Silang Pendapat Raja Salman dan Pangeran MBS Dikabarkan Kian Meruncing

Kamis, 7 Maret 2019 06:38 Reporter : Hari Ariyanti
Silang Pendapat Raja Salman dan Pangeran MBS Dikabarkan Kian Meruncing Raja Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud. AFP

Merdeka.com - Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud dikabarkan marah atas beberapa kebijakan terbaru yang dilakukan putranya sekaligus Putra Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman. Perbuatannya disebut telah melawan raja.

Sumber The Guardian menyampaikan, ada tanda-tanda keretakan yang berpotensi mengganggu kestabilan hubungan Raja Salman dan MBS. Keduanya tak sepaham atas sejumlah kebijakan penting menyangkut beberapa isu dalam beberapa pekan terakhir, termasuk Perang Yaman. Demikian dilansir dari laman The Guardian, Rabu (6/3).

Ketegangan ini dikabarkan meningkat sejak pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi di Turki, yang menurut laporan CIA disimpulkan atas perintah MBS. Namun, ketegangan-ketegangan ini meningkat secara dramatis pada akhir Februari ketika Raja Salman (83) mengunjungi Mesir dan diperingatkan para penasehatnya bahwa dia berada dalam bahaya karena ada gerakan yang berpotensi melakukan perlawanan terhadapnya. Demikian menurut sebuah laporan terperinci dari sebuah sumber.

Rombongan Raja Salman mewaspadai kemungkinan ancaman terhadap otoritasnya sehingga tim keamanan baru, yang terdiri dari lebih dari 30 loyalis pilihan dari Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi, diterbangkan ke Mesir untuk menggantikan tim sebelumnya. Langkah ini bagian dari respons cepat dan mencerminkan kekhawatiran adanya beberapa staf keamanan yang merupakan orang dekat MBS. Demikian diungkapkan seorang sumber.

Penasihat raja juga menolak personil keamanan Mesir yang menjaganya saat sedang berada di Mesir, sumber itu menambahkan. Sumber ini menekankan dugaan adanya friksi hubungan ayah-anak ini ketika MBS tidak ada di antara pejabat yang menyambut kepulangan Raja Salman.

Siaran pers resmi yang mencantumkan para tamu di bandara di Riyadh membenarkan MBS tidak ada di antara mereka, menambah spekulasi bahwa itu dimaksudkan sebagai penghinaan terhadap putra mahkota.

Putra mahkota, yang ditunjuk sebagai "wakil raja" selama perjalanan Raja Salman ke Mesir, seperti kebiasaan, menandatangani dua pergantian personel utama saat raja melakukan lawatan ke luar negeri, yaitu pengangkatan duta besar untuk AS, Puteri Reema binti Bandar bin Sultan, dan saudara lelaki MBS, Khalid bin Salman sebagai Menteri Pertahanan. Penunjukan yang terakhir nampaknya bertujuan memusatkan kekuasaan dalam satu keluarga.

Meskipun pergantian itu sempat diperdebatkan, sumber itu mengatakan pengumuman dibuat tanpa sepengetahuan raja, yang terutama marah karena menganggap pengangkatan Pangeran Khalid ke peran yang lebih besar itu prematur.

Mohammed bin Salman ©Bandar Algaloud/Courtesy of Saudi Royal Court/Handout via REUTERS

Pengangkatan yang dilakukan kerajaan hampir selalu diumumkan atas nama raja, tetapi dekrit 23 Februari ditandatangani MBS. Seorang pakar mengatakan gelar wakil raja tidak digunakan dengan cara ini selama beberapa dekade. Sumber ini mengatakan Raja Salman dan jajarannya mengetahui perombakan pejabat ini melalui televisi.

Raja Salman disebut telah berusaha memperbaiki citra buruk kerajaan karena kasus pembunuhan Khashoggi. Para pendukung raja mendorongnya agar lebih terlibat dalam pengambilan keputusan, untuk mencegah putra mahkota mengambil lebih banyak kekuasaan.

The Guardian telah meminta otoritas Arab Saudi menanggapi rumor ini pekan lalu.

Pada Senin, seorang juru bicara Kedutaan Arab Saudi di Washington mengatakan, "Sudah menjadi kebiasaan bagi Raja Arab Saudi untuk mengeluarkan perintah kerajaan yang mendelegasikan kekuasaan untuk mengatur urusan negara kepada wakilnya, putra mahkota, setiap kali dia bepergian ke luar negeri. Itu hal yang terjadi selama kunjungan terakhir Raja Salman ke Mesir. "

Dia mengatakan pengumuman itu dibuat MBS dalam kapasitasnya sebagai wakil raja dan atas nama raja. "Setiap tuduhan yang bertentangan tidak berdasar."

Juru bicara tersebut tidak menanggapi pertanyaan berulang tentang perubahan pada detail keamanan Raja Salman saat berada di Mesir. Dia juga tidak mengomentari pemecatan petugas keamanan ekstra di Mesir, yang disebut mencerminkan ketegangan Raja Salman dengan Presiden Mesir, Abdul Fattah al-Sisi. Baik pejabat Kementerian Luar Negeri Mesir maupun Juru Bicara Pusat Komunikasi Internasional Arab Saudi tidak menanggapi permintaan konfirmasi terkait isu ini.

Raja Salman dinasihati tidak membahas masalah ini dengan para pemimpin lain atau putranya sampai dia kembali ke negaranya.

MBS dikecam bulan lalu ketika berjalan di atas Kabah di Mekah, situs paling suci umat Islam. Aksi MBS itu membuat para ulama menyampaikan keluhan kepada raja yang menyatakan aksi MBS tersebut tidak pantas, menurut sumber terdekat.

Raja Salman dan MBS juga berselisih terkait masalah kebijakan luar negeri yang signifikan, kata sumber itu, termasuk penanganan tawanan perang di Yaman, dan tanggapan Saudi terhadap protes di Sudan dan Aljazair.

Raja tak setuju dengan pendekatan garis keras MBS untuk menekan protes. Sementara raja bukan seorang reformator, dan disebut mendukung liputan pers Saudi yang lebih bebas terkait protes di Aljazair.

"Ada tanda-tanda halus namun penting bahwa ada masalah di istana kerajaan," kata Bruce Riedel, Direktur Brookings Intelligence Project dan veteran CIA selama 30 tahun.

"Putra mahkota yang sehat diharapkan menyambut raja pulang dari perjalanan ke luar negeri, itu adalah tanda penghormatan dan kelangsungan pemerintahan. Keluarga kerajaan akan mengawasi dengan cermat apa artinya ini," lanjutnya.

Pengamat lain mengatakan mungkin saja situasinya disalahtafsirkan.

Analis Timur Tengah dan Afrika Utara Chatham House, Neil Quilliam mengatakan, jika MBS membuat keputusan mengangkat pejabat selama ayahnya tidak ada, itu sesuai dengan kebijakan yang disepakati untuk melakukan perubahan di Kedutaan Arab Saudi di Washington.

"Namun, itu akan menunjukkan keinginan Bin Salman (MBS) untuk terus maju dengan perubahan dan kemauan untuk menegaskan otoritasnya," kata Quilliam. "Kami telah melihat perbedaan antara keduanya, terutama pada masalah Yerusalem, tetapi MBS tidak mungkin menekan ayahnya, mengingat bahwa ia tetap bergantung pada dukungannya sebagai titik legitimasi."

Dia menambahkan, ketidakhadiran sang pangeran saat penjemputan ayahnya di bandara melanggar protokol kemungkinan karena ada sejumlah alasan.

MBS menghadapi kecaman internasional terkait kasus Khashoggi, yang dibunuh di dalam konsulat Saudi di Istanbul. Pemerintah Saudi membantah keterlibatan MBS yang oleh CIA disebut telah memerintahkan pembunuhan Khashoggi.

Temuan CIA tidak banyak berpengaruh pada pemerintahan Trump, yang menikmati hubungan dekat dengan Arab Saudi dan berupaya mengerdilkan kasus pembunuhan jurnalis Washington Post tersebut. [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini