Siswa pertukaran pelajar asal NTB: Berpuasa di AS itu luar biasa

Sabtu, 20 Juni 2015 03:05 Reporter : Muhammad Radityo
Siswa pertukaran pelajar asal NTB: Berpuasa di AS itu luar biasa Baiq Nabila Muftia Utami. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Menjadi muslim di luar Indonesia memang tidak mudah, apalagi di negara multikultur seperti Amerika Serikat. Bukan rahasia bila banyak warga Negeri Adi Daya itu salah paham terhadap ajaran agama Islam. Aksi radikal kelompok ekstremis, semisal Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) semakin memperkeruh situasi bagi pemeluk ajaran Nabi Muhammad ini di AS.

Tapi jangan salah, pandangan warga AS pada Islam ternyata tidak seburuk yang dikhawatirkan. Baiq Nabila Muftia Utami, pelajar 17 tahun yang baru saja merampungkan studi dalam program Youth Exchange Student (YES) 2015 memaparkan pengalamannya ke Amerika.

Selama lebih dari satu tahun di AS, siswa SMP asal Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat itu tetap menjalankan ibadah sebagai muslim.

Salah satu yang membuat Nabila jadi pusat perhatian adalah hijab yang dia kenakan. "Pada awalnya mereka memandang aneh terhadap saya karena pemakaian kerudung yang tidak biasa," ucapnya ketika ditemui merdeka.com di kediaman Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Jakarta, (19/6).

Nabila mengaku beruntung, teman-teman barunya di AS bertanya soal jenis kerudung yang dia pakai. "Justru saya dapat mengedukasi apa itu hijab dan tentang apa Islam yang sebenarnya," lanjutnya.

Ketika disinggung mengenai merasakan berpuasa di Amerika, Nabil sapaan akrabnya menjelaskan bila dia tidak sempat merasakan bulan suci ini di negeri Paman Sam tersebut, pasalnya keberangkatan Nabil adalah pasca lebaran dan pulang sebelum puasa tiba.

"Memang saya tidak sempat berpuasa Ramadan di Amerika, namun saya sempat berpuasa membayar kewajiban saya sebagai wanita dalam membayar utang puasa tahun lalu," ucapnya dengan sumringah.

"Sebenarnya saya salah memilih musim dalam mengganti utang puasa. Saya berpuasa di musim dingin yang jam puasanya sangat gila, di mana saya harus sahur jam 4 dini hari dan terbenamnya matahari sekitar pukul 9," ungkap Nabila.

Program YES digelar perdana pada 2009. Ratusan siswa dari seluruh Indonesia diseleksi bertahap. Bila lolos, maka peserta dikirim belajar setahun di beberapa kota di AS, termasuk tinggal dengan keluarga induk semang setempat.

Pertukaran pelajar ini disponsori oleh Kementerian Luar Negeri AS untuk pelajar-pelajar dari negara-negara dengan populasi muslim signifikan, seperti Indonesia, Malaysia, India, Turki, Mesir dan Afrika Selatan. [ard]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini