Tak bisa bahasa Inggris tapi mau kuliah di luar negeri, ini caranya

Selasa, 4 April 2017 15:21 Reporter : Ira Astiana
Tak bisa bahasa Inggris tapi mau kuliah di luar negeri, ini caranya Greg Fealy. ©2017 Merdeka.com/Ira Astiana

Merdeka.com - Kepedulian Australia terhadap kualitas pendidikan di Indonesia diwujudkan dalam pemberian program beasiswa Partnership in Islamic Education Scholarship (PIES) di Universitas Nasional Australia (ANU). Beasiswa tersebut dikhususkan bagi para dosen yang tengah menempuh pendidikan S3 di perguruan tinggi Islam negara maupun swasta.

"Pemerintah Australia sangat memperhatikan kualitas pendidikan di Indonesia terutama pendidikan Islam. Karena itu dibentuk program beasiswa ini. Kami lihat di sini, 33 persen dosen di perguruan tinggi agama Islam belum mengambil S3. Padahal akan sangat banyak manfaat bagi Indonesia kalau dosen-dosennya sudah menjadi doktor," kata Direktur Program PIES, Greg Fealy, yang ditemui di Kedutaan Besar Australia, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (4/4).

Fealy menuturkan, program PIES memberikan kesempatan kepada dosen PTAI Indonesia untuk mengkaji ilmu dan belajar di Australia selama satu tahun.

"Kami di sana tidak hanya membantu mereka menulis disertasi dengan baik, tetapi juga membantu mereka untuk meningkatkan keterampilan agar bisa menjadi dosen efektif di sini. Kamu juga akan memberi bimbingan untuk menulis jurnal internasional, karena itu merupakan syarat kelulusan S3," jelas Fealy.

Tak hanya itu, program ini memiliki keunikan tersendiri. Pasalnya, untuk bisa ambil bagian di program beasiswa ini, para peserta tidak diwajibkan bisa bahasa inggris. Program ini juga tidak memberikan batasan usia bagi pesertanya.

"Saya bisa bilang program ini unik. Kenapa unik? Karena para peserta tidak perlu bisa bahasa Inggris untuk kuliah di ANU. Tidak apa-apa jika bahasa Inggris yang dikuasai sangat pasif. Selain itu juga tidak ada batasan usia, pendaftar yang berusia 40 tahun pun masih diterima," ungkap Fealy.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Konselor Politik dan Diplomasi Publik, Bradley Amstrong. Amstrong mengatakan bahwa bahasa Inggris tidak menjadi syarat agar bisa mengambil beasiswa ini.

"Syarat untuk ikut program ini tidak banyak. Tidak diperlukan IELTS juga dan mereka tetap bisa berkuliah dengan pembimbing berbahasa Indonesia," tutur Amstrong.

Program beasiswa ini merupakan kerja sama dengan Kementerian Agama. Setiap tahunnya, akan diambil enam penerima beasiswa di mana keenamnya harus menerbitkan buku untuk konsumsi di Kemenag dan Kedutaan Besar. [pan]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini