Eratkan Kembali Benang Kejayaan Nusantara melalui ILC-NLC 2013

Rabu, 11 September 2013 18:30 Reporter : Kun Sila Ananda
Eratkan Kembali Benang Kejayaan Nusantara melalui ILC-NLC 2013 ILC NLC. ©ILC-NLC/Rosita Handayani

Merdeka.com - Dengan dilaksanakannya grand closing dan pemukulan gong oleh walikota Depok, Nur Machmudi, acara Indonesia Leadership Camp - Nusantara Leadership Camp (ILC-NLC) 2013 secara resmi diakhiri. Acara yang merupakan kolaborasi antara direktorat kemahasiswaan UI, Institut of Leadership Development (ILeaD) dan Sekretariat Transformasi Serantau Malaysia ini menuai pujian dari beberapa kalangan baik dari peserta, pengisi acara maupun para undangan.

ILC-NLC 2013 merupakan program yang digagas untuk mencetak pemimpin-pemimpin muda yang berwawasan global, namun tetap mempertahankan identitasnya sebagai pemuda nusantara, sesuai dengan tagline: "Global Leaders, Nusantara Colours" Selama 5 hari, terhitung dari tanggal 4-8 September 2013, 130 mahasiswa terbaik Indonesia, Malaysia dan Thailand telah mengikuti serangkaian acara mulai dari seminar, talkshow, dialog inspiratif, bedah film Tjut Nja Dien, field trip ke Rumah Perubahan, softside leadership development, kenduri nusantara dan cultural night, student conference, kompetisi social project/ social entrepreneurship, outbond, dan berbagai kegiatan edukatif lainnya.

Acara-acara ini diselenggarakan di beberapa tempat yakni wisma makara UI, balai sidang UI, rumah perubahan Rhenald Kasali, dan Crowne Plaza Hotel Semanggi. Beberapa pemateri yang hadir dalam acara ini adalah : Dr.Yon Machmud (UI), Dr.Wan Muhammad Nor Wan Daud (Dosen Universiti Teknologi Mara), Dr.Abdurrakhman (sejarawan UI) , Dr.Arief Munandar,S.E., M.E (Profesional trainer), Mohd Ezam Nor (Senator Malaysia), Dr. Shofwan Albana Choiruzzad (aktivis muda), Goris Mustaqim (Pebisnis Asgar Muda), Baban Sarbana (CEO YatimOnline), Yovita Salysa Aulia (Founder Nalacity Foundation), Amirul Haji Muhammad (Pengusaha dan Konsultan Dinar Malaysia), Prof.Rhenald Kasali (Social Entrepreneur dan guru besar UI), Slamet Rahardjo (aktor utama film Tjut Nja Dien), Sapto Waluyo (DPR RI), Yohannes Surya (Ilmuwan dan Tokoh Pendidikan), Dato' Sri Ahmad Shabery Cheek (Menteri Komunikasi dan Multimedia Malaysia), Dr. M. Sohibul Iman (Wakil Ketua DPR RI), dan Neno Warisman (Aktris dan presenter).

Tanggapan dari peserta pun sangat positif. Angga Fauzan, mahasiswa ITB yang berhasil mendapatkan predikat "peserta terbaik" merasa sangat beruntung bisa mengikuti acara ini. Ia merasa senang karena di acara inilah ia bisa mendengarkan lagu kebangsaan Indonesia, Malaysia, dan Thailand dinyanyikan bersama. Ia berharap acara tidak berakhir begitu saja, tetapi harus ada feedback berupa pembentukan forum diskusi, di samping untuk memperluas networking juga untuk memberikan kontribusi nyata di lingkungan masyarakat.


Peserta ILC-NLC

Berbeda dengan Angga, Zaharin (salah satu peserta terbaik asal Malaysia) tidak hanya merasa beruntung karena bisa mengikuti serangkaian acara, ia merasa beruntung karena bisa mendapatkan teman-teman yang ramah dari Indonesia. "Orang Indonesia nih mesra-mesra", ucapnya saat mengucapkan speech kesan dan pesan.

Tidak hanya peserta, Nur Machmudi (walikota Depok) juga turut memberikan respon positif. Beliau berharap setelah acara ini berakhir, peserta dapat mengimplementasikan segala ide-idenya di kampung halaman. "Semoga tahun depan, negara yang berpartisipasi akan lebih banyak lagi", katanya saat memberikan sambutan dan penghargaan kepada para pemenang kompetisi project.

Ada yang unik dalam ILC NLC tahun 2013, acara ini tidak hanya memfasilitasi peserta untuk berdiskusi langsung dengan narasumber yang kompeten, akan tetapi juga memberikan kesempatan bagi para peserta untuk merebut hadiah puluhan juta rupiah melalui kompetisi social project dan social entrepreneurship project.

Yessy Anggraini dari Unila berhasil menjadi juara pertama untuk kategori social project sedangkan M. Taufiq Hidayah Tanjung dari Unimed berhasil menjadi juara 1 untuk kategori social entrepreneurship project, masing-masing dari mereka mendapatkan set up cost 5 juta rupiah untuk menjalankan gagasan proyeknya.

"ILC NLC memang sudah berakhir, tetapi Indonesia masih tetap membutuhkan pemuda-pemuda yang bisa mengubah dunia dan menggerakkan mesin-mesin perubahan melalui tangan-tangan mereka," ucap Prof.Misri Ghozan, direktur ILeaD UI. [kun]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini