WHO Hentikan Kajian Hydroxychloroquine Sebagai Obat Covid-19 Karena Berbahaya

Selasa, 26 Mei 2020 11:24 Reporter : Hari Ariyanti
WHO Hentikan Kajian Hydroxychloroquine Sebagai Obat Covid-19 Karena Berbahaya obat tablet mengandung hydroxychloroquine untuk mengobati corona. ©AFP

Merdeka.com - Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan pihaknya menghentikan sementara kajian terhadap hydroxychloroquine sebagai obat potensial Covid-19 karena masalah keamanan. Hal ini disampaikan dalam konferensi pers pada Senin di Jenewa.

Keputusan ini dibuat setelah studi observasi diterbitkan pada Jumat dalam jurnal kedokteran The Lancet. Dalam jurnal dijelaskan bagaimana pasien Covid-19 yang parah yang diobati dengan hydroxychloroquine dan chloroquine menjadi makin parah dan hampir mati.

Tedros mengatakan, kelompok eksekutif independen sekarang sedang meninjau penggunaan hydroxychloroquine dalam Uji Coba Solidaritas WHO.
Kelompok eksekutif mewakili 10 negara peserta dalam persidangan.

"Tinjauan ini akan mempertimbangkan data yang dikumpulkan sejauh ini dalam Uji Solidaritas dan, khususnya data acak yang kuat, untuk secara memadai mengevaluasi potensi manfaat dan bahaya dari obat ini," jelas Tedros, dilansir dari CNN, Selasa (26/5).

"Kelompok Eksekutif telah menerapkan jeda sementara hydroxychloroquine dalam Uji Coba Solidaritas sementara yang ditinjau oleh Dewan Pemantau Keamanan Data."

1 dari 1 halaman

Trump minum hydroxychloroquine setiap hari

hydroxychloroquine setiap hari

Uji coba, yang melibatkan secara aktif pasien dari 400 lebih rumah sakit di 35 negara, adalah upaya penelitian global untuk menemukan terapi yang aman dan efektif untuk Covid-19.

Tedros menambahkan, uji coba lainnya sedang berlangsung.

"Kekhawatiran ini terkait dengan penggunaan hydroxychloroquine dan chloroquine dalam Covid-19," katanya.

"Saya ingin menegaskan kembali bahwa obat ini diterima karena secara umum aman untuk digunakan pada pasien dengan penyakit autoimun atau malaria."

Kepala Ilmuwan WHO, Dr. Soumya Swaminathan, pada Senin mengatakan uji coba hanya menggunakan hydroxychloroquine, tak lagi menggunakan chloroquine yang berbahaya.

Pada 18 Mei, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengaku menggunakan hydroxychloroquine setiap hari.

Trump mengaku menggunakan obat anti malaria utu setelah konsultasi dengan dokter Gedung Putih.

Trump mengatakan tidak terpapar virus corona, tapi mulai meminum obat tersebut karena mendengar dari pihak garda terdepan yang mengiriminya surat mengatakan mereka menggunakan obat tersebut untuk pencegahan.

Pernyataan Trump soal obat ini membuat penjualan hydroxychloroquine melonjak. [pan]

Baca juga:
Trump Mengaku Minum Obat Anti-Malaria Meski Ahli Sebut Punya Efek Samping Berbahaya
Ilmuwan di China Percaya Obat Baru Bisa Hentikan Pandemi Tanpa Vaksin
Uji Coba ke Hewan Sukses, Peneliti China Kian Dekat dengan Vaksin Corona
Hasil Penelitian: Antibodi SARS Bisa Cegah Infeksi Covid-19
Kabar Bahagia, Hasil Uji Awal Vaksin Corona di AS Menggembirakan

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini