Era serba digital, tulisan tangan tak lekang dimakan usia

Senin, 23 November 2015 13:30 Reporter : Iman Herdiana
Era serba digital, tulisan tangan tak lekang dimakan usia Ilustrasi menulis. ©Shutterstock/YURALAITS ALBERT

Merdeka.com - Era digital yang serba riel time, tulis menulis pesan didominasi ketikan keyboard qwerty. Lalu bagaimana dengan posisi tulisan tangan yang memakai pena atau pensil?

Budayawan Bandung, Hawe Setiawan mengatakan, tulisan tangan tradisional, yakni menulis dengan pena di atas kertas, menjadi salah satu tradisi yang tereduksi di era digital dewasa ini. Di era ini orang mulai banyak yang beralih mengetik tulisan di handphone, tablet, maupun laptop.

Meski demikian, dosen sastra Universitas Pasundan ini mengatakan, esensi tulisan tangan tidak akan punah dan masih relevan. Bahkan, kelebihan-kelebihan yang ada pada tulisan tangan tidak akan tergantikan ketikan di handphone maupun komputer.

“Menulis dengan tangan menuntut orang lebih banyak berpikir, mengingat, dan berimajinasi,” kata Hawe.

Editor dan juga penerjemah sastra ini mengakui, ada perbedaan mendasar antara mencatat dengan tangan dan mencatat dengan ketikan. Misalnya pemahaman suatu seminar atau diskusi akan lebih mendalam saat mencatat dengan tangan daripada mencatat dengan cara mengetik.

Ia meyakini ada semacam sinkronisasi antara gerak tangan yang mencatat dan pikiran. “Surat atau catatan berisi tulisan tangan diyakini mengandung karakter si penulisnya,” kata dia.

Satu hal yang disepakati umum, kata dia, bahwa tulisan tangan tak bisa digantikan ketikan ketika tulisan tersebut bersifat privat, misalnya surat cinta.

“Karena mengirim surat berisi tulisan tangan sama dengan mengirimkan tubuh ke tujuan. Itu sebabnya surat cinta sulit digantikan email, apalagi sms,” jelasnya.

Ia menuturkan, sebelum kejayaan internet dan teknologi gadget, tulisan tangan memiliki gengsi tersendiri di masyarakat. Orang yang bisa menulis dipandang cendekia atau priyai.

Selanjutnya tradisi tulisan tangan sendiri melahirkan tradisi lainnya di antaranya seni menulis indah hingga kaligrafi, seni melipat kertas surat, hingga melatih kesabaran menunggu di kantor pos.

“Menulis surat dengan tulisan tangan yang dikirim melalui pos menjadi salah satu tradisi yang tereduksi di era digital,” katanya. Ia menambahkan, peran pos sebagai jasa penyampai pesan sudah digantikan teknologi handphone dan internet.

Saat ini, teknologi internet menimbulkan transformasi besar dalam kehidupan manusia. Transformasi ini memunculkan budaya baru. Pesan yang dikirim di era digital bisa tiba seketika. Tidak ada lagi proses mengirim surat yang panjang, tidak perlu lagi tergantung pada jadwal pengiriman surat yang dibuat kantor pos.

“Birokrasi dipangkas, jarak, ruang dan waktu makin ringkas,” katanya.

Di masa lalu, sambung dia, kita tidak mungkin bisa ngirim surat jam 7 malam. “Kita harus menunggu kantor pos buka. Sekarang, zamannya email, kita menjadi real time, kapan pun bisa dilakukan,” kata Hwe.

Istilah real time sendiri muncul di era digital ini sebagai pengganti istilah time sebelumnya. Di zaman real time segala sesuatu dituntut serba cepat, banyak orang yang terburu-buru demi efisiensi.

“Jika sebelum era internet kita mengutamakan proses dan keindahan, sekarang kita mengutamakan efisiensi. Tak ada lagi seni menulis indah dan melipat surat.” [frh]

Topik berita Terkait:
  1. Merdeka Bandung
  2. Bandung
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini