Sosok pahlawan tanpa negara di balik drama penyelamatan bocah Thailand dari gua

Kamis, 12 Juli 2018 07:14 Reporter : Pandasurya Wijaya
bocah tim sepak bola thailand moo pa. ©Facebook

Merdeka.com - Asisten pelatih tim sepak bola remaja Thailand yang terjebak dalam gua Tham Luang, Ekkapol Chantawong, diketahui termasuk orang yang tidak memiliki kewarganegaraan alias tidak punya negara.

Pria 25 tahun yang pernah belajar menjadi biksu itu kini dianggap pahlawan oleh sejumlah kalangan yang terlibat dan mengikuti perkembangan misi penyelamatan ke-12 bocah dan pelatihnya yang terjebak dalam gua selama lebih dari dua pekan.

Dia dianggap sebagai sosok penjaga anak-anak berusia 11-16 tahun itu di saat mereka dalam kondisi sulit di dalam gua. Dia satu-satunya orang dewasa yang bersama anak-anak itu ketika memasuki gua pada 23 Juni lalu.

Warga dan keluarga bocah-bocah di sekitar gua menyambut Ekkapol yang keluar dari gua pada tahap akhir sebagai sosok bersahaja, setia, dan bertanggung jawab terhadap tugasnya.

"Dari semua orangtua, tolong jaga semua anak-anak. Jangan salahkan dirimu," begitu bunyi tulisan sebuah surat dari keluarga para bocah itu pada 7 Juli lalu.

Sebagai balasan, Ekkapol menulis permohonan maaf kepada para orangtua dengan mengatakan dia 'berjanji akan menjaga baik-baik anak-anak itu'.

Kalimat itu menyentuh hati warga Thailand, masyarakat yang belum secara resmi menjadi bagian dari dirinya.

Badan PBB urusan pengungsi UNHCR mengatakan di Thailand ada sekitar 480 ribu orang tanpa status warga negara. Kebanyakan mereka berasal dari suku-suku di pegunungan dan kelompok etnis yang selama berabad-abad sudah mendiami Mae Sai, jantung dari daerah Segi Tiga Emas, kawasan membelah wilayah Thailand, Myanmar, Laos, dan China.

Di antara mereka yang terjebak dalam gua Tham Luang itu adalah Ekkapol dan tiga bocah anak didiknya, kata Nopparat Khanthavong kepada kantor berita AFP.

"Harapan terbesar anak-anak itu adalah mendapat kewarganegaraan. Di masa lalu anak-anak ini menghadapi masalah ketika harus bermain di luar Chiang Rai," kata Nopparat, seperti dilansir laman the Straits Times, Rabu (11/7). Mereka dilarang bermain di luar wilayah karena status mereka tidak jelas.

Tanpa paspor mereka akan kesulitan memenuhi undangan klub Manchester United untuk melawat ke Inggris.

"Mereka juga tidak bisa jadi pemain sepak bola profesional karena tidak punya status kewarganegaraan yang jelas," kata Nopparat. Kini proses untuk memberikan status kewarganegaraan bagi mereka sudah dilakukan. Ada peluang kasus ini bisa membuat kebijakan pemerintah Thailand berubah.

"Peristiwa ini bisa menjadi sinyal peringatan bagi Thailand untuk memberikan status warga negara," kata Pornpen Khongkachonkiet dari Amnesty International Thailand.

Ekkapol yang berasal dari etnis Tai Lue hingga saat ini belum bisa dimintai keterangan mengenai apa yang terjadi selama kurang lebih dua pekan terakhir ini.

Dia menyukai meditasi, naik gunung, dan kehidupan di alam, kata Ekkapol Chutinaro, rekan Ekkapol ketika belajar menjadi biksu.

"Kami suka menyusuri hutan. Dia selalu membawa sambal dan ketan lalu kami tinggal selama beberapa hari," kata dia mengenang temannya.

Sebagai pelatih sepak bola dia adalah sosok yang ramah dan sabar dalam mendidik anak muridnya yang paling kurang kemampuannya.

Tapi sebagai orang tanpa status warga negara dia tidak bisa mendapatkan sertifikat kepelatihan.

"Dia tidak punya kewarganegaraan. Dia tidak punya negara," kata Nopparat. [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini