KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Benarkah perjodohan merupakan ide yang buruk bagi kedua pasangan?

Selasa, 6 September 2016 20:00 Reporter : Indra Cahya
Ilustrasi perjodohan. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Banyak yang mengira pasangan yang dijodohkan tak lebih dari kesepakatan dua keluarga kuno dan tidak ada cinta. Namun, ternyata kisah perjodohan seperti dalam sinetron atau film televisi, lebih langgeng ketimbang pasangan yang memulai hubungan dengan jatuh cinta.

Bagaimana bisa?

Yap, berdasarkan penelitian, pasangan yang dijodohkan jauh merasa semakin jatuh cinta seiring dengan waktu. Sementara pasangan reguler, atau yang memulainya dengan perasaan jatuh cinta, tidak menutup kemungkinan akan berkurang rasa cintanya. Menurut penelitian yang diadakan akademisi di Universitas Harvard, pasangan yang dijodohkan berhati-hati dalam mempertimbangkan kecocokan. Mereka dengan lebih hati-hati mencocokkan tujuan hidup dan minat mereka, tanpa menaruh harapan yang tinggi di awal. Mereka akan lebih memiliki komitmen untuk hidup bersama dan komitmen untuk tetap bersama dalam situasi yang sulit, jika kecocokan yang sebenarnya tidak begitu mereka harapkan, ternyata muncul.

Penelitian ini dilakukan setelah melihat tingginya angka perceraian di masyarakat barat. Penelitian inipun didasari pada pemikiran bahwa seharusnya masyarakat memikirkan kembali suatu pendekatan baru terhadap cinta. Robert Epstein melakukan penelitian ini selama delapan tahun, dengan memperhatikan pendekatan serupa yang dilakukan oleh masyarakat India, Pakistan, dan ortodoks Yahudi.

Robert mewawancarai lebih dari 100 orang pasangan yang pernikahannya merupakan hasil perjodohan. Melalui wawancara itu, ia menilai kekuatan perasaan mereka. Dan hasil penelitian itu bertolak belakang dengan penelitian tentang cinta yang dijodohkan di Barat.

Berdasarkan penelitiannya, pasangan suami istri yang awalnya jatuh cinta, dalam waktu 18 bulan rasa cintanya memudar. Beda dengan pasangan yang dijodohkan. Cinta mereka justru semakin tumbuh secara bertahap. Sepuluh tahun kemudian, cinta mereka bahkan dua kali lebih kuat.

Masyarakat Barat umumnya mengutamakan penampilan fisik ketika memilih pasangan. Tetapi, seharusnya mereka bisa membedakan antara cinta dan nafsu. "Ketertarikan secara fisik sangat berbahaya, karena bisa membutakan," kata Robert.

Bagaimanapun, pernikahan adalah hal yang sakral. Kita bisa melihat sisi baik maupun sisi buruk dari pernikahan bentuk apapun Dalam perjodohan pun, ada beberapa hal buruk yang mungkin terjadi; dimana umumnya mereka terpaksa menjalankan pernikahan agar berjalan baik. Serta pasangan yang dijodohkan umumnya memang terlahir dari keluarga yang mengutamakan nilai-nilai tradisional. Bagaimanapun, setiap pasangan manapun yang menginjak jenjang lebih tinggi, tetap harus menemukan 'chemistry' dalam hubungan baru mereka. [idc]

Topik berita Terkait:
  1. Fenomena Perjodohan

Rekomendasi Pilihan

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.