Usai teror Nice, politikus AS usul muslim taat syariah dideportasi

Jumat, 15 Juli 2016 12:37 Reporter : Ardyan Mohamad
Usai teror Nice, politikus AS usul muslim taat syariah dideportasi Politikus Amerika Serikat Newt Gingrich. ©AFP

Merdeka.com - Serangan truk di Kota Nice, Prancis, tadi malam segera memicu gelombang Islamofobia. Politikus sayap kanan negara-negara Barat bereaksi menyalahkan kelompok militan Islam atas insiden menewaskan 80 orang itu.

Salah satu yang berkomentar paling keras adalah Newt Gingrich, politikus Partai Republik Amerika Serikat. Pria yang disebut berpotensi menjadi calon Wakil Presiden mendampingi Donald Trump itu menyerukan kebijakan deportasi warga beragama Islam. Khususnya muslim yang meyakini syariat Islam.

"Kita secara harfiah harus melakukan tes kepada setiap orang di negara ini yang beragama Islam. Jika mereka percaya pada syariat Islam, saya pikir mereka harus dideportasi," kata Gingrich.

Dia mengklaim gagasannya bukanlah Islamofobia. Gingrich mengaku kenal banyak warga AS beragama Islam yang berpikiran modern. Sedangkan baginya syariat Islam adalah pemikiran terbelakang, agresif, tidak cocok dengan budaya barat.

"Selain itu, orang Islam yang ketahuan sering mengakses situs-situs teror atau berpaham radikal harus langsung dipenjara," ujarnya.

truk maut di nice prancis

Truk maut di Nice Prancis (c) 2016 REUTERS/Eric Gaillard



Donald Trump, kandidat presiden AS, membatalkan pengumuman calon wapresnya akibat insiden ini. Lewat akun Twitter, dia menulis ucapan bela sungkawa bagi warga Prancis yang menjadi korban. "Situasi di banyak negara semakin memburuk akibat terorisme," kata Trump.

Warga Kota Nice masih dalam suasana terkejut akibat aksi sopir truk menabrakkan kendaraan ke kerumunan orang tadi malam. Dalam truk itu juga terdapat granat, senjata api, serta ribuan amunisi. "Saya kehilangan kata-kata. Saya tidak tahu apakah pemerintah kami bisa melakukan sesuatu," kata warga bernama Damian.

Saksi mata mengaku kejadian itu berlangsung begitu cepat. Truk menghantam ratusan orang yang sedang memadati ruas jalan Promenade des Anglais, di pinggir kota Nice. "Tubuh-tubuh berjatuhan seperti pin terkena bola bowling," kata salah satu jurnalis lokal yang sedang berada di lokasi. Setelah truk berhenti, sopir yang diidentifikasi sebagai warga Prancis keturunan Tunisia menembaki orang-orang. Pria 31 tahun itu kemudian ditembak mati oleh polisi.

Presiden Francois Hollande dalam pidatonya mengecam keras aksi terorisme yang terjadi di Nice. Dia secara tersirat menuding jaringan militan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) sebagai dalang serangan truk tersebut.

"Tidak ada yang bisa membuat kita menyerah memerangi terorisme. Kita (Prancis) akan memperkuat aksi kita melawan terorisme di Irak dan Suriah," ujarnya.

Serangan truk di Nice menjadi insiden terorisme terburuk kedua sepanjang sejarah Prancis. Adapun aksi teroris yang paling parah adalah serangan terkoordinasi di Ibu Kota Paris pada November 2015, yang menewaskan 130 orang.Sampai sekarang belum ada kelompok teror mengaku bertanggungjawab atas serangan di Nice. [ard]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini