Wanita sakit parah gelar pesta perpisahan sebelum bunuh diri

Senin, 15 Agustus 2016 08:21 Reporter : Muhammad Radityo
Wanita sakit parah gelar pesta perpisahan sebelum bunuh diri Betsy Davis (berbaring) menggelar pesta sebelum euthanasia. ©2016 Merdeka.com/AP Photo

Merdeka.com - Betsy Davis (41) menggelar pesta perpisahan, secara harfiah, bersama sahabat-sahabatnya sebelum mengakhiri hidup. Para tamu undangan berusaha bersikap santai walau memahami pertemuan itu adalah saat-saat akhir melihat Davis dalam keadaan hidup.

Pesta unik ini digelar di California, Amerika Serikat. Davis mengidap penyakit Amyotrophic lateral sclerosis (ALS) biasa disebut ALS. Dia sudah tidak mungkin lagi disembuhkan.

Chicago Tribune melaporkan, Minggu (14/8), wanita yang berprofesi sebagai seniman teater itu kemudian mengajukan izin resmi menjalani euthanasia. Tahun ini Negara Bagian California mengizinkan warganya bunuh diri dengan bantuan dokter, asalkan mengidap penyakit tak bisa disembuhkan.

Setelah izin dari pemerintah turun, Davis segera membuat undangan kepada lebih dari 30 teman terdekatnya untuk datang pada 23-24 Juli lalu. Di dalam undangan itu dijelaskan secara rinci bahwa Davis akan segera menjalani euthanasia. Mereka boleh datang, bersenang-senang, menghibur tamu lain, atau melakukan apapun manasuka. Syaratnya satu: tidak boleh menangis di hadapan Davis.

"Bagi saya dan kawan-kawan lain yang diundang, rasanya sangat berat. Tapi kami ingin hadir di sana memberinya semangat menghadapi takdir," kata Niels Alpert, rekan fotografer dari New York.

Betsy Davis diantar para sahabat sebelum euthanasia (c) 2016 Merdeka.com/AP Photo



Para sahabat mengatakan di detik-detik akhir hidupnya, Davis menyantap pizza dari restoran favoritnya, menenggak cocktail, serta menyaksikan film-film kesukaan. Pada 24 Juli pukul 18.45 waktu setempat, Davis berada sendirian di vila puncak bukit, dekat lokasi pesta. Dia menenggak resep yang sudah diberikan dokter, yakni campuran morfin, pentobarbital, dan beberapa bahan kimia lainnya. Davis meninggal empat jam kemudian dalam tidurnya.

Di Amerika Serikat, ada empat negara bagian telah mengizinkan warga menjalani euthanasia atas persetujuan dokter. Wilayah pertama kali menerapkannya adalah Oregon pada 1997.

ALS adalah penyakit penurunan fungsi (degeneratif) sel saraf motorik yang berkembang cepat, memicu kerusakan saraf lainya. Tiga tahun lalu Davis masih bisa berjalan. Namun setahun terakhir dia harus menggunakan kursi roda. Dokter memperkirakan dalam hitungan bulan Davis lumpuh total, disusul mengalami pelemahan kemampuan saraf memproses informasi.

Pengidap ALS paling lama hanya bisa bertahan 10 tahun setelah divonis pertama kali. Pemicu penyakit langka ini diduga kelainan genetis, tapi jumlah pengidapnya sangat sedikit di dunia ini.

[ard]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini