Sastrawan dunia Gabriel Marquez tutup usia

Jumat, 18 April 2014 10:20 Reporter : Ardyan Mohamad
Sastrawan dunia Gabriel Marquez tutup usia Gabriel García Márquez. ©2014 merdeka.com/lainfo.es

Merdeka.com - Sastrawan berpengaruh dunia asal Kolombia, Gabriel Garcia Marquez, wafat dalam usia 87. Kabar ini disampaikan juru bicara keluarga, Jumat (18/4), atau Kamis malam waktu setempat di Meksiko.

Penerima anugerah Nobel Sastra ini sejak 3 April lalu dirawat ke salah satu rumah sakit Ibu Kota Meksiko, Mexico City, akibat infeksi dan dehidrasi. Belakangan diketahui, dia juga mengidap pneumonia akut. Salah satu yang mengonfirmasi wafatnya Gabo, panggilan akrab Gabriel, adalah sepupunya Margarita Marquez. 

Seperti dilansir stasiun televisi CNN, Presiden Kolombia Juan Manuel Santos langsung menyatakan bela sungkawa, dan menetapkan tiga hari berkabung nasional, karena pria itu dianggap sebagai salah satu tokoh bangsa. "Raksasa sepertinya tak akan pernah mati," kata Santos melalui akun Twitter resminya.

Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama turut mengucapkan belasungkawa. Dia mengaku sangat tersentuh membaca novel Gabo paling terkenal, 'Seratus Tahun Kesunyian'. Obama mengaku mendapatkan buku itu langsung dari sang penulis saat mengunjungi Meksiko.

"Saya berharap karya Gabo bisa terus hidup dan menginspirasi  generasi-generasi berikutnya," kata presiden AS.

Gabo lahir di pantai utara Kolombia pada 6 Maret 1927. Sempat lama menekuni dunia jurnalistik pada periode perang dunia II, suami dari Mercedes Barcha Pardo ini mengalami kemiskinan di awal-awal berkeluarga. Walau tak punya cukup uang, Gabo nekat merampungkan novelnya pada 1955.  

Kesuksesan dan penghormatan baru menghampiri saat dia merampungkan Cien años de soledad (Seratus Tahun Kesunyian) pada 1967, yang meledak di seluruh dunia pada 1970. Penghargaan sastra Romulo Gallegos Prize dia raup. 

Novel tentang sejarah sebuah keluarga itu dianggap menjadi pembaharu cara tutur sastra, kerap disebut realisme magis. Berkat Gabo, penulis Amerika Latin lainnya diburu penerbit kondang Barat.

Berkat novel sukses lainnya, seperti 'Autumn of the Patriarch', serta sekumpulan cerita pendek dan novelet, Gabo dianugerahi penghargaan tertinggi dunia sastra, yakni hadiah Nobel, pada 1982.

Sepanjang hidupnya, Gabo tak cuma menulis, tapi sekaligus berpolitik, terutama menentang kapitalisme ala Barat. Dia akrab dengan pemimpin Kuba Fidel Castro maupun mendiang Presiden Venezuela Hugo Chavez yang berhaluan komunis. 

Walau disebut pelopor aliran sastra realisme magis, Gabo tak pernah menyukai sebutan tersebut. "Faktanya, semua kalimat di karya saya berpijak pada kenyataan," ujarnya saat diwawancara the Paris Review pada 1981.

 

 

Selamat jalan maestro!

[ard]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Obituari
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini