Singapura bela Malaysia dari kritikan soal hilangnya MH370

Sabtu, 29 Maret 2014 03:53 Reporter : Yulistyo Pratomo
Singapura bela Malaysia dari kritikan soal hilangnya MH370 Ilustrasi Malaysia Airlines. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Sejumlah negara mengkritik cara pemerintah Malaysia menangani hilangnya pesawat Malaysia Airlines penerbangan MH370. Kritik paling keras dilontarkan China, sebab sebagian besar dari 239 penumpang di dalam pesawat merupakan warga China.

Namun, tak semua negara yang mengkritik Malaysia. Singapura justru membela kebijakan-kebijakan yang dilakukan tetangganya dalam mencari pesawat Malaysia Airlines.

Menurut Menteri Luar Negeri Singapura, K. Shanmugam menyebut tetangganya telah melakukan seluruh upaya untuk menemukan pesawat yang hilang. Namun sayang, mereka tidak bisa melakukannya secara maksimal karena kekurangan tenaga sehingga membutuhkan bantuan dalam skala besar.

"Saya rasa kritik tersebut tidak adil. Saya merasa pernyataan itu telah melenceng dari fakta dimana sangat sedikit petunjuk untuk segera bergerak, sangat kecil masyarakat Malaysia atau siapapun untuk tahu apa yang terjadi," ujar Shanmugam, seperti dikutip dari harian The Star, Sabtu (29/30).

Sejak Perdana Menteri Malaysia Najib Razak mengumumkan pesawat tersebut jatuh di selatan Samudera Hindia dan tidak ada satupun yang selamat mendapat tanggapan keras dari pemerintah China. Mereka meminta agar Malaysia lebih transparan soal investigasi soal pencarian pesawat.

Tak hanya itu, pejabat-pejabat Malaysia juga beberapa kali mengungkapkan kata-kata yang sangat kontradiktif selama investigasi berlangsung. Tindakan ini membuat bingung keluarga korban.

Kritik juga diarahkan kepada tentara Malaysia karena gagal melacak pesawat Malaysia Airlines saat berputar balik dari Laut China Selatan menuju Kepulauan Andaman. Menanggapi itu, Shanmugam menyatakan Malaysia telah merespon dengan baik seluruh situasi.

"Saya pikir ada pasti ada kekurangan untuk bekerja sama. Tapi untuk melakukan sesuatu seperti ini kami juga butuh aset dan sumber daya yang cukup," lanjut Shanmugam.

Dia menambahkan, sebagian besar negara-negara di Asia Tenggara mengeposkan anggaran untuk kesehatan, pendidikan dan layanan publik. Namun, untuk penanganan bencana, tidak sebesar biaya yang dikeluarkan pemerintah China dan Jepang.

"Dari seluruh uang yang dimiliki sebagian disisihkan untuk melatih personel pasukan penanganan bencana, tapi tidak sebesar katakanlah Jepang dan China atau AS," tutupnya. [tyo]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini