Setelah 40 Tahun Iran Akhirnya Bolehkan Perempuan Nonton Sepak Bola di Stadion

Rabu, 9 Oktober 2019 16:59 Reporter : Merdeka
Setelah 40 Tahun Iran Akhirnya Bolehkan Perempuan Nonton Sepak Bola di Stadion Suporter perempuan Iran di Piala Dunia Rusia. Suporter perempuan Iran di Piala Dunia Rusia

Merdeka.com - Pemerintah Iran akhirnya membolehkan kaum perempuan menonton pertandingan sepak bola di stadion setelah badan sepak bola dunia FIFA mengancam akan memberi sanksi bagi Negeri Mullah itu.

Iran telah melarang penonton wanita menonton sepak bola di stadion selama sekitar 40 tahun. Para pemuka agama di sana berpendapat mereka harus dilindungi dari atmosfer maskulin dan pandangan pria semi-telanjang.

Badan sepak bola dunia FIFA bulan lalu memerintahkan Iran untuk mengizinkan wanita mengakses stadion tanpa batasan, dan dalam jumlah yang ditentukan oleh permintaan tiket.

Arahan itu muncul setelah seorang penggemar yang dijuluki Blue Girl atau Gadis Biru meninggal setelah membakar diri, karena takut dipenjara sebab berpakaian seperti laki-laki untuk menonton pertandingan.

Para perempuan Iran kemudian dengan cepat berburu tiket untuk menonton kualifikasi Piala Dunia 2022 Iran melawan Kamboja di Stadion Azadi Teheran, pada Kamis besok.

"Batch pertama terjual habis dalam waktu kurang dari satu jam, dan kursi tambahan juga terjual dalam waktu singkat," kata media pemerintah seperti dikutip dari Channel News Asia, Rabu (9/10).

Seorang pejabat Kementerian Olahraga mengatakan stadion berkapasitas 100.000 itu siap menampung lebih banyak wanita lagi.

Salah satu dari 3.500 wanita Iran yang mendapatkan tiket adalah Raha Poorbakhsh, seorang jurnalis sepakbola.

"Saya masih tidak percaya ini akan terjadi, karena setelah bertahun-tahun bekerja di bidang ini, menonton segala sesuatu di televisi, sekarang saya dapat mengalami semuanya secara langsung," katanya kepada AFP.

Poorbakhsh mengatakan, diperkirakan masih banyak wanita lain tanpa tiket dan akan datang dari tempat yang jauh seperti Ahvaz di selatan Iran. Mereka berharap masih bisa dapat tiket tambahan.

Menurut kantor berita Fars, mereka yang cukup beruntung untuk menonton pertandingan sepakbola di stadion akan dipisahkan dari pria. Selain itu juga diawasi oleh 150 petugas polisi wanita.

Orang-orang di jalan-jalan Teheran mengatakan mereka mendukung keputusan untuk mengizinkan wanita masuk ke stadion.

"Saya ingin ada kebebasan bagi perempuan, seperti laki-laki, untuk bebas dan bahkan duduk berdampingan tanpa batasan, seperti negara lain," kata seorang wanita yang hanya menyebut namanya sebagai Hasti.

Nader Fathi, yang menjalankan bisnis pakaian, mengatakan kehadiran wanita bisa meningkatkan dukungan di stadion. Namun dia mengatakan "mereka akan menyesalinya jika mereka jadi korban sumpah serapah dan perilaku buruk."

1 dari 2 halaman

Tragedi Gadis Biru

Perjalanan menuju akses gratis ke stadion bagi kaum wanita telah melewati serangkaian tragedi.

Sahar Khodayari meninggal bulan lalu setelah membakar dirinya di luar pengadilan karena takut dipenjara sebab menonton pertandingan.

Perempuan yang dijuluki "gadis biru" karena warna klub yang didukungnya, Esteghlal FC itu dilaporkan ditahan tahun lalu, ketika mencoba memasuki stadion dengan berpakaian seperti laki-laki.

Kematiannya memicu kemarahan, dan banyak yang meminta FIFA untuk memberi sanksi bagi Iran dan menyerukan penonton untuk memboikot pertandingan.

Kendati demikian ayah Khodayari mengatakan kepada kantor berita Mehr bahwa putrinya tak "mengorbankan" dirinya untuk alasan apa pun.

Menjelang Qatar 2022, Iran mendapat tekanan dari FIFA untuk mengizinkan wanita menghadiri putaran kualifikasi Piala Dunia ini.

Larangan perempuan di stadion memang tidak dituliskan dalam undang-undang atau peraturan, tetapi selama ini diberlakukan dengan ketat.

Sejak revolusi Islam 1979, wanita sulit memiliki akses ke stadion di Iran.

Pada bulan Oktober, sebanyak 100 wanita Iran "dipilih sendiri" memasuki Azadi untuk pertandingan persahabatan melawan Bolivia.

Tetapi sehari setelahnya, jaksa penuntut umum memperingatkan tidak akan ada pengulangan, dengan mengatakan itu akan "mengarah pada dosa".

2 dari 2 halaman

Warga Iran Terbelah

Kubu reformis menyambut keputusan untuk mengizinkan perempuan memasuki pertandingan hari Kamis, sementara kaum konservatif berpendapat bahwa sepak bola bukan prioritas bagi perempuan.

Koran keuangan Donya-e-Eqtesad menyebutnya "langkah untuk melemahkan tabu dan juga membebaskan sepak bola Iran dari hukuman FIFA".

Tetapi harian ultra-konservatif Keyhan mengatakan wanita lebih peduli tentang masalah ekonomi.

"Ada banyak gadis yang masih lajang dan di rumah, takut akan biaya pernikahan. Pemerintah harus memikirkan ini, tidak menyuruh mereka ke stadion," kata seorang ibu mengutip perkataan Keyhan.

Reporter: Tanti Yulianingsih

Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
Demo Berdarah di Irak, Benarkah Amerika Rencanakan Kudeta?
AS Akhirnya Keluarkan Visa untuk Presiden Iran Hadiri Sidang Tahunan PBB
Diancam AS Karena Tudingan Rudal Kilang Minyak, Iran Tak Gentar
Bersiap Perang dengan Iran, Sirene Menggema di Berbagai Kota Saudi
Miliuner ini Makin Kaya Rp28 T per Hari Karena Kilang Terbesar Dunia Diserang

[pan]
Topik berita Terkait:
  1. Iran
  2. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini