Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Survei: Orang-Orang Enggan Bepergian Bahkan Setelah Pandemi Covid-19

Survei: Orang-Orang Enggan Bepergian Bahkan Setelah Pandemi Covid-19 4 Cara Traveling Efisien ala Business Traveler. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Sebuah studi menemukan sebagian besar orang tidak berencana melakukan perjalanan seperti biasa bahkan setelah pandemi Covid-19 mereda.

Kesadaran akan sebagian besar bisnis dapat dilakukan secara virtual dan berbagai prosedur perjalanan yang wajib dilakukan saat pandemi, membuat banyak orang enggan untuk melanjutkan rutinitas perjalanan mereka.

Dilansir dari The Straits Times, Selasa (10/11) Inmarsat, perusahaan aviasi yang berbasis di Inggris melakukan survei terhadap sekitar 10.000 penumpang, dan hasilnya sebanyak 83 persen penumpang di seluruh dunia enggan untuk kembali ke kebiasaan perjalanan lama mereka serta 31 persen akan lebih jarang bepergian melalui udara.

Ketakutan akan penularan membuat hanya lebih dari seperempat orang di kawasan Asia-Pasifik yang merasa cukup percaya diri untuk terbang lagi dalam enam bulan.

Ketika Covid-19 menutup perbatasan internasional dan menutup kawasan pusat bisnis awal tahun ini, sebagian besar populasi dunia, di luar mereka yang berada di layanan penting terpaksa mulai bekerja dari jarak jauh.

Kabar buruk bagi maskapai penerbangan

bagi maskapai penerbanganRekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Perusahaan juga memangkas anggaran pengeluaran termasuk perjalanan, karena terhambat oleh dampak ekonomi dari pandemi. Banyak perusahaan menemukan bahwa produktivitas benar-benar meningkat, mempertanyakan kebutuhan karyawan untuk selalu berada di kantor.

“Kami sudah lama duduk di rumah, kami sangat terbiasa melakukan bisnis secara virtual sekarang, perjalanan bisnis akan sedikit menurun karena kita terbiasa dengan interaksi yang lebih digital, dan maskapai penerbangan harus beradaptasi dengan ini,” jelas Chris Rogerson, wakil presiden penjualan global Inmarsat Aviation.

Hasil survei menambah kabar buruk bagi maskapai penerbangan. Biaya perjalanan perusahaan dapat menghasilkan antara 55 persen dan 75 persen keuntungan untuk maskapai penerbangan ternama, meskipun mungkin hanya menyumbang sedikitnya 10 persen penumpang akibat pelancong bisnis lebih cenderung membeli tarif kelas yang lebih tinggi.

Menurut Asosiasi Transportasi Udara Internasional, kerugian industri penerbangan diperkirakan mencapai USD 84 miliar pada 2020. Banyak maskapai penerbangan secara global telah memberhentikan ratusan ribu pegawai.

Penutupan perbatasan

survei: orang-orang enggan bepergian bahkan setelah pandemi covid-19Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Bagi mereka yang enggan untuk bepergian karena takut terinfeksi, inovasi digital akan menjadi kuncinya. Hal tersebut mencakup kemampuan untuk memesan makanan di muka untuk katering tanpa kontak, menawarkan hiburan dalam pesawat melalui perangkat pribadi, sistem pembayaran tanpa kontak, dan teknologi pengenalan wajah.

“Titik interaksi klasik di pesawat berkembang seiring waktu dan memainkan peran besar dalam membuat pengalaman dalam penerbangan lebih aman,” kata Rogerson.

Penutupan perbatasan yang tidak dapat diprediksi serta protokol keselamatan yang membingungkan di berbagai negara adalah alasan lain mengapa orang tidak tertarik untuk bepergian.

“Ada banyak hal yang perlu disatukan untuk membuat perjalanan pada skala yang sama seperti yang kita lihat pada tahun 2019, pemerintah juga perlu memainkan peran besar dalam pengelolaan kapasitas bandara,” tambahnya.

 

Reporter Magang: Galya Nge

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP