinggal di pemukiman kumuh. Tempat di mana tempat sampah adalah satu-satunya tempat mereka bisa mendapatkan sumber protein hewani.

Dilansir Oddity Central, secara harfiah pagpag berarti debu yang dibersihkan dari karpet atau baju. Tetapi di Manila pagpag telah berubah arti menjadi daging limbah. Istilah ini digunakan untuk menyebut sisa daging yang didapat dari tempat sampah. Entah itu ayam goreng yang tak habis dimakan atau seiris daging yang sudah hampir busuk.

Pagpag biasanya dikumpulkan dari pembuangan sampah, kemudian dibersihkan sekadarnya, dan dimasak kembali menjadi makanan baru. Ini termasuk salah satu makanan pokok di daerah kumuh negara itu.

Pagpag, daging limbah di Filipina Bren on The Road


Belakangan pagpag telah menjadi sumber mata pencaharian bagi para pemulung dan pemilik warung. Para pemulung kini lebih tertarik memunguti sisa masakan dan makanan kaleng yang sudah kadaluwarsa dari gerai makanan cepat saji dan supermarket. Daging limbah dalam kemasan plastik yang sudah dibuang dibeli para pemilik warung dengan harga miring, dimasak ulang dengan berbagai bumbu, dan dijual kepada pelanggan warung. Di tangan mereka, istilah junk food dikembalikan ke definisi harfiahnya.

Sekantung pagpag biasanya dijual dengan harga sekitar 20 peso. Satu kantung ini saja sudah bisa diolah menjadi beberapa jenis masakan yang setiap piringnya dijual dengan harga 10 peso.

Pagpag, daging limbah di Filipina NOLISOLI


"Dengan kehidupan yang kami miliki, pagpag bisa banyak membantu. Ketika Anda membeli sekantung dengan harga beberapa peso saja, Anda sudah bisa memberi makan satu keluarga," tutur salah satu warga pemukiman kumuh kepada Reuters.

Mereka yang hidup jauh di bawah garis kemiskinan tidak punya banyak pilihan menyangkut makanan. Beberapa dari mereka yakin kalau pagpag cukup bergizi dan aman disantap, karena sudah dicuci dan disterilkan oleh panas api kompor. Tetapi para ahli kesehatan tentu saja memiliki pendapat yang berbeda.

Pagpag, daging limbah di Filipina 2018 Global Hobo/Gemma Clarke


Seringnya pagpag sudah terpapar bakteri salmonella atau disemprot disinfektan sebelum dibuang. Proses pembersihan dan pemanasan tidak banyak membantu lagi. Karena itulah pagpag bisa sangat berbahaya bagi kesehatan.

Menurut Salome Degollacion, seorang tetua dari Helping Land Slum Manila kepada CNN, cukup banyak orang yang meninggal akibat keracunan setelah mengonsumsi pagpag. Dari segi etika pun makanan yang sudah masuk ke tempat pembuangan seperti ini rasanya sudah tak layak jika disajikan kembali kepada konsumen. Dengan harga makanan biasa pula. [tsr]

Topik berita Terkait:
  1. Kuliner Unik
  2. Filipina
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini