Sesulit Itukah Trump Menerima Kekalahan?

Selasa, 10 November 2020 15:02 Reporter : Pandasurya Wijaya
Sesulit Itukah Trump Menerima Kekalahan? Donald Trump di Gedung Putih. ©2020 REUTERS/Carlos Barria

Merdeka.com - Dengan kekalahannya dalam pemilu Amerika Serikat tahun ini Donald Trump menjadi sosok yang selama ini kerap dia sematkan kepada para pesaingnya: pecundang.

Kubu Partai Republik kini tengah mengajukan gugatan hukum di sejumlah negara bagian yang persaingannya ketat, meski hingga kini para pengacara mereka masih belum memberikan bukti substansial tentang terjadinya kecurangan dan para pengamat menilai pengadilan bisa dengan mudah menolak gugatan mereka.

Di sisi lain sejumlah ahli kejiwaan dan akademisi memandang, naiknya Trump ke tampuk kekuasaan dengan sifatnya yang cenderung otoriter membuat dia hampir tidak mungkin menerima kekalahan secara elok dari pesaingnya, Joe Biden.

Situasi ini, menurut para ahli bisa membuat keadaan negeri selepas pemilu sebelum pelantikan Biden Januari nanti menjadi penuh kecemasan.

Dilansir dari AFP, Selasa (10/11), Ruth Ben-Ghiat, profesor sejarah dari Universitas New York mengatakan kepada AFP, Trump ingin menciptakan model kepemimpinan otoritarian dalam menjalankan kursi kepresidenan berdasarkan "arogansi, brutalitas, dan ide bahwa dia harus selalu dibela dari musuh-musuhnya."

"Sangat mudah untuk mengklaim pemilu ini seluruh prosesnya adalah kecurangan dibanding menerima kenyataan bahwa kebijakan dia membuat orang justru menentangnya dan itu sudah cukup untuk membuat dia kalah," ujar Ben-Ghiat yang akan meluncurkan buku barunya: "Strongmen: Mussolini to the Present."

Baca Selanjutnya: Ditinggalkan pendukung...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini