Turki dan Rusia di Ambang Perang Gara-Gara Suriah

Jumat, 21 Februari 2020 06:10 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta
Turki dan Rusia di Ambang Perang Gara-Gara Suriah Tank-tank Turki. ©2019 REUTERS/Stoyan Nenov

Merdeka.com - Konflik Turki dan Rusia di ujung tanduk. Awal mula terjadinya potensi konflik antara keduanya setelah sebagian wilayah yang tadinya dikuasai pemberontak kembali direbut oleh pasukan pemerintah Suriah, terutama di wilayah Provinsi Idlib yang menjadi kantong terakhir lokasi pemberontak didukung Turki.

Seperti diketahui, pemberontak Suriah didukung Turki dan tentara pemerintah Suriah didukung Rusia. Padahal pada September 2018, Turki, Rusia, dan Iran--para pemain utama dalam konflik di Suriah--sepakat menjadikan Provinsi Idlib sebagai zona de-eskalasi dan menyatakan segala bentuk serangan ke daerah itu dilarang tapi setiap pihak boleh mendirikan pos pemantauan militer.

Namun pada kenyataannya masing-masing kubu saling menyalahkan atas pelanggaran kesepakatan itu dan sejumlah gencatan senjata gagal bertahan.

1 dari 7 halaman

Mengusir Pemberontak dari Idlib

Pasukan Suriah yang setia kepada Presiden Basyar al-Assad kini makin gencar melancarkan serangan ke kantong terakhir pemberontak di Idlib dan sudah berhasil menguasai penuh Aleppo.

Sekitar 900.000 warga di Idlib terpaksa mengungsi dan mencari perlindungan dalam tiga bulan belakangan, termasuk sekitar 500.000 anak sejak pasukan Suriah melancarkan operasi besar-besaran ke Idlib.

Pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan soal bencana kemanusiaan di wilayah barat laut Suriah yang kini dilanda peperangan.

Presiden Suriah Bashar al-Assad berjanji akan terus melanjutkan operasi dan membebaskan seluruh jengkal wilayah Suriah dari tangan pemberontak.

2 dari 7 halaman

13 Tentara Turki Tewas

Tentara Turki berulang kali dibunuh tentara Suriah dan Ankara menyatakan akan membalas dendam kematian mereka. Perang kedua negara tidak terhindarkan lagi tapi di saat itulah Rusia bisa terlibat untuk mengajukan perundingan. Rusia selama ini mendukung Suriah tapi Negeri Beruang Merah itu juga berteman dengan Turki.

Ankara yang selama ini menyokong sejumlah kelompok pemberontak di sebelah barat laut Suriah berang lantaran serangan pasukan pemerintah Suriah di Idlib menewaskan 13 tentara Turki dalam dua pekan terakhir.

3 dari 7 halaman

Presiden Turki Ancam Usir Pasukan Suriah dari Idlib

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berjanji akan memukul mundur pasukan Suriah keluar dari zona de-eskalasi sebelum akhir Februari. Dia juga mengancam akan melancarkan serangan militer besar-besaran ke seluruh wilayah jika Damaskus menyerang tentara Turki.

"Kami tidak akan menyerahkan Idlib kepada rezim Suriah yang tidak paham dengan tekad kami dan kami menolak siapa pun yang mendesak kami untuk melakukannya," kata Erdogan.

Erdogan mengatakan kemungkinan jet tempur Turki dan Rusia akan terlibat pertempuran di Idlib.

"Pesawat tempur yang mengebom warga sipil di Idlib tidak akan bisa lagi leluasa terbang," ancam Erdogan Rabu lalu. Yang dia maksud dengan pesawat itu tentu adalah jet tempur Rusia.

Seperti diketahui, di Idlib ada sekitar 4 juta warga sipil terjebak dan terkepung, sebagian oleh para ekstremis Al- Qaidah dan pemberontak. Intelijen negara Barat menganggap kaum ekstremis ini adalah ancaman, tapi mereka tidak tahu bagaimana menghadapinya. Moskow dan Damaskus menyebut mereka adalah ancaman dan bermaksud menguasai kembali Idlib.

4 dari 7 halaman

Kirim Pasukan Militer

Salah satu sumber militer di lapangan menyebut Turki mengirimkan sejumlah kendaraan militer masuk ke Suriah untuk kelompok pemberontak Jabhat al-Nusra. Menurut sumber itu, di Idlib saat ini ada lebih dari 70 tank Turki dan sekitar 200 kendaraan lapis baja serta 80 artileri.

Tak hanya itu, sistem pertahanan udara MANPAD buatan Amerika Serikat juga dipakai oleh kelompok pemberontak di Idlib yang dipasok dari militer Turki.

Pengerahan kendaraan militer ini terjadi setelah Ankara melancarkan serangan kepada pasukan Suriah dengan alasan Damaskus melanggar kesepakatan gencatan senjata usai sejumlah tentara Turki tewas dalam serangan di pos pengamatan mereka di Idlib.

5 dari 7 halaman

Beri Seragam untuk Pemberontak Suriah

Salah satu sumber militer juga mengatakan Turki memberi pakaian seragam militer tentara Turki kepada para pemberontak di Idlib. Hal ini menimbulkan kekhawatiran karena pemberontak bisa menyerang pasukan Suriah dengan menyamar sebagai tentara Turki sementara Suriah dan sekutunya berupaya menghindari kontak langsung semacam itu.

Turki, kata sumber militer itu, diduga terus mengirimkan personel militer, senjata, dan kendaraan militer ke Idlib meski di sisi lain Ankara menyebut mereka ingin ada solusi diplomatik atas konflik yang terjadi.

6 dari 7 halaman

Rusia Tetap Dukung Pemerintah Suriah

Perwakilan tetap Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzia mengumumkan pada Rabu negaranya akan terus mendukung pemerintahan sah di Suriah dalam memerangi terorisme.

"Kami tidak akan berhenti mendukung pemerintahan sah di Suriah, yang sedang berperang melawan terorisme internasional," jelasnya saat sidang Dewan Keamanan PBB, dikutip dari Almasdar News, Kamis (20/2).

"Kami akan melanjutkan upaya kami untuk normalisasi situasi di Suriah. Kami memandang penting membangun ikatan bersejarah antara sejumlah kelompok etnis di Suriah, yang menderita parah saat ada upaya menghancurkan negara itu," lanjutnya.

"Mereka harus berhenti melindungi militan. Menyiapkan dalih politik untuk para teroris, menggambarkan mereka sebagai revolusioner, dan memaksa pemerintah Suriah bernegosiasi dengan mereka tak akan berhasil".

7 dari 7 halaman

Rusia Tetap Dukung Tentara Suriah di Idlib

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov mengonfirmasi bahwa Rusia mendukung tentara Suriah di Idlib dan akan terus melakukannya. Lavrov mengatakan dalam sebuah konferensi pers setelah bertemu dengan timpalannya dari Yordania.

"Garis demiliterisasi belum ditetapkan di sepanjang wilayah Idlib; selain itu, penembakan berlanjut dari zona de-eskalasi di situs-situs tentara Suriah, dan target-target sipil dan ada upaya untuk menyerang pangkalan kami di Hmeimim .

"Kami siap bekerja dengan Turki, pada tingkat tertinggi," seraya menekankan bahwa tidak ada persiapan untuk bertemu dengan Putin dan Erdogan. [dan]

Baca juga:
Rusia Tanggapi Ancaman Turki: Kami Tidak Akan Berhenti Dukung Pemerintah Suriah
Turki Peringatkan China, Tak Semua Uighur Itu Teroris
Ancaman Erdogan dan Bentrokan Turki-Rusia di Suriah yang Tak Terelakkan
Situasi Kian Genting, Turki Kirim 300 Kendaraan Militer ke Suriah
Pertama Kali Setelah 9 Tahun, Perang Besar Turki-Suriah di Ambang Mata
Trump, Turki Minta Rusia Berhenti Dukung Rezim Suriah

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini