Di balik Dignitas, organisasi yang bantu 800 jiwa temui ajal

Selasa, 19 April 2016 11:48 Reporter : Tantri Setyorini
Di balik Dignitas, organisasi yang bantu 800 jiwa temui ajal Dignitas. © Purple Pilchards / Alamy

Merdeka.com - Sekilas melihat bangunan bercat biru ini, mungkin sebagian besar orang akan berpikir kalau ini cuma rumah biasa atau kantor perusahaan kecil yang tengah berkembang. Melihat lebih jauh ke dalam, Anda mungkin berpikir kalau tempat ini adalah klinik perawatan sederhana. Siapa yang bakal menduga berapa banyak pasien yang meregang nyawa di dalam apartemen sewaan itu? Ratusan orang berdatangan dari berbagai belahan dunia untuk mencabut nyawa sendiri di dalam bangunan tersebut.

Selamat datang di Dignitas, organisasi yang membantu orang-orang dengan penyakit fisik akut untuk menjemput ajal. Menurut harian Der Tagesspiegel, pada tahun 2008 saja sudah ada 840 orang yang mengakhiri hidup di Dignitas, tepatnya di salah klinik Dignitas yang berada di Jerman dan Swiss. Jumlah ini semakin berlipat ganda dari tahun ke tahun.

Sekilas tentang Dignitas dan bantuan untuk bunuh diri bagi mereka yang 'tak tertolong lagi'

Dignitas merupakan organisasi nirlaba yang berdiri sejak tahun 1998. Penggagasnya adalah Ludwig Minelli, seorang pengacara asal Swiss. Dalam situs web mereka, Dignitas mengklaim kalau mereka mendukung pilihan manusia dalam memilih 'kehidupan dan akhir kehidupan' masing-masing. Mereka yang menderita penyakit fisik tak tersembuhkan, divonis tak akan hidup lama, atau menderita karena keterbatasan fisik bisa mendatangi Dignitas untuk mengakhiri hidup sesuai keinginan.

dignitas

Ludwig Minelli berdiri di depan salah satu fasilitas Dignitas. ©2016 REX

Awalnya, organisasi ini beroperasi di Swiss di mana assisted suicide (bunuh diri dengan bantuan pihak kedua) diperbolehkan dalam kondisi tertentu. Namun Dignitas lantas mulai beroperasi di Zurich, Jerman. Sekarang, kebanyakan klien mereka berasal dari negerinya Hitler tersebut. Meskipun begitu, warga inggris juga tercatat sebagai klien terbesar Dignitas.

Hidup terhormat, mati pun harus terhormat

Dignitas beserta para kliennya beranggapan kalau mengakhiri hidup sendiri merupakan hak setiap orang. Setiap orang berhak hidup dan mati dengan terhormat. Jika seseorang merasa penyakit atau keterbatasan fisik membuat hidupnya terasa terlalu berat untuk dijalani, maka dia berhak memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Sejak pertama kali berdiri, Dignitas telah menjadi sumber pemberitaan internasional. Sejumlah film dokumenter berdasarkan sudut pandang para klien telah dibuat dan beredar di dunia maya. Keberadaan organisasi ini menjadi perdebatan di antara para pendukung hak bunuh diri dan mereka yang menentangnya.

Organisasi ini juga dituding sebagai pemicu maraknya 'wisata bunuh diri' di Swiss dan Jerman beberapa tahun terakhir.

Butuh proses panjang dan serangkaian dokumen untuk mengakhiri hidup

Meminta bantuan untuk bunuh diri kepada Dignitas sama sekali bukan urusan gampang. Butuh serangkaian proses dan sederet dokumen resmi untuk meyakinkan berbagai pihak kalau pasien memang 'pantas' mati.

"Ketika Anda siap mati, Anda harus mengirimkan salinan catatan medis Anda, surat yang menjelaskan mengapa kondisi ini tak tertahankan [bagi Anda] dan GBP 1.860," Kata Minelli seperti dilansir Express pada tahun 2008.

dignitas

Pemandangan di salah satu kamar pasien Dignitas. ©2016 EPA

Dilansir BBC News, calon klien Dignitas harus menjalani konsultasi pribadi dengan beberapa personel Dignitas dan seorang dokter yang yang beroperasi secara independen. Dokter independen akan menilai keterangan dan dokumen yang diberikan oleh pasien. [tsr] SELANJUTNYA

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Ide Kreatif
  3. Bisnis
  4. Wisata Unik
  5. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini