Sri Lanka Berlakukan Jam Malam Nasional Pasca Sekelompok Massa Serang Masjid

Selasa, 14 Mei 2019 16:20 Reporter : Hari Ariyanti
Sri Lanka Berlakukan Jam Malam Nasional Pasca Sekelompok Massa Serang Masjid masjid di Kiniyama Sri Lanka diserang massa. ©Dinuka Liyanawatte/Reuters

Merdeka.com - Satu orang tewas di Sri Lanka pada Senin (13/5) setelah polisi menembakkan gas air mata pada massa yang menyerang masjid dan toko milik warga muslim. Selain itu, diberlakukan jam malam setelah pecah kekerasan sektarian sejak serangan bom saat perayaan Paskah April lalu.

Serangan pada 21 April yang diklaim oleh ISIS, menargetkan gereja dan hotel, terbanyak di Kolombo, menewaskan lebih dari 250 orang dan menimbulkan ketakutan atas serangan balasan terhadap warga minoritas muslim.

Penduduk yang tinggal di wilayah muslim di Provinsi Barat Laut menyampaikan, massa menyerang masjid dan merusak toko serta usaha yang dimiliki warga muslim pada hari kedua.

"Ada ratusan pengacau, polisi dan tentara hanya mengamati. Mereka membakar masjid-masjid kami dan merusak sejumlah toko yang dimiliki warga muslim," kata salah seorang penduduk di kawasan Kottampitiya melalui telepon, dilansir dari laman CBC, Selasa (14/5). Warga ini meminta agar tak disebutkan namanya karena takut menjadi target serangan.

"Ketika kami berusaha keluar dari rumah, polisi meminta kami diam di dalam rumah," ujarnya.

Juru bicara polisi, Ruwan Gunasekera menyampaikan, polisi memberlakukan jam malam mulai pukul 21.00 sampai 04.00 pagi.

Perdana Menteri Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe dalam pernyataannya menyampaikan, tindakan sabotase menghambat penyelidikan oleh pasukan keamanan.

"Jika rasisme bangkit dan perdamaian terganggu, negara akan menjadi tidak stabil. Tujuan kelompok-kelompok yang memicu kekerasan ini adalah menimbulkan kekacauan dalam kehidupan masyarakat dan destabilisasi negara," jelasnya.

Wickremesinghe mengatakan telah memberikan mandat kepada pasukan keamanan untuk menindak tegas para pengacau. Sebuah sumber polisi menyampaikan, polisi menembakkan gas air mata untuk menghalau massa di sejumlah tempat di Provinsi Barat Laut.

Kaca berserakan di masjid Masjid Abbraar di kota Kiniyama yang diserang. Semua jendela dan pintu gedung merah muda hancur. Seorang pengurus masjid mengatakan, serangan itu dipicu saat beberapa orang meminta dilakukan penggeledahan bangunan utama setelah tentara memeriksa danau seluas 43 hektar di dekatnya. Pihak berwenang menduga danau dan sumur digunakan sebagai tempat menyembunyikan senjata.

Seorang pria 34 tahun yang tengah berada di masjid saat serangan terjadi menyampaikan, ada sekitar 150 sampai 200 orang datang ke masjid dengan membawa tongkat dan pedang pada Senin. Warga yang ada di dalam membujuk mereka agar keluar dengan bantuan polisi.

Namun massa ini kemudian kembali lagi dengan jumlah yang lebih banyak, sekitar 1.300 orang. Warga muslim yang berkumpul di masjid meminta polisi menembakkan senjata ke udara untuk membubarkan massa, tapi polisi mengatakan massa tersebut ingin melakukan sidak di masjid untuk mencari senjata.

Saksi ini mengatakan, massa kemudian masuk ke dalam masjid dan melakukan penggeledahan.

Juru bicara polisi, Gunasekera tak memberikan tanggapan atas insiden ini. Namun dalam sebuah pernyataan yang dikirim melalui surel, dia mengatakan ada sejumlah kerusakan bangunan di kawasan Hettipola, Distrik Kurunegala, dan dilaporkan tak ada warga terluka.

Pihak berwenang juga memberlakukan larangan sementara penggunaan sejumlah media sosial seperti WhatsApp, setelah terjadi sejumlah perselisihan di Facebook. Di Twitter, operator seluler ternama di Sri Lanka, Dialog Axiata Plc, menyampaikan, pihaknya menerima instruksi untuk memblokir sejumlah aplikasi seperti Viber, IMO, Snapchat, Instagram and YouTube sampai ada pemberitahuan lanjutan. [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini