Trump bilang Putin lebih pilih Clinton jadi presiden AS

Kamis, 13 Juli 2017 14:35 Reporter : Marcheilla Ariesta Putri Hanggoro
Trump bilang Putin lebih pilih Clinton jadi presiden AS Putin bertemu Trump. ©Reuters/Carlos Barria

Merdeka.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus membantah dirinya bersekongkol dengan Rusia untuk memenangkan pemilihan presiden November lalu. Bahkan, Trump mengklaim Presiden Rusia Vladimir Putin lebih memilih rivalnya, Hillary Clinton, untuk memimpin Negeri Paman Sam tersebut.

Trump menyampaikan hal ini saat melakoni wawancara khusus dengan Pat Roberston dari CBN.

"Banyak hal yang saya lakukan dan Putin tidak setuju. Saya juga sering dengar kalau Putin lebih suka Hillary yang menang. Namun, tak ada yang memberitakan hal itu," tukas Trump, seperti dikutip dari laman AFP, Kamis (13/7).

Putin, tutur Trump, membenci keinginannya untuk mengembangkan bisnis energi, batu bara, dan juga gas alam.
"Saya ingin mengembangkan bisnis energi, termasuk batu bara dan gas alam. Itu semua hal yang dia (Putin) benci," ujar taipan real estate New York itu.

Sementara itu, Trump juga membela putra sulungnya Donald Trump Jr yang ikut terseret kasus surat elektronik untuk memenangkan pemilihan presiden. Surel tersebut dikatakan sebagai bukti kalau Clinton dicurangi selama kampanye tahun lalu.

Media AS melaporkan Donald Trump Jr pada Juli tahun lalu bertemu dengan seorang pengacara Rusia. Pertemuan keduanya untuk membocorkan informasi yang bisa mencoreng nama Hillary dalam pemilihan presiden.

Trump mengaku dia baru mengetahui kelakuan anaknya dan tidak mempermasalahkannya. Menurut dia, orang lain juga pasti akan melakukan pertemuan tersebut untuk mendapat keuntungan pribadi.

"Banyak orang bisa melakukan pertemuan semacam itu," tuturnya.

Akibat sekongkol Trump-Rusia, media melaporkan Gedung Putih dalam kekacauan besar. Namun hal ini dibantah Trump di akun Twitter-nya.

"Gedung Putih berfungsi seperti biasanya. Kami fokus pada jaminan kesehatan, pemotongan pajak dan banyak hal lain. Saya bahkan tidak punya waktu menonton televisi," cuit sang presiden.

Masyarakat AS mulai kesal mengetahui adanya kolusi antara Trump dan Negeri Beruang Merah. Kini, di Twitter, tanda pagar (tagar) #BringBackObama ramai menghiasi media sosial itu.

Para pecinta Obama menginginkan mantan presiden itu kembali memimpin AS. [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini