Thailand–Kamboja Capai Titik Terang Menuju Perdamaian
Kedua belah pihak telah sepakat mengenai empat poin yang telah dibahas.
Pembicaraan antara Thailand dan Kamboja yang berlangsung pekan ini telah menunjukkan perkembangan yang signifikan. Menteri Pertahanan Thailand, Natthaphon Narkphanit, menyatakan hal ini pada Kamis (23/10/2025) seperti dikutip dari CNA, menjelang kemungkinan penandatanganan perjanjian gencatan senjata yang lebih komprehensif antara kedua negara, yang direncanakan akan dilakukan pada hari Minggu (26/10).
Menurut informasi yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Malaysia pekan lalu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, direncanakan akan hadir untuk menyaksikan penandatanganan kesepakatan tersebut di tengah KTT ASEAN yang berlangsung di Kuala Lumpur. Pertemuan intensif antara pejabat dari Thailand dan Kamboja telah berlangsung sepanjang minggu ini untuk menyelesaikan rincian perjanjian yang bertujuan untuk mengakhiri ketegangan di perbatasan kedua negara.
Ketegangan yang terjadi sebelumnya sempat meletus menjadi konflik bersenjata selama lima hari pada bulan Juli, yang menyebabkan sedikitnya 48 orang kehilangan nyawa dan memaksa ratusan ribu warga di kedua sisi perbatasan untuk mengungsi sementara.
Konflik ini menjadi yang terburuk antara Thailand dan Kamboja dalam beberapa dekade terakhir. Sebelumnya, gencatan senjata awal yang dimediasi oleh Malaysia dengan dukungan dari Amerika Serikat telah ditandatangani pada 28 Juli.
Hasil dari kesepakatan
Natthaphon mengungkapkan bahwa hingga saat ini, kedua belah pihak telah berhasil mencapai kesepakatan dalam empat bidang penting. Dalam sebuah konferensi pers yang berlangsung di Kuala Lumpur, yang dihadiri oleh pengamat dari Amerika Serikat dan Malaysia, ia menjelaskan bahwa kesepakatan tersebut mencakup:
- Rencana penarikan senjata berat dari wilayah perbatasan,
- Prosedur operasi gabungan untuk pembersihan ranjau darat,
- Rencana koordinasi dalam memerangi penipuan siber, termasuk pembentukan satuan tugas bersama,
- Mekanisme pengawasan kemajuan di lapangan.
Lebih lanjut, dalam pertemuan terpisah, kedua negara sepakat untuk melakukan survei bersama di wilayah perbatasan yang membentang antara Provinsi Sa Kaeo di Thailand dan Bantheay Meanchey di Kamboja. Area tersebut sebelumnya menjadi lokasi bentrokan antara polisi Thailand dan demonstran asal Kamboja pada bulan lalu. Natthaphon juga menambahkan bahwa Thailand berencana membangun pagar perbatasan di area yang tidak disengketakan.
"Kami ingin melihat kemajuan nyata di semua bidang yang telah saya sebutkan sebelum kami mempertimbangkan untuk menghentikan permusuhan satu sama lain," ujarnya.
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan Kamboja, Tea Seiha, mengakui bahwa rangkaian kesepakatan ini berpotensi mengarah pada penandatanganan perjanjian damai antara kedua negara. Menurutnya, perjanjian tersebut mencerminkan semangat kolaborasi dalam membangun kepercayaan dan keyakinan timbal balik, serta menunjukkan komitmen yang kuat untuk memperbaiki hubungan dan mengembalikan situasi normal di antara kedua negara.
Ia juga menyatakan bahwa penandatanganan perjanjian damai tersebut akan membuka jalan bagi pembebasan 18 tentara Kamboja yang saat ini masih ditahan oleh Thailand pasca pertempuran pada bulan Juli.