Tentara Myanmar Tembaki Kerumunan di Pemakaman Korban Saat Lagu Revolusi Dinyanyikan

Senin, 29 Maret 2021 08:40 Reporter : Pandasurya Wijaya
Tentara Myanmar Tembaki Kerumunan di Pemakaman Korban Saat Lagu Revolusi Dinyanyikan aparat myanmar tembaki demonstran. ©Screengrab/Myitkyina News via AFPTV

Merdeka.com - Tentara Myanmar kemarin menembaki kerumunan orang di sebuah pemakaman korban tewas akibat kekerasan aparat saat unjuk rasa menentang kudeta.

Para hadirin di pemakaman sontak berlarian ketika sedang menghadiri prosesi pemakaman mahasiswa 20 tahun bernama Thae Maung Maung di Bago, dekat Ibu Kota Yangon. Sejauh ini belum diketahui ada korban atau tidak dalam peristiwa itu, kata tiga saksi kepada kantor berita Reuters, seperti dilansir laman France24, Senin (29/3).

"Ketika kami sedang menyanyikan lagu revolusi baginya, aparat keamanan datang dan langsung menembaki kami," ujar seorang perempuan bernama Aye saat saat itu hadir di pemakaman. "Orang-orang, termasuk saya, berlarian kocar-kacir."

Di hari yang sama sebanyak 12 orang dilaporkan tewas di tempat terpisah akibat tembakan aparat keamanan, kata lembaga Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik. Total korban tewas akibat kekerasan aparat keamanan Myanmar sejak kudeta hingga kini sudah mencapai 459 orang. Salah satu korban tewas kemarin adalah seorang demonstran yang ditembak tentara pada malam hari di dekat Naypidaw, kata media Myanmar Now.

Di Yangon dan kota terbesar kedua, Mandalay, kemarin tidak ada laporan terjadi unjuk rasa besar-besaran. Sementara sehari sebelumnya di Mandalay sedikitnya enam anak berusia 10 hingga 16 tahun tewas ditembaki aparat, kata sejumlah media lokal dan saksi mata. Para demonstran menyebut anak-anak korban tewas itu sebagai "Bintang-Bintang yang Gugur".

Kantor berita Reuters tidak bisa menghubungi polisi untuk dimintai komentar.

Pertumpahan darah yang terjadi di Negeri Seribu Pagoda itu menuai kecaman keras dari negara Barat.

Pelapor PBB untuk Myanmar mengatakan tentara melakukan pembunuhan massal dan menyerukan agar dunia mengisolasi junta dan melarang akses mereka ke senjata.

Hingga kini kecaman dan sanksi negara Barat gagal membuat militer Myanmar bergeming. Setiap hari demonstran turun ke jalan di seantero Myanmar sejak junta mengambil alih kekuasaan pada 1 Februari lalu dan menahan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi.

"Kami salut dengan para pahlawan yang mengorbankan nyawa mereka di tengah revolusi ini dan Kita Harus Memenangkan Revolusi ini," kata kelompok demonstran yang tergabung dalam Komite Pemogokan Massal Nasional (GSCN) di mana Facebook mereka. [pan]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini