"Saya Tidak akan Tinggalkan Rumah Ini Kecuali Saya Mati"

Senin, 10 Mei 2021 07:58 Reporter : Pandasurya Wijaya
"Saya Tidak akan Tinggalkan Rumah Ini Kecuali Saya Mati" Ketegangan warga Palestina dan pemukim Yahudi Israel di Sheikh Jarrah. ©REUTERS/Ammar Awad

Merdeka.com - Sewaktu keluarga Samira Dajani pertama pindah ke rumah sebenarnya pada 1956 setelah bertahun-tahun jadi pengungsi, ayahnya menanam pohon di kebun dan menamai pohon-pohon itu dengan enam nama anaknya.

Hari ini, dua pohon pinus bernama Musa dan Daud berdiri tegak menjadi gerbang masuk ke kebun tempat mereka biasa bermain sewaktu bocah. Pohon bougenvil merah jambu tumbuh menaungi gapura besi pada jalan setapak yang dihiasi pohon jeruk dan lemon di rumah mereka yang dibangun dari batu sederhana.

"Pohon Samira itu tidak ada daunnya," kata Samira menunjuk pohon cemara yang diberi nama sesuai namanya. "Tapi akarnya kuat."

Samira dan suaminya beserta anak-anak mereka kini menghadapi kemungkinan harus meninggalkan rumah mereka pada 1 Agustus nanti. Pada saat itu Israel akan mengusir mereka setelah gugatan hukum yang berlangsung selama beberapa dasawarsa membuat mereka kalah di pengadilan dari para pemukim Yahudi.

Dilansir dari laman the Associated Press, Senin (10/5), keluarga Dajani adalah satu dari beberapa keluarga Palestina yang menghadapi pengusiran di kawasan Sheikh Jarrah sebelah timur Yerusalem. Apa yang mereka alami memicu demonstrasi dan bentrokan antara warga Palestina dan aparat Israel dalam beberapa hari belakangan.

Sejumlah kelompok pembela hak asasi manusia menyebut kasus ini juga menjadi bukti kebijakan diskriminatif yang bertujuan mengusir semua orang Palestina dari Yerusalem untuk membuat warga Yahudi menjadi mayoritas. Kelompok pembela HAM di Israel B'Tselem dan Human Right Watch yang bermarkas di New York menyebut kebijakan semacam ini sebagai contoh dari perlakuan rezim apartheid.

Israel menyangkal segala tuduhan semacam itu dan mengatakan kondisi di Sheikh Jarrah adalah murni sengketa properti yang membuat orang Palestina akhirnya membikin keributan. Kementerian Luar Negeri Israel tidak menjawab permintaan tanggapan dari the Associated Press. Pejabat kota dan perwakilan pemukim di Sheikh Jarrah tidak menjawab permintaan tanggapan.

Pihak pemukim mengatakan tanah itu milik orang Yahudi sebelum perang 1948 jelang berdirinya negara Israel. Undang-undang Israel membolehkan warga Yahudi merebut kembali tanah semacam itu tapi melarang warga Palestina mendapatkan kembali tanah mereka yang juga diambil alih semasa perang, meski mereka masih tinggal di wilayah yang dikuasai Israel.

Orangtua Samira Dajani mengungsi dari rumah mereka di Baka pada 1948--kini daerah itu menjadi kawasan elit di barat Yerusalem yang dihuni mayoritas warga Yahudi. Setelah bertahun-tahun menjadi pengungsi di Yordania, Suriah, dan Yerusalem timur yang kemudian dikelola oleh Yordania, otoritas Yordan menawarkan mereka sebuah rumah yang baru dibangun di Sheikh Jarrah sebagai pengganti status mereka dari pengungsi.

"Saya punya kenangan manis di rumah ini," kata Dajani, kini berusia 70 tahun, mengenang bagaimana dia bermain dengan teman-teman masa kecilnya di lingkungan itu. Sejumlah keluarga Palestina juga sudah menetap di kawasan itu. "Tempat ini semacam surga setelah kami tinggal di pengungsian."

Baca Selanjutnya: Semuanya berubah sejak 1967...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini