'Kabayan Jadi Presiden', cara seniman kritisi pemerintah

Jumat, 15 Februari 2013 15:11 Reporter : Destriyana
'Kabayan Jadi Presiden', cara seniman kritisi pemerintah Kabayan Jadi Presiden. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Pentas "Kabayan Jadi Presiden" yang diadakan 7 Februari lalu di Gedung Sasana Budaya Ganesha, Bandung, adalah lanjutan dari program INDONESIA KITA yang bekerja sama dengan beberapa seniman-seniman Bandung, seperti Tisna Sanjaya (sebagai Kabayan ), Aat Soreatin, Didi Petet, Hari Pochang, Peggy Melati Sukma, Joe P-Project, Argo, Oni SOS, Herry Antha, Budi Dalton, Mang Imank, dan Kelompok Musik Karinding Attack, Rumah Musik Harry Roesli dan masih banyak lagi.

"Ini lakon komedi yang melihat secara kritis perihal kepemimpinan yang kehilangan kedaulatan," kata Butet Kartaredjasa dalam press release yang diterima Merdeka.com. Kala itu, Butet menjadi salah satu Tim Kreatif INDONESIA KITA bersama Agus Noor dan Djaduk Ferianto.

Karakter Kabayan dinilai berhasil melintasi zaman justru karena sikapnya. Karakter lelaki asal sunda ini selalu menampilkan karakter manusia yang polos, lugu, dan jujur. Sosok Kabayan inilah yang dianggap mewakili figur manusia yang tetap memegang teguh prinsip. Tak peduli kondisi eksternal apa pun. Inilah yang coba digambarkan dalam pertunjukan "Kabayan Jadi Presiden".

Ketika perilaku politikus semakin sulit dipahami, ketika para pemimpin sibuk dengan kepentingannya sendiri dan partainya, rakyat pun gelisah. Mereka rindu pemimpin yang bisa dipercaya. Dalam situasi seperti itu, sosok Kabayan pun muncul. Ini menjadi semacam kerinduan rakyat pada sosok pemimpin yang benar-benar jujur dan bisa dipercaya.

Kabayan sesungguhnya adalah sebuah cara berpikir alternatif. Dirinya ingin dilihat bukan semata sebagai sosok yang dibutuhkan dunia hiburan, tetapi juga di tingkat gagasan. Sosoknya bisa menjadi ikon bagi "pemikiran alternatif" seperti Che Guevara. Ia bisa menjadi inspirasi perubahan melalui jalan kebudayaan.

Dalam konteks saat ini, ketika berlangsung proses Pemilihan Gubernur Jawa Barat, lakon yang menghadirkan sosok Kabayan ini menjadi semakin relevan. Partai-partai politik berlomba-lomba untuk memburu kandidat yang populer, yang mau untuk dikemudikan arah sikapnya kelak jika terpilih.

Kisah yang diangkat di pertunjukkan ini sebenarnya bisa dijadikan rambu-rambu bagi masyarakat menjelang pemilu bahwa kita tidak lagi hanya bisa mengandalkan karakter sosok yang dipilih tetapi harus lebih jeli untuk melihat unsur apa yang mendukung di balik itu. Justru kekuatan yang berada di belakang, wajib diwaspadai. Mengingat merekalah yang memiliki kepentingan besar untuk mendapatkan keuntungan dari rakyat.

Maka ketika "Kabayan Jadi Presiden" dipentaskan (ulang) di Bandung, ia menjadi sebuah peristiwa budaya yang tidak hanya bermakna sebuah pertunjukan. Peristiwa ini menjadi semacam peristiwa "Kabayan pulang kampung", pulang ke rumah dan jiwa yang membesarkannya, ke jiwa rakyat yang menjadi sumber inspirasi kehidupannya. Kabayan seperti diingatkan: ia harus selalu dekat dan berada dalam jiwa rakyat yang mencintainya. Seperti inilah, semestinya, seorang pemimpin sejati.

Pesan inilah yang didapatkan oleh penonton lewat pertunjukkan "Kabayan Jadi Presiden". Sebuah hiburan yang tak hanya kental dengan sentilan-sentilan, tetapi juga mengingatkan apa yang sebentar lagi akan terjadi. Sekaligus memperlihatkan bahwa mempertahankan kejujuran dan idealisme telah menjadi barang langka di negeri ini, terutama untuk sosok pemimpin. [des]

Topik berita Terkait:
  1. Hobi Unik
  2. Seniman Indonesia
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini