Tekanan ekonomi bikin Tunisia membara lagi

Jumat, 12 Januari 2018 05:02 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo
Demo menentang kenaikan harga dan pajak di tunisia. ©2018 REUTERS/Zoubeir Souissi

Merdeka.com - Kota Thala di Tunisia menjadi saksi bisu amuk para pengunjuk rasa. Polisi sampai lari tunggang langgang lantaran kantor mereka ludes dilalap api lantaran dibakar demonstran.

Itu adalah sekelumit potret dari pergolakan kembali terjadi di negara itu. Hampir tujuh tahun berlalu dan sembilan pemerintahan silih berganti, kondisi ekonomi mereka masih terpuruk.

Mulanya riak-riak di kalangan penduduk Tunisia berubah menjadi gelombang unjuk rasa pada pekan lalu masih berlangsung damai. Namun, keadaan berubah mulai Senin pekan ini. Demonstran mengganas dan saban turun ke jalan malah berakhir dengan bentrokan atau kekacauan. Pembakaran kendaraan aparat hingga penjarahan gerai swalayan tidak terhindarkan.

Alasan ribuan penduduk turun ke jalan karena pemerintah Tunisia memilih memangkas subsidi bagi rakyat menengah ke bawah, dan malah menaikkan nilai pajak pertambahan nilai. Padahal, sejak awal tahun ini saja harga sejumlah barang kebutuhan pokok sudah melonjak.

"Kami protes karena biaya hidup yang tinggi. Harga obat dan semuanya naik, tapi pendapatan kami tidak. Saya rasa ini bukan waktu yang tepat buat kenaikan harga," kata seorang pengunjuk rasa, dilansir dari laman BBC, Kamis (11/1).

Perdana Menteri Tunisia, Yusuf Chahad, punya alasan mengapa dia memilih menerapkan kebijakan itu. Sejak Desember 2017, kata dia, Dana Moneter Dunia (IMF) sudah mewanti kalau mereka harus segera bertindak, jika ingin terus mendapat pinjaman. Sebab, neraca keuangan Tunisia mereka mengalami defisit. Pemasukan mereka minim karena aksi terorisme menghancurkan industri pariwisata dan membikin pemodal asing enggan menanamkan uang mereka. Apalagi mereka dibebani harus membayar utang dari IMF sebesar GBP 2,2 miliar (sekitar Rp 39,8 triliun).

"Rakyat harus memahami kalau kondisi saat ini luar biasa, dan negara sedang kesulitan. Namun, kami yakin tahun ini adalah yang terakhir," kata Chahad.

Walau demikian, pernyataan Chahad belum bisa menenangkan rakyatnya. Sejumlah kota tetap bergejolak dan mencekam.

Unjuk rasa itu bermula di Ibu Kota Tunis. Tak lama kemudian aksi itu berubah menjadi anarki mengakibatkan sebuah gerai swalayan Carrefour dijarah.

Sehari kemudian, penduduk di Kota Tebourba turun ke jalan pada malam hari. Aparat membubarkan massa saat itu juga mengakibatkan seorang lelaki berusia 40 tahun meninggal. Namun, belum diketahui penyebab dia meregang nyawa.

Demonstrasi menyebar dan juga terjadi di Kota Siliana, Sousse, Kebeli, Bizert, dan Kasserine. Pengunjuk rasa memblokir jalan dengan membakar ban dan melempari polisi dengan batu. Polisi membalas dengan menembakkan gas air mata. Para pegiat meminta penduduk kembali turun ke jalan buat berunjuk rasa pada Jumat besok.

Menurut pengamat politik Salim Kharrat, penduduk Tunisia meminta pemerintah berpikir ulang buat menerapkan pajak pertambahan nilai (PPN). Sebab, kondisi ekonomi mereka sedang sulit sejak revolusi memantik gelombang Reformasi Arab (Arab Spring) pada 2011 silam.

Saat itu masyarakat bergolak karena tingkat pengangguran yang tinggi dan maraknya perilaku korupsi. Revolusi Tunisia dimulai pada Desember 2010, ketika seorang pedagang bernama Muhamad Bouazizi membakar diri saat unjuk rasa dan tewas. Akibat unjuk rasa besar-besaran itu, Presiden Zen Al Abidin Ben Ali terguling dari kekuasaannya dan kabur ke luar negeri. [ary]

Topik berita Terkait:
  1. Tunisia
  2. Demo
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.