Survei: Kepercayaan Publik Meningkat di China, Merosot di Negara Demokrasi

Jumat, 21 Januari 2022 18:22 Reporter : Pandasurya Wijaya
Survei: Kepercayaan Publik Meningkat di China, Merosot di Negara Demokrasi bendera china. ©NDTV

Merdeka.com - Survei global dari The Edelmen Trust Barometer menemukan, kepercayaan publik sejumlah negara demokrasi merosot tajam sementara di negara otokratik seperti China justru meningkat.

Edelmen Trust Barometer sudah 20 tahun menggelar jajak pendapat terhadap ribuan orang tentang kepercayaan mereka terhadap pemerintah, media, bisnis, dan LSM. Hasil Survei memperlihatkan angka kepercayaan publik merosot di Jerman, Australia, Belanda, Korea Selatan dan Amerika Serikat.

Dilansir dari laman South China Morning Post, Kamis (21/1), kepercayaan publik di Jerman anjlok hingga 46 persen diikuti Australia dan Belanda yang masing-masing turun hingga 53 persen dan 57 persen. Kemudian Korea Selatan turun hingga 42 persen dan AS anjlok 43 persen, turun lima poin dari tahun sebelumnya.

Survei ini juga mengungkapkan, dunia bisnis mendapat kepercayaan publik yang kuat secara global meskipun ada masalah komitmen keadilan sosial. Dunia bisnis dianggap berjasa dalam mengembangkan vaksin dan menyesuaikan dengan tempat kerja dan retail selama pandemi.

"Kepercayaan publik kita merosot di negara demokrasi," kata Richard Edelman yang lembaganya sudah menggelar survei terhadap lebih dari 36.000 orang di 28 negara.

Triliunan dolar yang digelontorkan negara kaya untuk menopang ekonomi selama pandemi gagal membuat warga merasa punya kepercayaan.

Di Jepang hanya 15 persen warga meyakini mereka dan keluarga mereka bisa lebih baik dalam waktu lima tahun ke depan. Di negara demokrasi lain angka itu berkisa 20-40 persen untuk pertanyaan yang sama.

Tapi di China, hampir dua pertiga dari warga optimis tentang keuntungan ekonomi dan 80 persen orang India yakin mereka bisa lebih baik dalam lima tahun ke depan.

Edelman mengatakan tingginya kepercayaan publik di China terkait tidak hanya pada persepsi ekonomi semata tapi juga soal prediksi kebijakan pemerintah, termasuk dalam penanganan pandemi.

"Saya pikir ada kesesuaian antara apa yang dikerjakan dengan yang dikatakan. Mereka (China) lebih baik penanganan Covidnya ketimbang di AS misalnya".

AS memimpin dalam hal angka kematian harian akibat Covid, sementara China berulangkali melaporkan tidak ada kematian baru selama beberapa bulan karena menerapkan kebijakan nol-Covid-19. [pan]

Baca juga:
Angkatan Laut Rusia, China, dan Iran Latihan Bersama di Samudera Hindia
AS Perintahkan WhatsApp Telusuri Beberapa Pengguna Asal China
Rusia, China, dan Iran akan Gelar Latihan Militer Bersama
China Janji Jadikan Indonesia Pusat Produksi Vaksin Covid-19
China Sebut Surat dari Kanada Mengandung Omicron, Ini Jawaban Ahli
Korea Utara Luncurkan Rudal Bukan Pakai Satelit GPS Buatan AS, Tapi Glonass Rusia
China Uji Coba Mesin Pemindai Tubuh yang Bisa Tembus 30 Lapisan Baju
Filipina Beli Persenjataan Sistem Rudal dari India Senilai USD 375 juta
China Temukan Kasus Omicron pada Pasien yang Sudah Divaksin Booster

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini