Teror modal nekat pakai mobil dikhawatirkan jadi tren global

Sabtu, 16 Juli 2016 07:18 Reporter : Ardyan Mohamad
Teror modal nekat pakai mobil dikhawatirkan jadi tren global Truk maut di Nice Prancis. ©2016 REUTERS/Eric Gaillard

Merdeka.com - Aksi truk dikendarai teroris menghantam kerumunan manusia di Kota Nice, Prancis, mengejutkan seluruh dunia. Insiden itu menewaskan 84 orang, melukai ratusan lainnya. Serangan selepas perayaan Hari Bastille itu menjadi aksi terorisme terburuk sepanjang sejarah Prancis setelah teror di Paris November tahun lalu.

Pelaku, bernama Mohamed Lahouaiej Bouhlel, adalah warga negara Prancis keturunan Tunisia. Tidak banyak yang mengira jika tersangka yang beraksi sendirian sebelum ditembak mati polisi bisa menimbulkan korban jiwa sedemikian banyak.

The Washington Post, Jumat (15/7), membuat analisis khusus terkait betapa risiko insiden ini dalam menginspirasi aksi-aksi sejenis. Militan lain, baik yang terafiliasi maupun bergerak sendiri, dikhawatirkan melihat peluang untuk beraksi memakai modus serupa. Penggunaan mobil, sebuah modal yang tak seberapa untuk ukuran aksi teror, rupanya bisa menimbulkan korban jiwa tak kalah dari bom berdaya ledak tinggi.

Stasiun Televisi Al Arabiya serta Times of Israel dalam liputannya kemarin turut mengulas bahaya di balik 'keberhasilan' aksi Bouhlel. Pelaku memang membawa senapan, granat, serta amunisi dalam jumlah besar di dalam truk. Namun praktis pemicu kematian puluhan korban rata-rata karena ditabrak truk dalam kecepatan tinggi.

Kepercayaan diri para militan mandiri yang sekadar terinspirasi Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) akan terbangun. Selanjutnya mereka terdorong untuk meniru atau bergerak menyerang target-target tertentu.

mohamed lahouaiej bouhlel

Sosok Mohamed Lahouaiej Bouhlel pelaku teror di Nice (c) 2016 Merdeka.com/Al Arabiya



The Economist memperingatkan modus ini sejak lama. Juru Bicara Senior ISIS pernah menyerukan para militan agar memakai cara apapun saat menyerang kaum kafir. "Termasuk memakai kendaraan bermotor kalau perlu," ujarnya.

Serangan bermotif politik menggunakan mobil atau truk beberapa kali terjadi di Palestina. Sejak awal tahun ini, terjadi lebih dari lima kali insiden pemuda-pemudi asal Tepi Barat menabrakkan mobil mereka ke arah aparat keamanan Israel. Tindakan ini merupakan aksi protes atas blokade Zionis terhadap Masjidil Aqsa di Yerusalem Timur.

Serangan serupa, namun tak sepenuhnya digerakkan jaringan teroris, terjadi di Inggris, di Skotlandia, serta di Kanada. Untuk kasus Inggris, yang paling dikenang adalah kasus tiga tahun lalu terkait pembunuhan Lee Rigby, personel militer, saat sedang berjalan di trotoar. Duet pelaku adalah imigran asal Nigeria, menabrak veteran perang itu.

Hingga saat ini, pemerintah Prancis belum mengumumkan motif Bouhlel melakukan teror mengerikan di Nice. Walau diyakini aksinya merupakan upaya menciptakan teror, namun aparat belum memperoleh bukti dia bergerak atas perintah jaringan tertentu.

"Bagaimana dia bisa memasuki wilayah pawai, ketika negara ini sedang dalam situasi siaga memang perlu diselidiki. Namun sejauh ini kita sulit menduga apakah dia simpatisan atau anggota jaringan teror tertentu," kata Rodger Shanahan, peneliti terorisme Institut Lowy.

Pelaku diketahui seorang ayah dari tiga anak, setelah menikah dengan WN Prancis bernama Hajar. Bouhlel pernah terlibat kasus kriminalitas ringan seperti dugaan pencurian serta kekerasan dalam rumah tangga. Namun dia tidak pernah masuk radar intelijen Prancis terkait jaringan terorisme. [ard]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini