Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Vaksinasi Pertama di AS Diberikan Pada Petugas Kesehatan & Perawat Panti Jompo

Vaksinasi Pertama di AS Diberikan Pada Petugas Kesehatan & Perawat Panti Jompo Ilustrasi suntikan. Shutterstock/Dragon Images

Merdeka.com - Vaksinasi pertama di Amerika Serikat (AS) akan diberikan pada petugas kesehatan dan perawat di panti jompo. Hal ini ditetapkan oleh panel penasihat pemerintah pada Selasa.

Sebanyak 13 anggota panel memilih merekomendasikan kelompok tersebut menjadi prioritas dalam hari pertama program vaksinasi, ketika dosis vaksin diperkirakan sangat terbatas. Dua kelompok ini mencakup 24 juta orang dari 330 juta populasi AS. Demikian dikutip dari AP, Rabu (2/12).

Bulan ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) akan memutuskan otorisasi penggunaan darurat dua vaksin buatan Pfizer dan Moderna. Perkiraaan saat ini tak lebih dari masing-masing 20 juta dosis vaksin akan tersedia akhir tahun ini. Dan setiap produk vaksin memerlukan dua dosis.

Komite Penasihat Praktik Imunisasi akan rapat kembali untuk memutuskan siapa yang akan divaksin selanjutnya. Ada beberapa kemungkinan: guru, polisi, petugas pemadam kebakaran, dan pekerja di sektor penting seperti produksi makanan dan transportasi; lansia; dan orang yang memiliki penyakit bawaan.

Panel tidak merekomendasikan satu vaksin tertentu. Anggota panel menunggu evaluasi FDA dan melihat data vaksin yang lebih aman dan efektif sebelum merekomendasikan satu produk vaksin secara khusus.

Tiap satu menit satu orang meninggal karena Covid-19 di AS

Para ahli memperkirakan vaksin kemungkinan tak akan tersedia secara luas di AS sampai musim semi mendatang.

Panel ini dibentukan pada 1964, memberi rekomendasi pada Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit. Panel ini memiliki 15 anggota, tapi satu kursi anggota saat ini kosong.

Rekomendasi mereka tak mengikat, dan tergantung dari pemerintah negara bagian apakah akan mengikuti pedoman tersebut. Negara bagian juga bisa membuat keputusan lebih rinci jika diperlukan, misalnta apakah akan mendahulukan dokter dan perawat untuk divaksin dari petugas kesehatan lainnya jika persediaan vaksin terbatas.

Wabah virus corona di AS telah menewaskan hampir 270.000 orang dan tercatat lebih dari 13,5 juta kasus infeksi, di mana angka kematian, rawat inap, dan kasus melonjak dalam beberapa pekan terakhir.

Anggota panel, Dr. Beth Bell dari Universitas Washington menekankan rata-rata satu orang meninggal dunia dalam satu menit karena Covid-19 di AS.

Sekitar 3 juta orang tinggal di panti jompo dan fasilitas kesehatan lainnya. Pejabat CDC mengatakan, 6 persen dari para pasien dan petugas kesehatan di fasilitas tersebut menyumbang kasus virus corona dan 39 persen angka kematian.

Tenaga kesehatan mencapai 21 juta orang

Peneliti penyakit menular Universitas Vanderbilt, Dr. Helen Keipp Talbot, satu-satunya anggota panel yang menolak rekomendasi tersebut, mengutip penelitian terkait flu yang menemukan vaksinasi terhadap petugas di panti jompo memiliki dampak besar penyebaran virus di fasilitas tersebut.

Peneliti vaksin Universitas Pittsburgh, Dr. Richard Zimmerman, yang menyaksikan rapat tersebut secara online menyuarakan kekhawatiran Talbot.

"Menurut saya itu terlalu dini untuk memasukkan penghuni panti jompo sebagai kelompok prioritas," kata Zimmerman.

Pejabat CDC mengatakan, anggota komite sepakat dalam menyuarakan dukungan untuk vaksinasi petugas kesehatan yang jumlahnya sekitar 21 juta orang. Pemerintah memperkirakan petugas perawatan kesehatan menyumbang 12 persen kasus Covid-19 AS tapi hanya sekitar 0,5 persen kematian.

Selama berbulan-bulan, anggota panel imunisasi mengatakan mereka tidak akan memberikan suara sampai FDA menyetujui vaksin. Namun akhir pekan lalu, kelompok itu menjadwalkan pertemuan darurat.

Ketua panel, Dr. Jose Romero, mengatakan keputusan tersebut berasal dari kesadaran bahwa negara bagian menghadapi tenggat waktu pada Jumat untuk memesan awal vaksin Pfizer dan menentukan ke mana mereka harus dikirim. Dia mengatakan, panitia memutuskan untuk rapat untuk memberikan arahan kepada pejabat negara bagian dan lokal

Tetapi beberapa anggota panel dan ahli lainnya juga menjadi khawatir dengan komentar dari pejabat pemerintahan Donald Trump yang menyarankan prioritas vaksin untuk kelompok berbeda.

Deborah Birx dari gugus tugas virus corona Gedung Putih mengatakan dalam pertemuan dengan pejabat CDC bulan lalu bahwa orang yang berusia 65 tahun ke atas harus menjadi yang terdepan, menurut seorang pejabat federal yang tidak berwenang untuk membahas masalah tersebut dan berbicara dengan The Associated Press dengan syarat anonimitas.

Pekan lalu Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS Alex Azar menekankan pada akhirnya gubernur akan memutuskan siapa di negara bagian mereka yang akan mengambil keputusan. Wakil Presiden Mike Pence juga menyuarakan hal itu.

Profesor kebijakan kesehatan Yale School of Public Health, Jason Schwartz mengatakan masuk akal bagi panel untuk mengambil langkah yang tidak biasa untuk mengeluarkan rekomendasinya terlebih dahulu.

"Tanpa rekomendasi resmi, hal itu menciptakan kekosongan di mana negara bagian dapat bergerak ke segala arah yang berbeda," jelasnya.

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP
Disinyalir Ada Efek Samping Pendarahan Otak, Sudah 70 Juta Vaksin AstraZeneca Disuntikkan ke Rakyat Indonesia
Disinyalir Ada Efek Samping Pendarahan Otak, Sudah 70 Juta Vaksin AstraZeneca Disuntikkan ke Rakyat Indonesia

Indonesia merupakan negara dengan peringkat keempat terbesar di dunia yang melakukan vaksinasi COVID-19.

Baca Selengkapnya
Gaduh Efek Samping Vaksin AstraZeneca, Komnas KIPI: Tidak Sebabkan Kasus Pembekuan Otak di Indonesia
Gaduh Efek Samping Vaksin AstraZeneca, Komnas KIPI: Tidak Sebabkan Kasus Pembekuan Otak di Indonesia

Jamie Scott, seorang pria beranak dua mengalami cedera otak serius setelah mengalami penggumpalan darah dan pendarahan di otak usai mendapatkan vaksin itu p

Baca Selengkapnya
Negara Ini Resmi Umumkan 16 Jenis Serangga yang Boleh Dimakan, Ada Belalang dan Jangkrik
Negara Ini Resmi Umumkan 16 Jenis Serangga yang Boleh Dimakan, Ada Belalang dan Jangkrik

Negara Ini Resmi Umumkan 16 Jenis Serangga yang Boleh Dimakan, Ada Belalang dan Jangkrik

Baca Selengkapnya
Kamu sudah membaca beberapa halaman,Berikut rekomendasi
video untuk kamu.
SWIPE UP
Untuk melanjutkan membaca.
Penjelasan Ahli Kesehatan Usai Heboh Efek Samping Vaksin AstraZeneca hingga Ditarik dari Peredaran
Penjelasan Ahli Kesehatan Usai Heboh Efek Samping Vaksin AstraZeneca hingga Ditarik dari Peredaran

Komnas KIPI sebelumnya mengatakan tidak ada kejadian sindrom TTS setelah pemakaian vaksin Covid-19 AstraZeneca.

Baca Selengkapnya
Menuju Indonesia Adil Makmur, Anies Janjikan Akses Kesehatan Berkualitas
Menuju Indonesia Adil Makmur, Anies Janjikan Akses Kesehatan Berkualitas

Peran pemangku kepentingan diperlukan agar tidak menciptakan kebijakan yang saling tumpang tindih.

Baca Selengkapnya
Obat Penyakit ini Dicoba Dibuat di Luar Angkasa, Bagaimana Hasilnya?
Obat Penyakit ini Dicoba Dibuat di Luar Angkasa, Bagaimana Hasilnya?

Ini merupakan kali pertama sebuah perusahaan sukses membuat obat di ruang hampa udara.

Baca Selengkapnya
Airlangga Ungkap Kunci Penting Indonesia Emas Bisa Terwujud di 2045
Airlangga Ungkap Kunci Penting Indonesia Emas Bisa Terwujud di 2045

Kebijakan ini mencakup inisiatif untuk mendorong industri farmasi, meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan,

Baca Selengkapnya
Klaim Tak Ada Kaitan Vaksin AstraZeneca dengan Kasus TTS, Komnas KIPI Sebut Sudah Surveilans di 7 Provinsi
Klaim Tak Ada Kaitan Vaksin AstraZeneca dengan Kasus TTS, Komnas KIPI Sebut Sudah Surveilans di 7 Provinsi

Hinky mengatakan, vaksin AstraZeneca sudah melewati tahap uji klinis tahap 1 hingga 4.

Baca Selengkapnya
Diduga Malapraktik Pasien Berobat Maag Malah Alami Ginjal Bengkak Lalu Meninggal, Ini Klarifikasi Bidan
Diduga Malapraktik Pasien Berobat Maag Malah Alami Ginjal Bengkak Lalu Meninggal, Ini Klarifikasi Bidan

ZN mengaku tidak memberikan obat keras dalam jumlah banyak menggunakan suntikan ke tubuh pasiennya

Baca Selengkapnya