Taliban Dulu dan Kini, Benarkah Bakal Lebih Moderat?

Selasa, 17 Agustus 2021 07:28 Reporter : Hari Ariyanti
Taliban Dulu dan Kini, Benarkah Bakal Lebih Moderat? Patroli Pasukan Taliban di Afghanistan. ©2021 REUTERS/Stringer

Merdeka.com - Ratusan warga Afghanistan berlarian di tengah landasan pacu pesawat di bandara Kabul. Ada yang bergelantungan, berusaha naik ke atas pesawat milik militer Amerika Serikat (AS) yang sedang melajut, sementara yang lain berlari berdesakan mengejar pesawat tersebut. Hanya satu harapan mereka, melarikan diri dari negara yang telah dilanda perang hampir 20 tahun tersebut.

Warga Afghanistan dihantui ketakutan Taliban kembali berkuasa, setelah kelompok militan itu berhasil merebut ibu kota negara Afghanistan, Kabul, dan para komandan Taliban berhasil memasuki dan menduduki istana kepresidenan. Mereka juga khawatir akan terjadi pertempuran antara Taliban dan pasukan Afghanistan.

Ketakutan itulah yang membuat mereka berebut agar bisa keluar dari negara tersebut.

Mereka juga masih dihantui kekejaman Taliban ketika berkuasa pada 1996-2001. Di mana saat itu Taliban menerapkan kebijakan yang sangat keras dengan dalih syariat Islam. Perempuan dilarang sekolah dan bekerja. Mereka juga menerapkan hukum rajam dan hukum cambuk.

Namun Taliban saat ini berjanji bakal meninggalkan kebijakan-kebijakan kerasnya dan beralih dari konservatisme menjadi Taliban yang lebih moderat, yang menghormati hak-hak perempuan.

Dalam wawancaranya dengan The Associated Press (AP) pada Juli lalu, juru bicara Taliban, Suhail Shaheen, memastikan sikap kelompoknya terkait masa depan Afghanistan. Dia mengatakan pihaknya tidak ingin mengulang formulasi yang sama seperti 20 tahun lalu.

Shaheen mengatakan di bawah pemerintahan baru Taliban, perempuan akan diizinkan bekerja, sekolah, dan terlibat dalam politik tapi harus memakai jilbab.

Dia menyampaikan perempuan akan disyaratkan memiliki kerabat laki-laki yang akan menemaninya ketika keluar rumah. Komandan Taliban di distrik-distrik yang baru direbut memerintahkan universitas, sekolah, dan pasar beroperasi seperti sebelumnya, termasuk partisipasi perempuan dan gadis remaja.

Namun, ada laporan berulang kali dari distrik-distrik yang dikuasai Taliban yang memberlakukan pembatasan keras terhadap perempuan, bahkan membakar sekolah.

Satu video mengerikan yang muncul menunjukkan Taliban membunuh pasukan komando yang ditangkap di Afghanistan utara.

Shaheen mengatakan beberapa komandan Taliban mengabaikan perintah pemimpin mereka agar tidak bertindak represif dan drastis. Dia juga mengatakan beberapa anggota telah diajukan ke pengadilan militer Taliban dan dihukum, meskipun dia tidak menjelaskan secara spesifik.

Menurutnya video yang beredar itu palsu, hanya berisi potongan.

Shaheen juga mengatakan pihaknya tidak menginginkan terjadinya perang sipil.

"Anda tahu, tidak ada yang menginginkan perang sipil, termasuk saya," kata Shaheen.

Shaheen juga menegaskan kembali janji Taliban yang bertujuan meyakinkan warga Afghanistan yang takut dengan kelompok itu.

Washington telah berjanji untuk merelokasi ribuan penerjemah militer AS.

Shaheen mengatakan mereka tidak perlu takut dengan Taliban dan membantah kelompoknya mengancam warga.

Tapi jika ada yang ingin mencari suaka di Barat karena ekonomi Afghanistan sangat buruk, Shaheen mengatakan “terserah mereka”.

Dia juga membantah Taliban mengancam wartawan dan masyarakat sipil Afghanistan, yang kerap menjadi korban jiwa dalam setahun terakhir.

ISIS mengklaim bertanggung jawab atas beberapa serangan pemnbunuhan, tetapi pemerintah Afghanistan menyalahkan Taliban untuk sebagian besar pembunuhan. Sementara di satu sisi Taliban menuduh pemerintah Afghanistan melakukan pembunuhan untuk mencemarkan nama baik mereka.

Pemerintah jarang melakukan penangkapan atas pembunuhan atau mengungkapkan temuan penyelidikannya.

Shaheen mengatakan wartawan, termasuk mereka yang bekerja untuk media Barat, tidak perlu takut pada pemerintah yang mencakup Taliban.

“Kami tidak mengeluarkan surat kepada wartawan (mengancam mereka), terutama kepada mereka yang bekerja untuk media asing. Mereka dapat melanjutkan pekerjaan mereka bahkan di masa depan,” pungkasnya.

Janji Taliban menjadi lebih moderat ini juga disampaikan juru bicara lainnya, Mohammed Naeem, sesaat setelah kelompok ini berhasil menduduki Kabul dan mendeklarasikan perang telah berakhir.

Kelompok militan ini berjanji untuk menerapkan hukum yang lebih moderat, berjanji untuk menghormati hak-hak perempuan dan melindungi warga asing dan warga Afghanistan.

“Kami siap berdialog dengan semua tokoh Afghanistan dan akan menjamin mereka perlindungan yang diperlukan,” jelas Naeem kepada Al Jazeera Mubasher TV.

Baca Selanjutnya: Keyakinan Jusuf Kalla...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini