Turki Kutuk China atas Penyiksaan dan Cuci Otak Politik di Xinjiang

Senin, 11 Februari 2019 12:11 Reporter : Hari Ariyanti
Turki Kutuk China atas Penyiksaan dan Cuci Otak Politik di Xinjiang kamp konsentrasi warga muslim uighur di China. ©Reuters

Merdeka.com - Turki mengecam kamp "pendidikan ulang" Beijing yang kontroversial di wilayah barat Xinjiang, China, dan menyebutnya sangat memalukan bagi kemanusiaan. Dalam pernyataan yang lebih keras, juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki, Hami Aksoy mengatakan ratusan ribu tahanan menjadi sasaran "penyiksaan dan pencucian otak politik" di kamp-kamp China.

"Kami menyerukan kepada masyarakat internasional dan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengambil langkah-langkah efektif untuk mengakhiri tragedi kemanusiaan ini di Xinjiang," tegasnya dilansir dari CNN, Senin (11/2). Dia mengklaim ribuan anak telah dipisahkan dari orang tua mereka oleh pemerintah China.

Namun media yang dikelola pemerintah China membantah keras beberapa tudingan Turki, dengan menyebut mereka "melanggar fakta," termasuk tuduhan penyanyi tradisional Uyghur Abdurehim Heyit meninggal di penjara.

Sebanyak 2 juta muslim Uighur diperkirakan telah ditahan di penjara-penjara besar di wilayah barat jauh China, menurut laporan pemerintah Amerika Serikat (AS). Krisis kemanusiaan di Xinjiang telah menuai kritik keras dari berbagai belahan dunia. Saat sidang PBB pada November 2018, belasan negara menyeru Beijing mengakhiri penahanan sewenang-wenang masyarakat Uighur.

Beijing telah berulang kali menyangkal penahahan rakyat Uighur dan menyebut kamp-kamp itu sebagai "pusat pelatihan kejuruan" untuk memberikan pendidikan kepada warga Uighur.

Gubernur Xinjiang Shohrat Zakir, yang juga seorang Uighur, mengatakan kepada kantor berita Xinhua yang dikelola pemerintah pada Oktober bahwa "Xinjiang tidak hanya indah tetapi juga aman dan stabil."

Tetapi Aksoy mengklaim pemerintah China melakukan kampanye yang disengaja untuk memberantas "identitas etnis, agama dan budaya Turki Uighur dan komunitas Muslim lainnya di wilayah tersebut."

"Diperkenalkannya kembali kamp-kamp interniran di abad ke-21 dan kebijakan asimilasi sistematis terhadap orang-orang Turki Uighur yang dilakukan oleh pihak berwenang China merupakan hal yang memalukan bagi kemanusiaan," jelasnya dalam pernyataan itu.

Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan telah mengetahui penyanyi Abdurehim Heyit, yang dipenjara selama delapan tahun karena salah satu lagunya, meninggal dalam tahanan.

"Tragedi ini semakin memperkuat reaksi opini publik Turki terhadap pelanggaran hak asasi manusia serius yang dilakukan di wilayah Xinjiang. Kami berharap tanggapan sah ini akan diperhitungkan oleh otoritas China," kata pernyataan itu.

Chinese Radio International (CRI) yang dikelola pemerintah merilis sebuah video di situs web Turki-nya yang memperlihatkan Abdurehim Heyit dalam keadaan hidup.

"Hari ini 10 Februari 2019, saya sedang dalam proses penyelidikan karena diduga melanggar undang-undang nasional. Saya sekarang dalam keadaan sehat dan tidak pernah dilecehkan," kata musisi itu terbata-bata dalam video.

Melalui sosial media, CRI menyatakan video itu adalah bukti bahwa Heyit dalam keadaan sehat dan tuduhan Turki tak berdasar. Pernyataan dari Kementerian Luar Negeri China menyatakan kamp-kamp tersebut terbuka bagi dunia.

"Kami telah mengundang lebih dari 12 duta besar berbagai negara ke China dan juga koresponden internasional, termasuk Turki salah satunya untuk mengunjungi Xinjiang," kata pernyataan itu.

Kementerian Luar Negeri China juga meminta Turki menarik tuduhan tak berdasarnya, mengklaim kedua negara tengah menghadapi situasi anti terorisme yang berat.

Negara-negara mayoritas Muslim mengecam tindakan Beijing di Xinjiang. Pada bulan Desember, pemerintah Indonesia memanggil duta besar China dan meminta penjelasan atas tindakan mereka terhadap masyarakat Uighur. Selain itu demonstrasi skala besar digelar di Turki dan Indonesia mengecam Beijing selama setahun terakhir.

Protes ini terjadi saat para aktivis HAM dan mantan tahanan menggambarkan kematian dan penyiksaan di dalam kamp-kamp Xinjiang Beijing. Mantan tahanan Mihrigul Tursun mengatakan kepada CNN pada bulan Januari bahwa ia melihat sembilan rekan narapidana meninggal selama di pusat-pusat penahanan, di dalam sel yang begitu penuh sesak sehingga tidak ada ruang yang cukup bagi setiap orang untuk duduk. [noe]

Topik berita Terkait:
  1. Muslim Uighur
  2. Uighur
  3. Turki
  4. China
  5. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini