Serangan hotel di Mali jadi bahan debat pendukung Al Qaidah vs ISIS

Minggu, 22 November 2015 09:18 Reporter : Ardyan Mohamad
Serangan hotel di Mali jadi bahan debat pendukung Al Qaidah vs ISIS Insiden penyanderaan tamu hotel di Mali. ©2015 REUTERS/Joe Penney

Merdeka.com - Kelompok jihad Al Murabitun menyerang komplek hotel mewah di Ibu Kota Bamako, Mali, dua hari lalu. Dalam serangan berujung penyanderaan itu, 19 orang dilaporkan tewas, 13 korban adalah warga negara asing. Sejauh ini, tentara Mali berhasil menewaskan dua militan. Namun tiga pelaku yang menjadi otak serangan masih kabur. Sedangkan saksi mengatakan setidaknya lebih dari 10 orang menggunakan mobil menyerbu komplek hotel Radisson Blu yang berada di pusat bisnis ibu kota.

Otoritas keamanan Mali menggelar pencarian besar-besaran para pelaku yang berhasil kabur. Presiden Mali, Ibrahim Boubacar Keita, mencanangkan berkabung nasional tiga hari akibat serangan teror tersebut. Dia mengatakan sumber daya maksimal dikerahkan untuk menangkap para pelaku.

CNBC melaporkan, Minggu (22/11), dari pantauan lembaga antiteror, serangan di Mali menjadi sumber debat adu kuat sesama pendukung kelompok militan di Twitter. Pendukung ISIS meremehkan serangan Mali. Untuk diketahui, Kelompok Al Murabitun berbaiat pada Al Qaidah. Salah satu akun propaganda jihadis menuliskan, "Serangan Mali dilakukan sangat Rapi. Orang-orang Daulah Islamiyah (ISIS) seharusnya bisa belajar dari sana."

Satu akun lain milik pejuang Front Jabhat al-Nusra di Suriah, yang berseberangan dengan ISIS, memuji serangan Mali karena korban mayoritas 'orang kafir'. Saksi mengatakan para militan meminta tamu hotel membaca Al Quran, bila tidak bisa, mereka langsung dihabisi. "Begini seharusnya muslim melakukan perjuangannya," tulis akun pejuang Al-Nusra itu.

Serangan hotel di Mali berlangsung sangat terencana. Mobil mengangkut para militan merangsek masuk halaman parkir pukul 07.00 waktu setempat, membunuh dua penjaga keamanan. Mereka lalu memburu orang asing di dalam gedung. Setidaknya 80 tamu hotel sempat menjadi sandera, sebelum kemudian tentara Mali dibantu Pasukan Perdamaian PBB dan militer Prancis, berhasil merebut kembali hotel pada pukul 16.00.

Salah satu korban selamat, Skouba Diabate, mengaku mendengar para pelaku berkoordinasi memakai bahasa inggris. Dia saat itu sembunyi di bawah kasur, lalu mendengar dua pelaku menyisir setiap kamar sambil bercakap-cakap. "Saya mendengar mereka berbicara bahasa Inggris Did you load it?, Lets go."

Presiden Mali mengatakan insiden serangan hotel sebagai yang paling parah tahun ini di negaranya. Pemerintah Mali beberapa tahun terakhir berusaha membasmi pemberontak dengan ideologi Islamis di wilayah utara.

Pihak Kementerian Luar Negeri AS mengonfirmasi ada warganya yang turut tewas dalam kejadian ini. Korban tewas lain dari unsur asing adalah tiga pengusaha asal China, pejabat Belgia, serta enam warga Rusia. [ard]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini