Selama 50 Tahun Pemberitaan Media AS Sangat Anti-Palestina dan Pro-Israel

Sabtu, 2 Februari 2019 07:26 Reporter : Hari Ariyanti
Selama 50 Tahun Pemberitaan Media AS Sangat Anti-Palestina dan Pro-Israel Pria berkursi roda ikut bentrok dengan tentar Israel. ©AFP PHOTO/MAHMUD HAMS

Merdeka.com - Sebuah kelompok riset internasional melakukan kajian terhadap media di Amerika Serikat untuk membuktikan media arus utama di AS sangat bias dalam pemberitaan terkait Palestina. Pemberitaan media AS sangat anti-Palestina dan pro-Israel. Ini diungkapkan oleh kajian yang dilakukan 416 Labs.

Penelitian 416 Labs mencakup pemberitaan media dalam periode 50 tahun, setelah Perang Enam Hari Juni 1967 dan awal pendudukan Israel atas Yerusalem Timur, Tepi Barat, dan Jalur Gaza di Palestina.

"Hasil (kajian) kami mendukung penelitian sebelumnya dan mengklaim bahwa liputan media arus utama AS tentang masalah ini menguntungkan Israel dengan memberikan akses yang lebih besar kepada para pejabat Israel, dengan fokus pada narasi Israel, baik dari segi jumlah liputan maupun sentimen secara keseluruhan, sebagaimana dilaporkan berita utama," jelas tim 416 Labs, seperti dilansir dari Middle East Monitor, Kamis (31/1).

Kajian tersebut juga menyimpulkan kegagalan mencapai perdamaian antara Israel dan Palestina sebagai akibat langsung bias media yang melindungi Israel dari kesalahan-kesalahannya, serta dukungan Washington yang tak tergoyahkan dan tanpa syarat bagi pemerintah Israel.

"Faktor utama penyebab konflik berkepanjangan karena dukungan tak bersyarat AS terhadap kelangsungan pemerintah Israel. AS juga membantu memperkuat keberadaan ilegal Israel di wilayah Palestina. Kemudian ini dibesar-besarkan media arus utama AS, yang menurut para kritikus yang menentang penjajahan itu, lebih menyukai narasi Israel daripada orang-orang Palestina," jelas kajian tersebut.

Dengan kata lain, apapun kejahatan yang dilakukan Israel, seperti pembunuhan, pelanggaran HAM, kejahatan perang, dan kejahatan kemanusiaan, media akan membuat propaganda untuk menghapus kesalahan Israel dan saat bersamaan akan melebih-lebihkan kelemahan Palestina.

Di negara seperti Amerika, di mana warganya memiliki wawasan terkait peristiwa teranyar di Timur Tengah maupun sejarah dunia Arab yang didapatkan dari televisi dan koran, bias media tetap diterima tanpa mempertanyakannya. Bagi warga Amerika, kebohongan pro-Israel dapat berubah menjadi kebenaran sementara kebenaran pro-Palestina menjadi sebuah kebohongan.

Di sanalah kemudian muncul masalah. Ketika warga AS dicuci otaknya oleh propaganda pro-Israel agar mempercayai kebohongan-kebohongan Negeri Bintang Daud, ini memiliki dampak langsung pada politikus yang merasa lebih mudah menghapus kejahatan perang Israel dan memperkenalkan undang-undang yang melanggar pilar konstitusi demokrasi AS.

Bentrokan di Jalur Gaza ©REUTERS/Mohammed Salem

Misalnya sebagaimana yang terjadi dalam pekan ini, pokok utama agenda Senat AS bukanlah undang-undang untuk mengatasi beberapa masalah paling penting yang dihadapi rakyat Amerika, seperti kelaparan dan tunawisma, pembunuhan dan kejahatan, ekonomi dan perawatan kesehatan. Namun hal pertama yang dibahas legislator adalah regulasi untuk menghukum warga negara Amerika yang menggunakan hak mereka untuk kebebasan berbicara dan mendukung boikot terhadap Israel. Dalam RUU Senat 1 Kongres ke-116, pada dasarnya melanggar amandemen pertama konstitusi yang menjamin setiap orang Amerika memiliki kebebasan berpendapat tanpa intimidasi atau demonisasi. Amandemen pertama itu berbunyi, "Kongres tidak akan membuat undang-undang mengenai keyakinan beragama atau larangan menjalankan keyakinan; atau membatasi kebebasan berbicara, atau pers; atau hak rakyat untuk berkumpul secara damai, dan mengajukan petisi kepada pemerintah untuk mengatasi keluhan."

"Membatasi kebebasan berbicara", dalam hal ini berarti ilegal bagi seseorang menentang pelanggaran hak asasi manusia Israel, pencurian tanah dan pembangunan permukiman khusus Yahudi di wilayah yang dicaplok; dan mencegah warga negara memboikot barang apa pun yang diproduksi oleh perusahaan yang mendapat manfaat dari kegiatan tersebut yang secara khusus dianggap ilegal berdasarkan hukum internasional.

RUU anti-BDS (Boikot, Divestasi, Sanksi) diharapkan dapat disetujui Senat yang dikontrol Republik dan kemudian diteruskan ke Kongres yang dikontrol Demokrat dan setelah disahkan, setiap orang Amerika yang mengkritik Israel dan memboikot negara dan produk yang mendukung negeri zionis itu dapat dituntut dan dihukum berat.

Doktrinasi media hampir selalu mendukung Israel dalam narasi liputannya. Inilah yang mendorong munculnya kondisi seperti saat ini. Hasilnya, menjadi lebih mudah bagi Israel mengangkat berbagai peristiwa sesuai versinya, membuatnya akan tampak baik, sementara citra Palestina diperburuk. Misalnya, penggantian kata "occupied (penjajahan)" dengan "disputed (pertikaian)" dalam pemberitaan terkait wilayah perbatasan di Tepi Barat dan Yerusalem.

Selain mengusulkan RUU anti-BDS, Kongres AS juga menyetujui miliaran dolar bantuan militer ke Israel setiap tahun. Sementara warga Amerika kehilangan tempat tinggal dan kelaparan, pemerintah mereka mendanai Israel setidaknya USD 3 miliar setiap tahun atau USD 8 juta sehari.

Bagaimana tanggapan media terhadap hal ini? Media menyembunyikan liputannya tentang Israel-Palestina di balik liputan profesional yang lebih obyektif tentang topik-topik lain. Media arus utama AS bisa jadi sangat bias dalam liputannya atas isu-isu Israel dan Palestina, tetapi berita itu diperkirakan hanya mewakili sekitar 5 persen dari total jumlah pemberitaan sekitar 95 persen. Begitulah cara media mempertahankan citranya sendiri sebagai profesi yang adil, berprinsip, dan akurat. Kondisi media arus utama AS yang seperti ini disebut sangat menyedihkan. [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini