Saat Hamas Serang Israel pada Oktober 2023, Tentara Israel Bunuh Warganya Sendiri yang Sedang Sembunyi di Kamar
Laporan terbaru mengungkap pembunuhan warga sipil Israel oleh tentara Israel selama serangan Hamas pada Oktober 2023.
Laporan Channel 13 Israel pada Minggu mengungkapkan, tentara Israel membunuh warga sendiri bernama Tom Godo, pada 8 Oktober 2023, bertepatan dengan serangan Hamas ke Israel selatan. Godo dibunuh saat bersembunyi di rumahnya bersama istri dan tiga putrinya. Namun insiden ini telah ditutupi selama berbulan-bulan.
Seorang juru bicara Israel mengonfirmasi laporan tersebut,
"IDF (tentara penjajah Israel) menetapkan bahwa Tom Godo tampaknya terbunuh oleh tembakan IDF yang diarahkan ke pintu ruang aman," kata tentara tersebut, dikutip dari Middle East Eye, Selasa (13/5).
Istri Godo, Limor Havdala, menceritakan kepada Channel 13 kejadian yang menyebabkan kematian suaminya. Pada pukul 6.30 pagi tanggal 7 Oktober, keluarga Godo bergegas ke ruang aman mereka di kibbutz Kissufim, dekat perbatasan Gaza, setelah serangan yang dipimpin Hamas terhadap Israel dimulai.
Menurut Havdala, tentara tiba di rumah mereka hanya pada pukul 16.20. Ketika mereka pergi, para tentara berjanji bantuan personel yang lebih banyak sedang dalam perjalanan dan keluarganya akan dievakuasi oleh tentara.
Havdala mengatakan, pada siang hari, tentara berhasil mengevakuasi banyak penduduk kibbutz dengan selamat, tetapi tidak ada yang datang untuk menyelamatkan keluarganya. Kemudian pada malam hari, pasukan Israel tiba dan bertempur melawan pejuang Hamas.
Pada Minggu, 8 Oktober 2023 pukul 07.30, saat keluarga Godo masih bersembunyi di kamar, mereka mendengar ketukan di pintu dan seseorang meminta untuk membukanya. Godo menuju pintu dan bertanya siapa yang ada di sana. Sebagai tanggapan, tembakan dilepaskan ke ruang aman.
Havdala melarikan diri bersama ketiga putrinya melalui jendela ruang aman dan berlari melalui kibbutz hingga mereka bertemu dengan satuan tentara.
"Saya terkejut dengan apa yang terungkap dari penyelidikan," kata Havdala kepada Channel 13.
"Ternyata mereka yang membunuh Tom adalah tentara IDF," katanya.
"Karena alasan yang tidak dijelaskan kepada saya, (para tentara) memutuskan bahwa ada teroris di ruang aman."
Menurut keterangan militer yang disampaikan kepada istri Godo, tentara Israel mendengar suara-suara berbahasa Arab yang berasal dari ruang aman keluarga tersebut.
Havdala mengatakan bahwa ia diberi tahu bahwa tentara tersebut "mendengar teriakan seorang gadis, dan kemudian pasukan memutuskan bahwa ada situasi penyanderaan di dalam ruang aman tersebut".
Penyelidikan Independen
Keluarga Godo menuntut penyelidikan independen dan transparan atas insiden ini. Mereka berharap penyelidikan tersebut dapat mengungkap seluruh fakta, mengidentifikasi pihak-pihak yang bertanggung jawab. Keluarga meminta tidak hanya "penembakan terhadap apa yang diidentifikasi oleh IDF sebagai sandera" untuk diselidiki tetapi juga "penutupan informasi selama satu setengah tahun".
"Bagaimana saya bisa hidup di negara di mana badan yang dipercayakan untuk menjaga keamanan saya tidak mau memeriksa dirinya sendiri dengan benar," kata Havdala.
Dalam kasus Godo, tentara menolak menyerahkan berkas tersebut ke Divisi Investigasi Kriminal Polisi Militer, unit tentara yang bertanggung jawab untuk menyelidiki kejahatan yang dilakukan oleh tentara.
Menurut Channel 13, tentara yang membunuh Godo tahu, setelah mereka memasuki ruang aman, bahwa mereka telah membunuh seorang warga sipil Israel, tetapi informasi tersebut tidak diungkapkan kepada keluarganya sampai bulan lalu.
Menurut Havdala, keterlambatan dalam memberikan informasi "melipatgandakan rasa kegagalan dan ketidakpedulian terhadap kehidupan manusia".