Suara yang Menolak Bungkam, Melarikan Diri Bukanlah Solusi Bagi Muslim China

Sabtu, 20 Juli 2019 07:31 Reporter : Pandasurya Wijaya
Suara yang Menolak Bungkam, Melarikan Diri Bukanlah Solusi Bagi Muslim China Sairagul Sauytbai. ©REUTERS/Mikael Nilsson

Merdeka.com - Sairagul Sauytbai punya cerita yang menjelaskan mengapa banyak warga muslim China masih bungkam atas penyiksaan dan pemukulan yang mereka alami selama ini.

Sauytbai, perempuan etnis Kazakh yang melarikan diri dari China tahun lalu, membeberkan kisahnya setelah dia menjalani apa yang disebut pelatihan bagi etnis minoritas di Provinsi Xinjiang, China.

Tapi di Kazakhstan, tempat dia mencari perlindungan, Sauytbai dituduh melintasi perbatasan secara ilegal. Dia digeledah bugil, dan dipaksa aparat untuk tutup mulut soal 'gerakan deradikalisasi' Beijing yang membuat ratusan ribu warga yang tinggal di kamp merasa hidup di penjara.

Kepada kantor berita Reuters, Sauytbai menceritakan kisahnya.

Kelompok pembela hak asasi mengatakan China menahan satu juta warga di sejumlah kamp yang berada di Xinjiang, wilayah yang mayoritas dihuni etnis muslim Uighur. Di kawasan ini ketegangan etnis kerap berujung kekerasan.

Dikutip dari laman Reuters, Jumat (19/7), bekas tahanan di kamp menyebut tempat itu penjara dan mengatakan kepada Reuters, orang bisa ditahan selama berbulan-bulan, didoktrin ideologi Komunis. Beijing menyebut kamp itu adalah pusat pelatihan kejuruan yang dirancang untuk mencegah terorisme dan ekstremisme.

REUTERS/Thomas Peter

Sauytbai, 42 tahun, bekerja sebagai kepala sekolah sebuah taman kanak-kanak di Ili Kazakh, Xinjiang, ketika dia tiba-tiba direkrut paksa pada November 2017 untuk mengajar bahasa dan budaya Mandarin, sekaligus doktrin Partai Komunis kepada para tahanan di kamp.

Suami Sauytbai dan dua anak mereka sudah lebih dulu pindah ke Kazakhstan, tapi paspor miliknya disita sehingga dia tidak bisa ikut pergi. Ketika tiba di kamp Sauytbai kaget dengan perlakuan yang diterima para tahanan. Dia melihat pemukulan dan penyiksaan.

"Saya kenal banyak dari mereka," kata Sauytbai. "Ada warga yang pekerjaannya tukang gembala, penulis, sampai aktivis sosial. Mereka bukan orang-orang yang bersalah."

Empat bulan kemudian aparat memulangkan Sauytbai. Dia sudah diepcat dari pekerjaannya di taman kanak-kanak. Karena khawatir dia akan segera dijebloskan juga ke kamp sebagai tahanan, Sauytbai melarikan diri ke Kazakhstan secara ilegal melalui Khorgos, kawasan bebas perdagangan di perbatasan.

Sauytbai kemudian ditahan di Kazakhstan dan diadili, tapi pengadilan menolak memulangkan dia ke China dan hukumannya ditangguhkan.

Dia kemudian mengajukan suaka tapi permohonannya ditolak karena tidak ditemukan alasan persekusi yang memadai. Bulan lalu dia dan keluarganya terbang ke Swedia. Di sana dia mengajukan diri untuk tinggal.

Di Kota Trelleborg, Swedia, Sautbai menceritakan pengalamannya kepada Reuters. Dia mengatakan aparat Kazakhstan memperingatkan dirinya agar tidak mengkritik China.

"Setelah saya tiba di Kazakhstan dan menyaksikan semua itu, saya ingin mengabarkannya kepada dunia. Tapi Komite Keamanan NAsional dan (mantan) pengacara saya Abzal Kuspan memaksa saya tutup mulut."

Kuspan membenarkan dia menyarankan Sauytbai untuk tidak menceritakan soal kamp tahanan di China untuk menghindari keputusan pengadilan yang akan memberatkannya dan menolak permohonan suakanya.

"Prioritas kami yang pertama adalah memastikan dia tidak diserahkan ke China," kata Kuspan.

Sejak ditahan di Kazakhstan, Kuspan tahu betapa Sauytbai mengalami tekanan.

"Dia ditahan di sebuah gedung, ditelanjangi."

Komite Keamanan Nasional Kazakhstan tidak menjawab permintaan tanggapan dari Reuters soal dakwaan Sauytbai. Kementerian Luar Negeri China mengatakan 'Sairagul Suytbai terbukti melintasi perbatasan secara ilegal dan jelas harus mendapat hukuman keras'. [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini