Trump Dituding Pakai Strategi Ujaran Kebencian Demi Menang Pilpres 2020

Rabu, 31 Juli 2019 06:35 Reporter : Hari Ariyanti
Trump Dituding Pakai Strategi Ujaran Kebencian Demi Menang Pilpres 2020 Presiden AS Donald Trump. MANDEL NGAN/AFP

Merdeka.com - Presiden Donald Trump pada hari Minggu kembali dituding rasis dan mempromosikan "agenda kebencian" untuk memenangkan Pilpres 2020 setelah menyerang seorang anggota parlemen kulit hitam dan daerah pemilihannya.

Dalam serangkaian cuitan di Twitter, Trump pada hari Sabtu menyerang Elijah Cummings, anggota kongres dari Demokrat dan dapilnya yaitu kota dengan penduduk kulit hitam di Baltimore, Maryland. Wilayah asal Cummings disebut kota paling kejam karena tingginya tingkat pembunuhan.

Setelah menghina distrik Cummings dengan kalimat "dikerumuni tikus dan hewan pengerat pengacau" di mana tidak akan ada orang yang akan memilih untuk tinggal, Trump bersikeras pada hari Minggu bahwa ia hanya menyampaikan sesuai yang kalimat yang tertulis.

"Tidak ada yang salah dengan mengeluarkan fakta yang sangat jelas bahwa anggota Kongres Elijah Cummings telah melakukan pekerjaan yang sangat buruk untuk distriknya dan Kota Baltimore," kata Trump, tanpa memberikan bukti untuk mendukung klaimnya, dilansir dari laman Alaraby, Selasa (30/7).

Kemudian pada hari itu, ia mengulangi kritiknya terhadap anggota kongres, menyebutnya "rasis" dan berkata, "Pengawasan radikalnya adalah lelucon!" - mengacu ke kepemimpinan Cummings di Komite Pengawasan Dewan, yang telah meluncurkan penyelidikan kebijakan administrasi Trump.

AFP

Walikota Baltimore, Bernard "Jack" Young mengatakan pernyataan Trump tersebut tak dapat diterima.

Surat kabar Baltimore Sun menulis editorial yang mengatakan "lebih baik memiliki beberapa hama yang hidup di lingkungan Anda daripada menjadi salah satunya," sementara orang-orang di Twitter mendukung Baltimore dan mengkritik Trump menggunakan tagar #WeAreBaltimore dan #BaltimoreStrong.

Pernyataan Trump mengenai Cummings dan empat perempuan kongres sebelumnya dipandang sebagai daya tarik yang diperhitungkan tetapi berisiko, baik untuk kelompok kerah putih yang tidak puas yang membantunya terpilih pada tahun 2016, dan orang kulit putih lain yang belum memutuskan siapa yang akan didukung dalam pemilihan tahun depan.

Rasis dan Memuakkan

Berbagai komentar Trump dipastikan dapat menimbulkan malapetaka politik. Namun setelah rangkaian cuitan yang menyerang empat anggota parlemen kulit berwarna yang dikenal dengan "The Squad", elektabilitasnya di kalangan Partai Republik naik lima poin menjadi 72 persen dalam jajak pendapat Reuters-Ipsos.

Salah satu anggota parlemen, Rashida Tlaib, mengatakan Trump tidak peduli terhadap negara.

"Lihat, presiden kita memiliki agenda kebencian. Dia tidak punya agenda kebijakan dan itulah yang dia turunkan," kata Tlaib.

Dalam sebuah artikel op-ed untuk The Washington Post pada Jumat malam, 148 orang Afrika-Amerika yang pernah bekerja di bawah mantan presiden Barack Obama menjanjikan dukungan mereka untuk empat anggota parlemen serta semua pihak yang saat ini sedang diserang Trump. Obama, yang jarang berkomentar sejak habis masa jabatannya tahun 2017, me-retweet bagian itu pada hari Sabtu.

Didukung oleh kepemimpinan Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat, Cummings telah menggunakan komite untuk meluncurkan penyelidikan ke dalam administrasi Trump, termasuk kebijakannya mengenai migran tidak berdokumen yang tertangkap di perbatasan dengan Meksiko.

Pejabat Kepala Staf Presiden Mick Mulvaney menyampaikan pada Minggu, serangan Trump terhadap anggota kongres dapat dibenarkan karena Cummings telah mengkritiknya dan mengatakan hal-hal yang tidak benar.

"Saya pikir hak presiden untuk menyatakan bahwa itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan ras," kata Mulvaney kepada Fox News.

Anggota Kongres dari Demokrat menilai pernyataan Trump sangat rasial.

"Presiden, seperti biasanya, atau sering kali, memuakkan dan rasis. Dia menuding tanpa sama sekali tanpa dasar," kata Anggota Kongres Jerry Nadler, ketua Komite Kehakiman DPR.

Nadler mengatakan Trump sedang mencoba mengalihkan perhatian dari penyelidikan kongres terkait campur tangan Rusia dalam Pilpres 2016.

Calon presiden Bernie Sanders menegaskan kembali pernyataannya bahwa Trump adalah seorang rasis: "Itu memalukan dan itulah sebabnya kita akan mengalahkan presiden ini," katanya kepada CNN.

Sanders juga mengatakan dia tidak percaya strategi berbasis SARA Trump akan berhasil karena "orang-orang Amerika mengerti bahwa meski Anda berkulit hitam, berkulit putih, orang Latin, orang Asia Amerika, penduduk asli Amerika, kami membutuhkan agenda yang bermanfaat untuk kita semua." [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini