Soal Konflik Laut China Selatan, Rodrigo Duterte Akui Militer China Lebih Unggul

Selasa, 23 Juli 2019 13:02 Reporter : Hari Ariyanti
Soal Konflik Laut China Selatan, Rodrigo Duterte Akui Militer China Lebih Unggul Presiden Filipina Rodrigo Duterte. Noel Celis/AFP

Merdeka.com - Presiden Filipina, Rodrigo Duterte menyampaikan pembelaan yang bersemangat atas hubungannya dengan China pada Senin (22/7). Dalam pidatonya, Duterte mengatakan pihaknya bukan berarti menyerah karena dinilai tidak tegas soal kebijakan maritim, melainkan ingin menghindari konflik.

Dikenal dengan sindiran kerasnya terhadap kekuatan Barat, Duterte dalam pidato kenegaraan tahunannya berargumen bahwa tidak masuk akal menghadapi suatu negara dengan klaim atas perairan yang sama, dan militer yang jauh lebih unggul.

"Saya akan mengirim marinir kita untuk mengusir para nelayan China, saya jamin, tidak satu pun dari mereka yang akan pulang hidup-hidup," katanya dalam pidato 1,5 jam di depan kongres, dilansir dari Reuters, Selasa (23/7).

"Jika saya mengirim kapal pengawas baru, mereka akan hancur karena sudah ada peluru kendali di pulau itu. Yang tercepat yang mereka instal dapat mencapai Manila dalam tujuh menit. Kalian ingin perang?" lanjutnya, merujuk pada terumbu karang yang diubah China menjadi instalasi militer.

Duterte telah menarik perhatian besar-besaran atas hubungannya dengan China, para kritikus menudingnya mempertaruhkan kedaulatan nasional dalam mengejar investasi besar-besaran yang belum terwujud. Protes anti-China berlangsung selama beberapa jam di luar tempat pidato Duterte.

Oposisi telah menekannya untuk mengambil kebijakan yang lebih tegas setelah bulan lalu China menenggelamkan kapal nelayan Filipina, dan menunjuk peningkatan penjaga pantai dan milisi Beijing di perairan yang disengketakan sebagai tanda ketidaktulusan.

China mengatakan pihaknya memiliki hak untuk mempertahankan perairannya, meskipun ada putusan arbitrase internasional 2016 yang membatalkan klaimnya terhadap hampir seluruh Laut China Selatan. Kasus itu diajukan dan dimenangkan oleh Filipina.

"Biarkan saya meyakinkan Anda, kehormatan nasional dan integritas wilayah adalah yang paling utama dalam pikiran saya," jelasnya.

"Tapi kita harus melunakkannya dengan waktu dan realitas yang kita hadapi hari ini," pungkasnya. [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini