Senjakala Facebook di Jagat Maya

Kamis, 7 Oktober 2021 07:17 Reporter : Hari Ariyanti
Senjakala Facebook di Jagat Maya Ilustrasi Facebook. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Laporan berseri The Wall Street Journal berjudul “The Facebook Files” yang berdasarkan hasil penelitian internal perusahaan raksasa media sosial itu telah mengungkap bukti yang memberatkan bahwa Facebook memiliki sistem peradilan dua tingkat, bahwa perusahaan ini tahu Instagram memperburuk masalah citra tubuh di kalangan anak perempuan dan masalah misinformasi vaksin, di antara masalah lainnya. Cukup mudah untuk berpikir bahwa Facebook sangat kuat, dan hanya dapat dikalahkan dengan intervensi pemerintah yang agresif.

Melalui laporan berseri itu kita juga bisa tahu bahwa Facebook dalam masalah.

Bukan masalah keuangan, atau masalah hukum, atau bahkan masalah senator yang mencecar Mark-Zuckerberg. Tetapi semacam perusahaan yang menuju sekarat. Ini adalah awan ketakutan eksistensial yang menggantung di atas perusahaan yang pernah melewati hari-hari baik, memengaruhi setiap prioritas manajerial dan keputusan produk dan mengarah pada upaya yang semakin putus asa untuk menemukan jalan keluar.

Penurunan semacam ini tidak selalu terlihat dari luar, tetapi orang dalam melihat ratusan tanda kecil yang menggelisahkan setiap hari, seperti meningkatnya peretasan pengguna, paranoia eksekutif, pengurangan bertahap pegawai berbakat.

Dalam sidang Senat pada Kamis, anggota parlemen menanyakan kepada Antigone Davis, kepala keamanan global Facebook, terkait desain produk adiktif perusahaan tersebut dan pengaruhnya terhadap miliaran penggunanya.

Dalam dokumen-dokumen Facebook yang bocor, yang dibagikan mantan manajer produk Facebook, Frances Haugen kepada The Wall Street Journal, mengungkapkan perusahaan itu khawatir kehilangan kekuatan dan pengaruh, tidak lagi mendapatkan pengaruh, di mana penelitian internal Facebook menunjukkan banyak produknya tidak berkembang secara organik. Sebaliknya, produk itu semakin meningkatkan citra buruknya dan mencegah pengguna meninggalkan aplikasinya demi alternatif yang lebih menarik.

Artikel The Wall Street Journal yang mulai terbit pekan lalu yang mengutip penelitian internal Facebook, mengungkapkan perusahaan itu telah menyusun strategi bagaimana memasarkan dirinya kepada anak-anak, mengacu pada praremaja atau ABG sebagai "audiens yang berharga tetapi belum dimanfaatkan."

Penggunaan Facebook di kalangan remaja di Amerika Serikat menurun selama bertahun-tahun, dan diperkirakan akan segera semakin merosot — peneliti internal memperkirakan penggunaan sehari-hari akan menurun 45 persen pada tahun 2023. Para peneliti juga mengungkapkan Instagram, yang pertumbuhannya mengimbangi penurunan minat terhadap Facebook kehilangan pangsa pasar karena pesaingnya TikTok mengalami pertumbuhan yang cepat, dan pengguna yang lebih muda tidak mengunggah konten sebanyak dulu.

“Facebook untuk orang tua” adalah vonis brutal yang disampaikan seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun kepada peneliti perusahaan, menurut dokumen internal.

2 dari 3 halaman

Sumber masalah

rev1

Sumber masalah Facebook ada dua: masalah yang disebabkan terlalu banyak pengguna, dan masalah yang disebabkan terlalu sedikit jenis pengguna yang diinginkan — penentu tren, anak muda yang didambakan pengiklan Amerika.

The Facebook Files berisi bukti dari kedua hal itu. Pertama, misalnya, melihat upaya perusahaan yang gagal untuk menghentikan aktivitas kriminal dan pelanggaran hak asasi manusia di negara berkembang — masalah yang diperburuk oleh kebiasaan Facebook untuk berekspansi ke negara-negara di mana ia memiliki sedikit karyawan dan sedikit ahli lokal. Tetapi masalah seperti itu dapat diperbaiki dengan sumber daya dan fokus yang cukup.

Jenis masalah kedua ketika pengguna meninggalkan platform Anda secara massal — adalah masalah yang membunuh Anda. Dan tampaknya itulah yang paling dikhawatirkan oleh para eksekutif Facebook.

Laporan tersebut mengungkapkan bagaimana keputusan Facebook tahun 2018 untuk mengubah algoritma Umpan Berita untuk menekankan "interaksi sosial yang bermakna" namun malah menghasilkan lonjakan kecaman dan kemarahan.

Perubahan algoritma disebut sebagai dorongan mulia untuk percakapan yang lebih sehat. Tetapi laporan internal mengungkapkan hal itu justru adalah upaya untuk mengatasi penurunan keterlibatan pengguna selama bertahun-tahun. Aktivitas suka (like), bagikan (share), dan komentar (comment) di platform tersebut turun. Para eksekutif mencoba mengatasinya dengan mengubah algoritma Umpan Berita (News Feed) untuk mempromosikan konten yang mengumpulkan banyak komentar dan reaksi, yang ternyata berarti, "konten yang membuat orang sangat marah."

"Melindungi komunitas kami lebih penting daripada memaksimalkan keuntungan kami," kata juru bicara Facebook, Joe Osborne, dikutip dari The New York Times, Rabu (6/10).

“Untuk mengatakan kami menutup mata terhadap masukan mengabaikan investasi ini, termasuk 40.000 orang yang bekerja pada keselamatan dan keamanan di Facebook dan investasi kami sebesar USD 13 miliar sejak 2016.”

3 dari 3 halaman

Kemunduran

senjakala facebook di jagat maya

Masih terlalu dini untuk menyatakan Facebook telah mati. Harga saham perusahaan ini meningkat hampir 30 persen pada tahun lalu, didorong pendapatan iklan yang kuat dan lonjakan penggunaan beberapa produk selama pandemi.

Facebook masih tumbuh di negara-negara di luar AS. Perusahaan ini juga memperluas investasi dalam inisiatif yang lebih baru, seperti produk augmented reality dan virtual reality, yang dapat mengubah keadaan jika berhasil.

Tetapi penelitian Facebook menceritakan hal yang tidak menyenangkan. Penggunanya yang lebih muda berbondong-bondong ke Snapchat dan TikTok, dan pengguna yang lebih tua mengunggah meme anti-vaksin dan berdebat tentang politik. Beberapa produk Facebook secara aktif menyusut, sementara yang lain hanya membuat penggunanya marah atau sadar diri.

Menurunnya relevansi Facebook dengan kaum muda tidak serta merta membuat para pengkritiknya optimis. Sejarah mengajarkan kita bahwa jejaring sosial jarang menua dengan anggun, dan perusahaan teknologi dapat melakukan banyak kerusakan saat sedang turun. Beberapa tahun ke depan Facebook bisa lebih buruk daripada beberapa tahun terakhir, terutama jika memutuskan untuk mengurangi penelitian internal dan upaya meningkatkan integritas setelah kebocoran dokumen ini.

Mungkin benar Facebook sedang mengalami kemunduran dan masih menjadi salah satu perusahaan paling berpengaruh dalam sejarah, dengan kemampuan untuk membentuk politik dan budaya di seluruh dunia.

Tetapi kita tidak boleh salah mengartikan sikap bertahan sebagai paranoia yang sehat, atau meragukan upaya nekat platform itu untuk menunjukkan kekuatan. [pan]

Baca juga:
Anggota Parlemen AS Minta Facebook Diselidiki terkait Pengakuan Mantan Karyawan
Mantan Karyawan: Facebook Merugikan Anak-anak dan Melemahkan Demokrasi
Selama WhatsApp Down Lebih dari 70 Juta Pengguna Baru Bergabung ke Telegram
Gara-gara Facebook Tumbang, Kekayaan Mark Zuckerberg Anjlok Rp 85,6 triliun
Mark Zuckerberg soal Facebook Down: Layanan Berangsur Normal, Kami Minta Maaf

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini