Unjuk Rasa Berlanjut, Polisi dan Demonstran Bentrok di Mal Hong Kong

Senin, 15 Juli 2019 12:05 Reporter : Merdeka
Unjuk Rasa Berlanjut, Polisi dan Demonstran Bentrok di Mal Hong Kong Aksi demo di Hong Kong. ©AFP/HECTOR RETAMAL

Merdeka.com - Bentrokan kembali terjadi dalam lanjutan aksi unjuk rasa menolak RUU Ekstradisi di Hong Kong, Minggu (14/7). Bentrokan terjadi antara polisi anti huru hara dengan demonstran di sebuah mal terkemuka di Hong Kong.

Dilansir dari Channel News Asia, Senin (15/7), polisi menggunakan semprotan merica dan pentungan untuk membubarkan sejumlah kelompok kecil pengunjuk rasa, yang dibalas dengan lemparan botol dan proyektil lainnya. Bentrokan kemarin terjadi pada akhir unjuk rasa besar lainnya, di mana kali ini berpusat di Sha Tin, sebuah distrik yang terletak di area pemukiman utama di sekitar pelabuhan Hong Kong dan perbatasan dengan China daratan.

Kekerasan pecah dalam waktu singkat setelah demonstrasi di sore hari, ketika para demonstran merebut persimpangan dan membangun barikade, menyebabkan bentrokan selama berjam-jam dengan polisi anti huru hara. Namun bentrokan terburuk justru terjadi pada malam harinya di dalam sebuah mal, di mana ratusan demonstran melarikan diri setelah polisi bergerak ke barikade dan kemudian menyerbu mereka, lapor kantor berita AFP.

Begitu masuk, kekacauan meletus ketika polisi dilempari dari atas oleh para demonstran. Satu petugas terlihat pingsan dan ada darah di lantai mal.

Polisi dengan perisai dan pentungan dikerahkan ke lantai yang lebih tinggi dan melakukan beberapa penangkapan di sebuah gedung yang dipenuhi deretan toko pakaian mewah. Tenaga medis sukarelawan juga terlihat memberikan bantuan kepada beberapa demonstran yang pingsan.

Pada pukul 22.00 waktu setempat, sebagian besar pengunjuk rasa telah meninggalkan daerah itu. Hong Kong telah diguncang oleh protes besar selama lebih dari sebulan, yang sebagian besar berlangsung damai.

Unjuk rasa dipicu RUU Ekstradisi yang kemungkinan akan membawa tersangka untuk diadili secara sepihak di China daratan. Bulan lalu, gedung Parlemen Hong Kong dihancurkan ratusan pengunjuk rasa yang dipimpin barisan pemuda.

Kini, RUU Ekstradisi telah ditangguhkan, namun tidak banyak membantu memadamkan kemarahan publik yang telah berkembang menjadi gerakan untuk menuntut reformasi demokratis, hak pilih universal, dan penghentian upaya pembungkaman suara di Hong Kong. Para pengunjuk rasa juga menuntut RUU itu dihapuskan seluruhnya, serta mendesak penyelidikan independen pada polisi atas penggunaan gas air mata dan peluru karet, amnesti bagi mereka yang ditangkap, dan meminta kepala eksekutif Hong Kong Carrie Lam mundur.

Reporter: Happy Ferdian Syah Utomo
Sumber: Liputan6 [pan]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Protes Hong Kong
  3. Hong Kong
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini