Serangan Fajar Itu Menewaskan 154 Penduduk Desa di Mali

Minggu, 21 April 2019 07:34 Reporter : Pandasurya Wijaya
Serangan Fajar Itu Menewaskan 154 Penduduk Desa di Mali serangan di desa Mali. ©AFP

Merdeka.com - Matahari belum terbit sewaktu Ada Diallo sedang bersiap untuk menunaikan salat subuh ketika suara rentetan tembakan terdengar di desanya di Mali. Perempuan 55 tahun itu sontak bergegas menembus kegelapan menuju rumah tokoh spiritual di desanya.

Ketika tiba, di dalam rumah itu dia melihat sekitar 50 perempuan lain sedang berlindung seraya memanjatkan doa memohon keselamatan.

Diallo dan seluruh penduduk di desa itu terjebak di tengah konflik baru yang melanda negara di Afrika Barat itu. Dugaan keterlibatan kelompok ekstrem yang bergerak dari kawasan utara kini menghantui warga desa. Krisis keamanan ini kian serius hingga menyebabkan perdana menteri Mali Kamis lalu memutuskan mundur.

Serangan mematikan bulan lalu itu menewaskan sedikitnya 154 orang di desa tempat Diallo tinggal. Desa itu dihuni mayoritas etnis muslim Peuhl. Kelompok milisi dari etnis Dogon yang diduga menjadi dalang serangan itu menuding muslim Peuhl bersekongkol dengan kelompok ekstrem. Tuduhan itu sudah dibantah. Pemimpin milisi Dogon kemudian juga menyangkal melakukan serangan itu. Etnis Peuhl selama ini menuduh milisi Dogon bekerja sama dengan militer untuk menghabisi mereka.

Lima menit setelah dia ikut berlindung bersama kaum perempuan di rumah itu, Diallo mendengar suara para penyerang sudah di depan pintu.

"Mereka membuka jendela dan mulai menembaki siapa saja tanpa ampun," ujar Diallo, seperti dilansir laman the Associated Press, Sabtu (20/4). "Yang lainnya juga mencoba melubangi dinding rumah supaya bisa menembaki kami juga."

Situasi kian mencekam.

"Orang yang menembaki kami dari jendela kemudian melemparkan botol berisi minyak. Botol itu jatuh sekitar 3 meter dari saya," kata Diallo.

Di tengah ketakutan itu dia akhirnya bisa mengumpulkan kekuatan untuk berlari keluar lewat pintu. Sejurus kemudian terdengar ledakan dan rumah itu terbakar hebat.

Saat berlari panik Diallo masih bisa melihat mayat-mayat bergelimpangan di sekitarnya sampai dia akhirnya menemukan tempat perlindungan lagi.

"Saya bilang pada diri sendiri: 'Kalau kamu tetap di sini, kamu akan mati.' Jadi saya mengumpulkan keberanian dan memutuskan untuk lari lagi. Saya mendengar suara tembakan lagi lalu bersembunyi lagi. Kali ini saya bersembunyi di antara dua mayat laki-laki. Yang satu tewas karena dipenggal pisau dan satu lagi mati karena ditembak."

Diallo akhirnya menemukan tempat persembunyian yang sudah dikerumuni sekitar 20 perempuan terluka. Mereka lalu berhasil meneruskan perjalanan ke daerah terpencil. Sebagian dalam keadaan bertelanjang kaki.

Dari tempat mereka bersembunyi di dalam hutan, mereka melihat desa mereka dibakar selama lebih dari tiga jam.

Sekitar pukul 09.00 mereka melihat sejumlah kendaraan militer Mali tiba. Mereka kemudian menuju kembali ke desa. Sewaktu makin dekat dengan rumahnya, Diallo berlari mencari suaminya, Musa. Sudah sekian jam dia tidak melihat suaminya itu.

"Saat sampai di sana saya melihat mayat suami saya dan tetangga saya," kata dia. "Saya menangis sekuatnya. Dia orang tak bersalah. Orang tua yang tidak pernah menyakiti orang lain."

Penduduk desa yang selamat lalu menemukan KTP suami Diallo yang berlumuran darah. Mereka menyerahkan KTP itu kepada Diallo dan uang senilai Rp 120 ribu yang ditemukan di dompet suaminya.

"Kami tidak berbuat salah tapi lihatlah apa yang terjadi pada kami," ujar Diallo. Dia kini harus bergantung hidup dari bantuan lembaga kemanusiaan.

"Suami saya, 65 tahun, orang sudah tua, masih dibantai juga bersama yang lain seperti ayam. Saya kecewa pemerintah kami tidak berbuat apa-apa untuk melindungi kami." [pan]

Topik berita Terkait:
  1. Mali
  2. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini