Tagar #SaveRahaf Tentang Remaja Saudi Kabur dari Keluarga Jadi Sorotan Internasional

Rabu, 9 Januari 2019 16:10 Reporter : Merdeka
Tagar #SaveRahaf Tentang Remaja Saudi Kabur dari Keluarga Jadi Sorotan Internasional rahaf muhammad al qunun. ©AFP

Merdeka.com - Remaja perempuan asal Arab Saudi, Rahaf Muhammad al-Qunun, 18 tahun, kini namanya mendunia lantaran kasusnya menjadi sorotan internasional.

Hari Minggu lalu dia membuat akun Twitter untuk menjelaskan dirinya melarikan diri dari ancaman keluarga dan risiko dibunuh di negara asalnya.

Pesan pertama di Twitter dia unggah dalam bahasa Arab pada pukul 03.20 pagi waktu Thailand dari area transit bandara Suvarnabhumi, Bangkok, Thailand.

Cuitan tersebut, sebagaimana dikutip dari The Straits Times pada Rabu (9/1), berbunyi: "Saya adalah gadis yang melarikan diri dari Kuwait ke Thailand. Hidup saya dalam bahaya jika saya dipaksa untuk kembali ke Arab Saudi."

Setelah cuitan awalnya, Qunun mengunggah hampir tanpa henti selama lima jam, mengatakan dia telah dilecehkan dan diancam oleh keluarganya yang berasal dari Arab Saudi.

Tidak lama berselang, sebuah kampanye dengan tanda pagar (tagar) #SaveRahaf merebak secara masif di media sosial, disebarkan oleh jaringan aktivis hak asasi manusia di seluruh dunia.

Perhatian besar pengguna Twitter terhadap tagar #SaveRahaf membuat seorang aktivis AS keturunan Mesir, Mona Elthaway, menerjemahkan seluruh twit Qunun dan menyebarnya secara lebih luas.

"Saya sebenarnya sempat ragu apakah akun tersebut benar-benar menyampaikan fakta, tapi saya tetap membagikan semua kicauannya," jelas Eltahawy.

Seorang jurnalis video asal Sydney, Australia, memperhatikan cuitan terjemahan Elthaway tersebut.

Sophie McNeill --nama jurnalis video itu-- dari stasiun televisi Australia Broadcast Corp, mulai merespons twit secara langsung ke Qunun, dan keduanya pun mulai berkorespondensi secara pribadi.

Retwit yang Mendorong Perubahan Sikap Otoritas Thailand

Pukul 11.00 pada hari Minggu di Thailand --delapan jam setelah Qunun mulai menulis cuitan pertamanya-- Wakil Direktur Asia untuk Human Rights Watch, Phil Robertson, yang berbasis di Bangkok, juga mulai membagikan kasus ini.

Robertson juga menghubungi Qunun secara langsung, dan remaja yang tengah ketakutan itu pun menjawab.

"Dia mengatakan telah mengalami pelecehan fisik dan psikologis. Dia juga mengaku telah membuat keputusan untuk meninggalkan Islam. Dan saya tahu begitu dia mengatakan alasan tersebut, dia sedang dalam masalah serius," kata Robertson kepada kantor berita Reuters.

Setelah 36 jam kemudian, tagar tersebut berhasil mendorong pemerintah Thailand untuk membatalkan kebijakan memaksa wanita itu masuk ke pesawat yang akan mengembalikan ke keluarga kandungnya.

Qunun diizinkan memasuki Thailand dan pada Selasa 8 Janauri, dia memulai proses pencarian suaka di negara ketiga melalui badan pengungsi PBB, UNHCR.

"Semua orang menyaksikan. Ketika media sosial bekerja, inilah yang terjadi," kata Robertson.

Di bawah sistem hukum syariah yang dianut oleh Arab Saudi, melepaskan diri dari ajaran Islam adalah bentuk kejahatan yang bisa dihukum mati, meskipun selama beberapa dekade terakhir belum ada kasus serupa terekspos hingga ke mancanegara.

Reporter: Happy Ferdian Syah Utomo

Sumber: Liputan6.com [pan]

Topik berita Terkait:
  1. Arab Saudi
  2. Islam
  3. Thailand
  4. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini