Bosintang, sup daging anjing yang jadi favorit warga Korea

Rabu, 1 Oktober 2014 10:00 Reporter : Tantri Setyorini
Bosintang, sup daging anjing yang jadi favorit warga Korea Bosintang. ©2014 Merdeka.com/dontstopliving.net

Merdeka.com - Pernah dengar bosintang? Bosintang adalah hidangan tradisional Korea yang dianggap kontroversial oleh penikmat kuliner dari negara lain. Pasalnya hidangan penghangat tubuh ini terbuat dari daging anjing.

Bosintang termasuk jenis guk, bahasa Korea untuk makanan berkuah. Menurut ilmu pengobatan tradisional Korea, bosintang merupakan masakan yang sangat berkhasiat untuk kesehatan. Sup ini dipercaya dapat meningkatkan stamina, menguatkan lima organ vital, menyehatkan sistem pencernaan, serta menghangatkan pinggang dan lutut. Karena itulah ia diberi nama bosintang yang dalam bahasa Indonesia berarti 'sup yang menyehatkan tubuh'. Tetapi makanan ini disebut juga dengan nama gaejangguk yang berarti 'sup daging anjing'.

Photo by www.earthexcursion.com

Menyantap daging anjing di Korea merupakan hal yang biasa, meskipun pada dasarnya peredaran dan konsumsi daging hewan ini tidak diatur dalam peraturan resmi layaknya daging hewan ternak seperti sapi atau ayam. Bosintang tidak dibuat dari sembarang daging anjing. Hanya anjing jenis nureongi yang dagingnya diambil untuk bahan membuat bosintang. Anjing jenis ini di Korea memang khusus dikembangbiakkan untuk keperluan konsumsi.

Photo by Wikia Commons/Caninesrock10591

Photo by avaxnews.net

Gaejangguk atau bosintang sebenarnya bisa dimakan kapan saja. Tetapi ada waktu tertentu yang menurut tradisi dianggap paling tepat untuk menyantap bosintang. Biasanya bosintang disiapkan pada Hari Anjing di bulan ke-6 kalender Korea. Hari Anjing dianggap sebagai hari terpanas dalam setahun. Sebab menurut kepercayaan warga Korea hari tersebut merupakan waktu di mana elemen api mendominasi. Dan karena lawan api adalah logam, diperlukan bahan yang mengandung unsur logam untuk menandinginya. Kemudian dipilihlah daging anjing yang mewakili elemen logam untuk penyeimbang.

Tradisi menyantap daging anjing di Korea sendiri sudah berlangsung sejak berabad-abad lalu. Pada zaman kerajaan, seorang wanita yang telah menikah biasanya membawa hantaran berupa daging anjing dan kue beras sebagai hadiah kepada orang tuanya. Walaupun begitu sekarang ini sudah banyak warga Korea modern yang menolak memakan daging hewan yang umum dijadikan hewan peliharaan ini. Jumlah kedai-kedai tradisional yang menyajikan hidangan ini pun sudah tidak sebanyak dulu lagi.

[tsr]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini