Selain Bentrokan di Jalanan, Perang Informasi Memuncak di Venezuela

Sabtu, 4 Mei 2019 07:35 Reporter : Pandasurya Wijaya
Selain Bentrokan di Jalanan, Perang Informasi Memuncak di Venezuela Massa oposisi Juan Guaido dilempar gas air mata. ©2019 AFP Photo/Federico Parra

Merdeka.com - Sewaktu pemerintah Venezuela dan oposisi terlibat bentrok di jalanan Ibu Kota Caracas, perang lain juga sesungguhnya sedang terjadi: perang informasi di media sosial dan jaringan televisi.

Sejak Selasa lalu, ketika pemimpin oposisi Juan Guaido mengumumkan operasi fase terakhir untuk menggulingkan rezim Nicolas Maduro, pemerintah mulai memblokir akses warga ke media sosial dan kantor berita.

Twitter, YouTube, Periscope, Instagram, Facebook dan WhatsApp seluruhnya diblokir oleh penyedia jasa internet dari pemerintah, CANTV. Sebagian besar rakyat Venezuela memakai layanan CANTV untuk berselancar di dunia maya.

Dikutip dari laman CNN, Kamis (2/5), menurut pemantau jaringan internet Netblocks, akses ke media sosial itu kemudian dicabut ketika Maduro berpidato di televisi.

Guaido yang Januari lalu menyatakan diri sebagai presiden sementara, kerap memakai Twitter untuk menyampaikan pesan pengumuman guna menggulingkan Maduro. Rabu lalu pemimpin oposisi itu menulis di Twitter tentang daftar serangkaian titik kumpul massa untuk berunjuk rasa di hari kedua.

Menurut Netblocks, pemerintah Maduro selama ini memilah sejumlah situs dan media sosial yang diblokir dan penutupan akses Selasa lalu sejalan dengan gangguan yang kerap terjadi ketika Guaido muncul ke publik.

Begitu pula yang terjadi terhadap jaringan penyiaran. Pada 2017 pemerintah Venezuela memerintahkan perusahaan jasa penyedia layanan televisi kabel untuk mencabut penyiaran CCN Spanyol, termasuk BBC dan CNN yang sudah lebih dulu diblokir lantaran menayangkan demonstrasi.

AFP

Hingga Rabu pagi waktu setempat, saluran CNN masih belum diakses. Situs CNN berbahasa Spanyol yang kerap diblokir, Selasa lalu mengalami lonjakan pengunjung dari Venezuela.

Sebagian kantor media yang masih beroperasi di Venezuela adalah milik pemerintah atau di bawah tekanan pemerintah.

Meski demikian jaringan Internet masih bisa diakses melalui VPN atau situs lain yang lolos dari larangan sensor.

Sejumlah ahli mengatakan pembatasan akses ini adalah bagian dari perang informasi yang sudah berlangsung sejak lama di Venezuela.

Pengajar senior ekonomi politik di King'S College yang tinggal di Venezuela, Gabriel Leon, mengatakan kepada CNN, pemerintah sangat mengatur alur informasi kepada rakyat Venezuela yang lebih miskin karena di sanalah basis dukungan Maduro.

Pemerintah sosialis Maduro kurang menyoroti apa yang ditonton dan dibaca kaum kaya Venezuela karena pendukung Maduro bukan berada di lapisan itu.

"Mereka khawatir dengan rakyat di tempat-tempat kumuh yang sudah muak dengan pemerintahan sekarang tapi belum tergerak untuk berdemo karena mereka tidak bisa berbuat apa-apa mengingat jumlah mereka terlalu banyak dan para tentara yang mendukung Maduro berasal dari kalangan itu," ujar Leon.

Menurut Leon lagi, dengan tidak memblokir media sosial dan situs berita secara permanen, maka Maduro bisa mengklaim dirinya tidak bersifat diktator.

"Itu bisa membuat mereka mengaku tidak diktator karena orang-orang masih merasakan kebebasan di masa genting ini ketika kebebasan bisa berbalik menyerang mereka," kata dia.

Yang jadi andalan Maduro sebetulnya adalah dukungan stasiun radio dan pers tabloid, kata Leon. Selama ini kedua media itu cukup efektif dikendalikan pemerintah. [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini