Hot Issue

Setahun Taliban Berkuasa, "Kadang Kami Bisa Makan Malam, Kadang Tidak"

Selasa, 16 Agustus 2022 07:07 Reporter : Hari Ariyanti
Setahun Taliban Berkuasa, "Kadang Kami Bisa Makan Malam, Kadang Tidak" Farahanaz, potret perempuan miskin Afghanistan yang keluarganya dilanda kelaparan. ©Al Jazeera (Supplied)

Merdeka.com - Pada siang hari yang terik, Shakeela Rahmati memulai perjalanan panjang dari rumahnya di lingkungan miskin di perbukitan di atas Kabul.

Sepanjang jalan, bergabung juga para perempuan lainnya. Mereka membutuhkan waktu tiga jam berjalan kaki untuk mencapai pusat kota. Perjalanan panjang rela mereka tempuh, didorong rasa lapar yang menggerogoti dan kebutuhan untuk memberi makan anak-anak mereka.

Tujuan mereka adalah toko roti, salah satu dari banyak toko roti di Kabul di mana kerumunan ibu-ibu mulai berkumpul di sore hari, dengan sabar menunggu pelanggan baik hati yang ingin menyedekahkan mereka roti.

"Kadang kami makan malam, kadang tidak," kata Rahmati, dikutip dari CNN, Senin (15/8).

"Situasinya buruk selama tiga tahun, tetapi tahun terakhir ini adalah yang terburuk. Suami saya mencoba pergi ke Iran untuk bekerja tetapi dia dideportasi."

PBB mengatakan hampir setengah penduduk Afghanistan menderita kelaparan akut. Laporan Komite Penyelamatan Internasional (IRC) pada Mei lalu menyatakan 43 persen populasi Afghanistan hanya mampu membeli bahan makanan untuk kurang dari satu kali makan dalam sehari, di mana 90 persen orang Afghanistan yang disurvei menyebutkan makanan adalah kebutuhan utama mereka.

Krisis di Afghanistan semakin parah sejak Taliban mengambil alih kekuasaan Agustus tahun lalu. Amerika Serikat (AS) dan negara Barat lainnya menjatuhkan sanksi untuk pemerintahan Taliban, membekukan dana bank sentral sebesar USD 9 miliar serta menghentikan penyaluran bantuan asing.

"Faktanya tetap bahwa Amerika Serikat sedang berusaha menemukan pembenaran moral untuk hukuman kolektif rakyat Afghanistan, dengan membekukan aset dan dengan memberlakukan sanksi di Afghanistan secara keseluruhan," kata juru bicara kementerian luar negeri Afghanistan, Abdul Qahar Balkhi kepada CNN.

"Saya tidak percaya ada persyaratan yang harus ditetapkan untuk pencairan dana yang bukan milik saya, yang bukan milik pemerintahan sebelumnya, yang bukan milik pemerintah sebelumnya. Ini kolektif uang rakyat Afghanistan."

Untuk mencegah memburuknya krisis pangan pada musim dingin lalu, AS melalui Bank Dunia menggelontorkan dana bantuan lebih dari USD1 miliar.

Di pasar-pasar di Kabul, kios-kios dipenuhi buah dan hasil bumi segar. Masalahnya, kata para pedagang, kebanyakan orang tidak mampu membelinya.

"Harga tepung naik dua kali lipat. Harga minyak goreng naik lebih dari dua kali lipat," kata seorang pedagang.

Beberapa meter jauhnya, seorang anak laki-laki memilah tempat sampah, mengumpulkan sampah plastik untuk dijual kembali.

2 dari 2 halaman

Berpotensi semakin parah

parah

Anthony Cordesman dari Pusat Studi Strategis dan Internasional di Washington mengatakan bantuan kemanusiaan tidak meningkatkan penghasilan warga dan tidak menciptakan lapangan kerja.

Cordesman memperingatkan penurunan ekonomi Afghanistan secara keseluruhan tidak dimulai dengan kembalinya Taliban ke tampuk kekuasaan, dan juga ketergantungan negara itu pada bantuan asing.

"Jika kita dapat menemukan cara untuk merundingkan proses bantuan yang efektif, di mana kita tahu uang itu akan diberikan kepada rakyat, di mana itu akan didistribusikan secara luas, di mana itu tidak hanya akan mendukung pemerintah Taliban, maka ini adalah inisiatif negosiasi yang harus kita kejar sekuat mungkin."

Saat malam, udara Kabul semakin dingin dan hari-hari berjalan semakin pendek. Muncul ketakutan di antara para pekerja kemanusiaan: musim dingin ini akan lebih buruk daripada yang terakhir. Semua orang khawatir krisis kemanusiaan semakin parah.

"Kami mengakui bahwa krisis kemanusiaan tetap serius dan mengerikan," pungkas seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS. [pan]

Baca juga:
Seperti Sri Lanka, 9 Negara Ini Juga Terancam Bangkrut
Pemimpin Tertinggi Taliban Pertama Kali Kunjungi Kabul untuk Kumpulkan Pemuka Agama
Mereka Bermewah-mewah di Dubai Saat Rakyat Sebangsa Setanah Air Menderita
Potret Korban Gempa di Afghanistan Jalani Hidup Sulit
Taliban Minta Barat Cairkan Aset Beku Setelah Gempa Mematikan Guncang Afghanistan

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini