Hot Issue

Sejarah Mengajarkan Tidak Mudah Mengatakan Pandemi Sudah Berakhir

Kamis, 14 Oktober 2021 08:47 Reporter : Pandasurya Wijaya
Sejarah Mengajarkan Tidak Mudah Mengatakan Pandemi Sudah Berakhir Bajaj Ambulans. ©2021 REUTERS/Adnan Abidi

Merdeka.com - Tulang-belulang tengkorak manusia berserakan di sebuah ladang tandus dan sejumlah manusia yang masih di hidup di sekitarnya tampak ketakutan. Pemandangan itu adalah gambaran dari sebuah lukisan abad ke-16 "The Triumph of Death" karya pelukis Belanda Pieter Bruegel the Elder yang menampilkan suasana ketika wabah pes melanda Eropa.

Menurut sejarawan, peristiwa itu sangat mengerikan hingga meski sudah berakhir sejak lama masih terngiang sampai sekarang.

Covid-19 memberikan dampak luar biasa pada kemanusiaan di abad ke-21 ini dan banyak orang bertanya kapan pandemi ini akan berakhir.

"Kita kerap menganggap pandemi dan epidemi sebagai suatu episode," kata Allan Brandt, sejarawan ilmu medis dan sains di Universitas Harvard, seperti dilansir laman the New York Times, Ahad (10/10). "Tapi kita hidup di masa Covid-19, bukan krisis Covid-19. Bakal ada banyak perubahan yang substansial dan permanen. Kita tidak akan menengok ke belakang dan mengatakan,'Itu masa yang kelam, tapi kini sudah berakhir.' Kita akan menghadapi berbagai dampak dari Covid-19 selama beberapa dasawarsa ke depan."

Di saat beberapa bulan sebelum varian Delta muncul dan menjadi dominan, pandemi tampaknya sudah akan berakhir.

"Ketika vaksin pertama kali muncul, kita mulai mendapat suntikan dan banyak di antara kita merasakan perubahan, baik secara fisik dan emosional," ujar Dr Jeremy Greene, sejarawan kedokteran di Sekolah Kedokteran Universitas Johns Hopkins. "Kita cenderung berharap bisa menerjemahkan hal itu sebagai,'pandemi sudah berakhir bagi saya.'"

"Itu hanya sebentuk khayalan," kata dia.

Dan sejatinya itulah pelajaran dari sejarah yang kerap kita lupakan, kata Frank Snowden, sejarawan kedokteran di Universitas Yale. Betapa sulitnya pergulatan untuk menyatakan suatu pandemi sudah berakhir.

Pandemi kemungkinan tidak bisa dikatakan berakhir ketika penyakit itu hilang, berdasarkan angka jumlah kasus dan kematian. Pandemi bisa jadi masih berlangsung ketika ekonomi mulai pulih dan kehidupan kembali ke normal. Dampak psikologis dari masa yang penuh kecemasan, isolasi, dan kematian yang menyedihkan tidak akan mudah untuk pudar.

Sejumlah penyakit, seperti pandemi flu 1918 akhirnya surut. Penyakit lain seperti pes, masih ada, H.I.V masih ada bersama kita tapi sudah ada obat dan perawatan yang menangani. Dalam setiap peristiwa pandemi, trauma yang dialami mereka yang terdampak akan terus ada meski kasus penularan dan kematian sudah surut.

Di sisi lain, Covid-19 membuat para ahli yang tadinya yakin bisa mengatasinya jadi mengabaikan pelajaran dari sejarah.

"Apa yang kita alami sekarang adalah lingkaran kecemasan bersama," kata Dr Greene--kecemasan yang tumbuh dari keputusasaan karena tidak mampu mengendalikan virus, kemarahan kepada mereka yang menolak untuk divaksin dan kekecewaan karena vaksin yang ada belum mengembalikan kehidupan seperti semula.

Kapan pun pandemi ini akan berakhir atau surut, Covid-19 telah mengubah pandangan orang tentang waktu.

"Pandemi seperti Covid-19 ini merusak anggapan bahwa ilmu kedokteran saat ini sudah sangat maju, bahwa segala penyakit bisa ditaklukkan," kata Dr Greene.

Seiring pandemi masih berlangsung, waktu kian mengabur dan berlalu pelan tanpa harapan akan usai.

Baca Selanjutnya: Di masa lalu seperti juga...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini