Jalan H. Tamim, pusat kain jeans tertua di Bandung

Minggu, 25 Oktober 2015 10:06 Reporter : Iman Herdiana
Jalan H. Tamim, pusat kain jeans tertua di Bandung Jalan Haji Tamim. ©2015 Merdeka.com/Iman Herdiana

Merdeka.com - Jalan H. Tamim dikenal sebagai salah satu sentra perdagangan kain jeans tertua di Bandung. Meski sebenarnya bukan hanya kain jeans saja dijual, melainkan berbagai macam jenis kain dan model pakaian.

Pantauan Merdeka Bandung, aktivitas transaksi di Jalan Tamim tidak kalah sibuk dengan Pasar Baru. Posisi Jalan Tamim tepat di belakang pasar tua tersebut. Sejumlah toko dan pedagang kaki lima menyajikan berbagai jenis kain, baik eceran maupun grosiran.

Di Jalan Tamim, pembeli kain bisa langsung meminta dijahitkan pakaian sesuai selera dan ukuran. Tidak sedikit toko maupun pedagang kain kaki lima menjajakan barang berikut jasa tukang jahit. Banyak juga pakaian jadi dari bahan jeans hingga kebaya.

Kain yang dijual di gang ini sangat beragam, mulai dari jeans, denim, cino, katun, parasit, brukat, taslan atau kain mikro; kain twil yang biasa dipakai bahan membuat seragam; kain rifstof yang mirif parasit, kain ini biasa dipakai bahan untuk membuat jaket.

Jenis kain lainnya adalah spandek sebagai bahan membuat hijab yang kini sedang ngetren-ngetrennya perempuan berhijab; kain belacu, brukat, berbagai jenis kain seprei, berbagai jenis kain untuk bahan kaos seperti model denim yang terdiri dari beberapa model, misalnya untuk membuat kaos strit, sweater, jaket, training dan lainnya.

Soal harga, belanja di Jalan Tamim sama dengan harga pasar tradisional, semua bisa ditawar. Sebagai gambaran, bahan kain eceran antara Rp 55.000 sampai 75.000 per meternya. Sedangkan ongkos pembuatan antara Rp 40.000 sampai 60.000.

Untuk harga grosir beda lagi, biasa dihitung dengan yard, 1 yard 91,4 centimeter. Harga beli grosiran atau roll-an lebih murah dari eceran. Untuk berbagai jenis kain harga antara Rp 3.000 sampai Rp 20.000 peryard.

Kain-kain di Jalan H. Tamim dipasok dari sejumlah pabrik yang berdiri di Bandung Raya, misalnya kawasan pabrik Rancaekek, Majalaya, Palasari, Dayeuhkolot, Cigondewah. Pembelinya beragam, dari dalam Bandung hingga luar pulau Jawa.

Para pembeli merupakan produsen pakaian jadi seperti rumah-rumah industri dan penjual pakaian jadi. Ada juga turis Pasar Baru yang "nyasar" ke Jalan H. Tamim, terutama turis Malaysia, Singapura dan India, bahkan sesekali turis bule atau Eropa.

Belum ada data resmi tentang pedagang kain di Jalan H. Tamim, yang jelas jumlahnya berjajar sepanjang Jalan Tamim, menyebar di mulut-mulut gang hingga ke Jalan Dulatif dan Jalan Otto Iskandar Di Natta di mana lebih banyak penjual yang menjual kain atau pakaian secara eceran.

Akses menuju Jalan H. Tamim cukup mudah, posisinya persis di belakang Pasar Baru yang berada di tengah Kota Bandung, 20 menit dari Bandara Husein Sastranegara. Bagi yang membawa kendaraan pribadi, bisa parkir di Pasar Baru atau di kawasan parkir di sekitaran Pasar Baru.

Dari Pasar Baru ke Jalan H. Tamim bisa ditempuh dengan jalan kaki, melalui gang-gang yang ada di kiri kanan Pasar Baru. Akses lain, bisa ditempuh melalui Jalan Sudirman, jaraknya tidak jauh dari perempatan Otista-Sudirman, posisi Jalan H. Tamim berada di kanan.

Jalan H. Tamim juga bisa ditempuh dari St Hall dengan angkot St Hall-Gedebage yang rutenya memasuki sebagian Jalan H. Tamim. [mtf]

Topik berita Terkait:
  1. Bandung
  2. Merdeka Bandung
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini